
Fauzi mendorong kuat tubuh Lisna ke tembok. Dia yang tersulut emosi cemburu membabi buta sampai dia tidak bisa mengendalikan amarahnya hingga menampar Lisna berkali kali.
"Selama ini aku kira kamu benar benar sabar dan menerima aku setulus hati, ternyata kamu hanya berpura pura. Jujur saja Lis, kamu bertahan dengan suami pengangguranmu ini, karena ada berondong kaya yang memberikan kamu uang, kan?"
Fauzi mencekik kuat leher Lisna hingga membuat Lisna kesulitan bernapas. Dia tidak berontak sama sekali, tapi dia berusaha mengatakan sesuatu meski terbata bata.
"Aku tidak pernah selingkuh, mas. Dia Elang, anak tante Nita."
Mendengar ucapan Lisna barusan membuat tangan Fauzi melemah. Lisna menggunakan kesempatan itu untuk mengungkapkan apa yang ingin dia ungkapkan pada suaminya itu. Dan mungkin ini yang terakhir kalinya.
"Aku tidak berpura pura sabar, mas. Aku sungguh bahagia bisa hidup bersama kamu, mas. Aku mencintaimu, mas. Aku bertahan meski mas tidak pernah memberiku nafkah lahir, karena aku berharap dengan begitu mas akan membalas cintaku. Aku tahu, sejak awal menikah mas masih mengingat Wulan, mas masih mencintai Wulan."
Tangan Fauzi menjauh dari Lisna. Dan memar sudah mulai terlihat di pipi, ujung mata dan hidung Lisna bahkan mengeluarkan darah.
Lisna menangis, bukan karena rasa sakit pukulan yang Fauzi berikan. Tapi, Lisna menangis karena merasa dirinya begitu tidak berarti dihidup suaminya.
"Apa pernah sekali saja mas menganggap aku sebagai istri? Apa pernah mas?" Air mata menetes semakin deras dari pelupuk mata Lisna.
"Sebenarnya apa tujuan mas menikahi aku? Apa yang mas ingin pertahankan dari istri yang tidak bisa memberi mas keturunan ini. Jawab, mas."
Fauzi tidak berkutik. Dia hanya diam masih berjongkok di hadapan Lisna, tapi dia tidak berani menatap wajah Lisna yang penuh memar akibat ulahnya.
"Lepaskan aku mas, aku mohon."
Kata kata itu berhasil membuat Fauzi menatap wajah sedih Istri pertamanya itu.
"Maafkan aku, Lis. Aku suami yang tidak tahu diri. Aku jahat sama kamu, Lis." Fauzi meraih tubuh Lisna masuk kedalam pelukannya.
"Aku sengaja menikahi kamu karena aku kira aku bisa melupakan Wulan dengan adanya kamu. Tapi, hatiku tidak bisa melupakan Wulan, Lis. Aku yang jahat, aku yang brengsek. Aku mohon, beri aku kesempatan sekali lagi untuk bertanggung jawab sama kamu sebagai suami yang sesungguhnya Lisna."
Mendengar penuturan Fauzi membuat Lisna semakin menangis dan merasa sakit luar biasa. Dia tidak mengerti mengapa Fauzi masih mempertahankannya padahal dia sudah mendapatkan cintanya kembali bahkan sudah akan menjadi seorang ayah seperti yang dia impi impikan selama ini.
"Terimakasih sudah memberiku tempat tinggal, pakaian dan makanan mas. Terimakasih sudah memberiku kasih sayang semu selama tujuh tahun terakhir, ini."
"Tidak Lisna. Jangan katakan itu. Aku mohon, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku mohon, Lis."
__ADS_1
Lisna melepaskan diri dari pelukan Fauzi. Ditatapnya wajah suami yang sangat dicintainya itu, bulir bening kembali menetes lagi di pipinya.
"Lisna. Aku minta maaf." Fauzi bersujud di kaki Lisna. Tapi dengan cepat Lisna menjauhkan kakinya dari jangkauan Fauzi.
"Lepaskan aku mas. Ceraikan aku."
Fauzi bangkit dari sujudnya. Dia mendongak menatap Lisna yang berdiri dihadapannya. Air mata Lisna menetes tepat mengenai hidung Fauzi. Lisna tidak menyadari itu karena dia tidak mau menatap wajah Fauzi sama sekali.
"Aku pastikan ini adalah air mata terakhirku sebagai istri pertama kamu, mas Fauzi." Ujarnya sambil menghapus sisa air mata dipipinya.
"Jika mas tidak mau menceraikan aku secara baik baik. Aku yang akan menggugat Kamu mas."
Setelah mengatakan itu, Lisna melangkah meninggalkan Fauzi yang masih terduduk di lantai tanpa melakukan apapun untuk mencegah Lisna lagi.
Saat Lisna membuka pintu kamar, rupanya Wulan berdiri disana. Dia sejak tadi menguping pembicaraan mereka.
"Semoga kamu bahagia bersama mas Fauzi, Wulan. Kamu pasti puas kan, telah memfitnahku berselingkuh?"
"Ya tentu saja aku puas, mbak. Terlebih akhirnya kalian bercerai." Jawab Wulan merasa menang.
Wulan hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum mengejek Lisna. Dia tidak mengindahkan apa yang dikatakan Lisna.
"Selamat tinggal madu ku. Semoga kamu bahagia dengan berondong kaya raya itu."
Wulan melambaikan tangan mengiringi kepergian Lisna yang pergi tanpa membawa serta pakiaannya. Dia hanya membawa pakaian yang ada di badannya, handphone dan tas ranselnya yang berisi semua keperluan kantornya. Selebihnya Lisna tinggalkan di rumah itu.
Bukan maksud untuk meninggalkan pakaiannya, hanya saja dia terlalu muak berlama lama di kamar itu bersama Fauzi. Yang Lisna pikirkan hanya ingin segera pergi dari rumah itu secepat mungkin.
Saat Lisna tiba di depan pintu utama, langkahnya terhenti telinganya mendengar suara gadis kecil memanggilnya.
"Ibu… ibu mau kemana!"
Lisna menoleh, ditatapnya gadis kecil itu berlari kearahnya dan bik Siti mengikuti dibelakangnya.
"Ibu mau kemana?"
__ADS_1
Gadis kecil itu sudah tiba di dekat Lisna. Mata Lisna yang sudah tidak mengeluarkan air lagi, hanya menatap datar wajah gadis kecil tidak berdosa itu.
"Bukankah kamu tinggal di rumah nenekmu?" Kalimat itu yang terucap dari mulut Lisna.
"Iya." Jawabnya singkat dengan terus mendongak menatap wajah datar Lisna.
"Non Queen tiba tadi pagi, nyonya. Katanya dia sangat merindukan nyonya Lisna." Siti menjelaskan membuat Lisna tersentuh.
Perlahan dia berjongkok untuk bisa menatap wajah kecil itu. Lisna tersenyum padanya. Membuat gadis kecil itu juga ikut tersenyum.
"Maukah si cantik ini memeluk ibu?" Tanya Lisna.
Tanpa perlu menunggu lama, Queen langsung memeluk Lisna.
"Terimakasih karena Queen mau memeluk ibu." Lisna mengusak lembut kepala gadis kecil itu.
"Aku lindu mau main sama ibu lagi."
"Untuk saat ini ibu tidak bisa main sama Queen. Ibu harus pergi bekerja."
"Kalau begitu aku ikut ibu ke tempat kelja."
Lisna tidak menanggapi, dia hanya memberikan ciuman di kening gadis kecil itu. Lalu dia melepaskan pelukan itu.
"Jadilah anak yang baik untuk mama sama papa. Jangan membantah mama sama papa. Dan ibu janji, saat ibu tidak kerja, ibu akan membawa Queen jalan jalan lagi."
"Ibu janji?" Queen mengulurkan kelingkingnya pada Lisna.
"Janji."
Mereka membuat janji kelingking dan menguncinya. Queen benar benar bahagia dan percaya kalau ibu-nya akan menepati janji untuk mengajaknya jalan jalan nanti saat tidak bekerja. Padahal Lisna hanya sekedar menghibur gadis kecil yang baik hati itu. Rasanya Lisna tidak tega untuk mengabaikan putri dari istri kedua suaminya.
"Ibu pergi dulu. Bye!"
"Dada ibu.."
__ADS_1
Lisna melangkah keluar dari rumah itu. Bik Siti dan Queen mengira Lisna benar benar pergi untuk bekerja dan akan segera kembali lagi. Padahal Lisna pergi untuk selamanya dan tidak akan kembali lagi ke rumah itu selamanya.