
Lion dan Dio satu SMA. Lio kelas dua SMA, sementara Dio baru kelas satu.
Dua kakak beradik itu sangat populer disekolah. Bukan hanya karena mereka anak orang kaya, tapi karena mereka tampan, hobi olahraga, ramah dan juga sopan santun.
Teman teman kak Lio juga merupakan teman Dio. Mereka selalu kemana mana berdua. Bahkan kalau main basket atau futsal pun mereka akan satu tim.
"Kak, nanti jam istirahat gue nggak ke kantin." Ujar Dio memberitahu kakaknya.
"Loh kenapa?"
"Malas aja kak. Lagian makanan di kantin itu itu aja."
"Terus kamu mau makan apa? Nanti kelaparan loh."
"Kan gue bawa roti." Dio memperlihatkan roti isi selai di dalam kantong kecil tas ranselnya.
"Ya sudah, nanti gue ke kantin sama teman teman."
Dio tersenyum senang. "Yes misik gue berhasil!" teriak Dio dalam hatinya.
Mereka terus melangkah hingga tiba di kelas. Dio yang lebih dulu tiba di kelasnya karena ruang kelasnya ada di lantai dasar. Sementara kelas kakak Lio ada di lantai atas.
"Belajar yang benar, kak. Jangan tidur mulu dalam kelas." Ujar Dio menjaili kakaknya.
__ADS_1
"Ye.. elo kali yang tiduran di kelas." Balas kakak Al kesal.
Dio hanya tersenyum saja menanggapi wajah kesal kakaknya. Menjahili kakak Lio adalah kebahagiaan bagi Dio. Rasanya hidup Dio hambar kalau seharian tidak membuat kakak Lio kesal.
"Pagi Dio." Sapa Bianca. Primadona di kelasnya.
"Pagi Bianca cantik calon kakak ipar gue." Sambut Dio ramah pada teman sekelasnya itu.
"Gimana, misi loe berhasil kagak?"
"Jelas berhasil dong. Gue gitu loh. Mana duit gue..." Tagihnya pada Bianca.
"Nih. Dasar mata duitan." Rutuk Bianca.
Dio pun juga ikut masuk. Duduk di kursi paling depan. Dio anak teladan, peringkat satu di kelasnya. Dia cerdas, pintar dan juga si tukang jail. Justru karena kejailannya, dia disukai hampir semua teman sekelasnya, bahkan anak anak kelas lainpun juga senang padanya.
Circle pertemanannya jauh lebih luas dari kakak Lio. Bahkan teman sekelas kakak Lio saja banyak yang akrab sama Dio ketimbang sama Lio. Berkat Dio juga, akhirnya Lio yang misterius, pendiam dan dingin menjadi pribadi yang berangsur ramah pada teman teman di sekolahnya.
Jam pelajaran dimulai. Dio fokus mengikuti pelajaran dengan baik seperti biasanya. Sementara itu, tanpa Dio sadari ada sepasang mata menatap sinis punggungnya. Dia seorang cowok teman sekelas Dio yang duduk di kursi paling belakang di bagian sudut kelas.
Cowok itu, Asep. Si paling nakal, tukang rundung dan juga sering bolos. Pokoknya si Asep mah perangainya tidak sebagus namanya.
Dia sudah sangat membenci Dio sejak awal mengetahui Dio anak dari orang terpandang. Sudah sejak lama Asep ingin menjadikan Dio sebagai bahan perundungan, tapi karena Dio selalu bermain bersama kakak dan teman teman kakaknya Asep jadi tidak punya kesempatan untuk mengganggu Dio dan menakut nakutinya.
__ADS_1
Si Asep ini sangat membenci anak anak orang kaya. Baginya mereka cuma anak manja yang tidak berguna.
Ding...
dong...
Akhirnya bel istirahat berbunyi. Pelajaran pun selesai. Semua siswa berhamburan keluar kelas untuk nenuju kantin ataupun ke toilet.
"Bi, semoga berhasil!" Teriak Dio pada Bianca.
"Gue pasti berhasil.." Sahut Bianca dengan wajah sumringah keluar dari kelas menuju kantin untuk menemui Lio cowok incarannya.
Bianca meminta bantuan Dio untuk bisa berduaan ke kantin hari ini dengan Lio. Makanya, Dio tidak ikut ke kantin. Dio juga sudah mengurus teman teman kakak Lio agar tidak ikut ke kantin hari ini. Alhasil, kakak Lio yang tidak sempat sarapan di rumah pagi tadi, harus tetap ke kantin untuk mengisi perutnya yang keroncongan..
Nah Bianca akan datang untuk menemani kakak Lio agar tidak canggung makan di kantin sendirian.
Namun, saat tiba di kantin mata Bianca menangkap sosok Lio yang sedang duduk berdua menikmati makan siangnya dengan Ruhi, cewek cantik yang sering di ceng cengi oleh teman temannya Lio.
"Ternyata tipe cewek kak Lio seperti Ruhi." gumam Bianca sedih.
Dia terdiam sebentar, lalu membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan kantin. Dia tidak jadi makan, karena hatinya terlalu sakit untuk melihat Lio makan berdua dengan Ruhi.
Namun, tanpa Bianca sadari, Lio menatap punggung Bianca dengan perasaan kecewa. "Bianca, kenapa dia tidak jadi ke kantin. Ah gue bahkan belum melihat wajah imutnya hari ini." Bisik Lio dalam hatinya. Dia kecewa karena tidak bisa melihat wajah Bianca cewek imut cinta pertamanya.
__ADS_1
Sebenarnya, Lio juga punya rasa yang sama untuk Bianca, sejak Bianca baru masuk ke sekolah ini. Hanya saja, dia tidak punya keberanian untuk mendekati Bianca lebih dulu. Terlebih Bianca satu kelas dengan Dio dan juga Dio tampak sangat dekat dengan Bianca. Lio takut, kalau kalau ternyata Dio juga suka pada Bianca.