Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama
BONUS 3 (Kak Lio punya pacar)


__ADS_3

"Jadi, gue bantuan Bianca buat bisa makan siang sama kakak di kantin. Kalau berhasil gue di kasih duit sama Bianca." Dio menjelaskan pada kakaknya.


"Loe jadiin gue taruhan?" Lio tampak kesal.


"Bukan gitu maksudnya kak. Cuma gue kasihan aja sama Bianca. Tu cewek udah lama banget suka sama kakak, tapi kagak punya kesempatan buat bisa dekat sama kakak. Makanya gue tawari bantuan."


"Bianca suka sama gue?"


Dio mengangguk yakin, tapi kemudian lehernya terasa sakit.


"Jangan banyak bergerak dulu. Jadi tambah sakit, kan?" Lio mengomeli adiknya itu.


Saat bersamaan, Bianca masuk ke uks. Tentu saja kedatangan Bianca membuat Lio dan Dio menatap padanya.


"Hai, kak Lio." Sapa Bianca malu malu.


"Hai." Jawab Lio singkat. Dia salah tingkah dan tidak berani menatap Bianca, terlebih saat tahu kenyataan bahwa Bianca juga menyukainya.


"Gue kagak disapa?" Protes Dio.


"Loe nggak apa apa? Apa lukanya parah?" Tanya Bianca pada Dio.


"Ya seperti ini. Seperti yang loe lihat."


Bianca tersenyum lega. Karena melihat Dio tidak terluka terlalu parah. Buktinya Dio masih bisa bicara dengan baik.


Suasana mendadak hening, itu membuat Dio berpikiran usil.


"Oh iya, Bi. Kak Lio mau ngobrol sama loe. Mau ada yang dia ungkapkan katanya."


Mata Lio melotot menatap pada adiknya itu yang tiba tiba ngomong begitu.


"Kak Lio mau ngomong apa?" Tanya Bianca.


Lio tampak ragu dan bingung. Dia menatap wajah Dio yang tersenyum menggodanya.

__ADS_1


"Udah kak ngomong aja. Tuh kalian bisa nyudut bentaran di sana." Tunjuk Dio kearah sudut uks.


"Mmm, boleh aku ngomong berdua saja sama kamu?" Tanya Lio pada akhirnya yang digoda oleh Dio dengan sengaja pura pura batuk.


Dio bisa saja membuat dua sejoli itu saling malu malu salah tingkah.


Meski begitu, mereka melangkah sedikit menjauh dari Dio. Tapi masih di dalam ruangan yang sama dengan Dio dan Dio juga masih bisa melihat dan mendengar mereka dengan jelas kok. Jadi aman, karena mereka tidak berduaan saja tapi bertiga dengan Dio.


"Bianca. Aku tidak bisa ngomong basa basi. Jadi aku langsung to the point aja ya."


Bianca mengangguk paham. Hatinya deg deg sir, takut Lio malah akan menyatakan penolakan padanya. Sementara Lio sendiri juga deg deg sir, takut apa yang dikatakan Dio hanya kebohongan. Bisa saja kan Dio hanya usil, sengaja menggodanya lagi.


"Aku sebenarnya suka sama kamu." Ucap Lio tegas sambil menatap mata Bianca yang juga menatap matanya dengan canggung.


"Aa-aku juga suka sama kak Lio." Jawab Bianca langsung.


Jawaban Bianca membuat Lio senang. Dia bahkan langsung menggenggam erat kedua tangan Bianca.


"Berarti mulai saat ini kita pacaran."


Dio hanya bisa mendengus saja menyaksikan adegan romantis sejoli SMA yang baru saja jadian itu.


"Ciee ciee, kakak Lio punya pacar sekarang." Goda Dio membuat Lio dan Bianca tersadar, mereka tidak hanya berdua saja di ruangan itu.


Setelah mereka resmi jadian, akhirnya Bianca kembali ke kelas. Sementara Lio masih harus menemani Dio di uks.


Tidak henti hentinya Dio menggoda kakaknya yang baru jadian. Itu membuat Lio malu dan juga kesal. Bahkan dia ingin memukul Dio tapi tidak bisa, karena seluruh tubuh adiknya itu sedang terluka.


Tidak terasa akhirnya, jam pulang pun tiba. Lio memapah Dio menuju mobil. Sebelum pulang, dia sempatkan menghampiri Bianca.


"Aku pulang duluan ya, kak." Bianca melambaikan tangannya saat mobilnya mulai melaju.


"Sampai bertemu besok, Bi." sahut Lio pada kekasihnya itu yang sudah tidak tampak lagi oleh matanya.


Lio pun kembali ke mobilnya. Supir sudah mulai menjalankan mobil setelah pak supir itu mendapat penjelasan tentang keadaan anak majikannya itu yang babak belur.

__ADS_1


Dalam mobil, Lio terpikir untuk menanyakan sesuatu tentang Bianca pada Dio.


"Loe serius kagak menaruh hati pada Bianca?" Selidik Lio.


Sebentar Dio terdiam. Dia pun berencana mengusili kakak Lio.


"Mmm, sebenarnya aku suka. Tapi, mau bagaimana, Biancanya suka sama kakak dan kakak juga suka sama dia. Jadi ya aku meng…"


"Loe ngalah demi gue?" Potong Lio melanjutkan ucapan Dio.


"Udahla kak, nggak usah dibahas. Toh sekarang kalian juga sudah jadian."


"Gue akan putusin Bianca besok. Gue kagak mau punya pacar yang juga disukai sama loe."


Melihat wajah serius bercampur sedih sang kakak, membuat Dio tidak tahan untuk tertawa. Dan akhirnya tawanya menggelegar hingga dia merasa perutnya sakit.


"Kak Lio serius amat. Bianca bukan tipe gue kali."


"Loe serius dong. Jangan bikin gue merasa bersalah."


"Gue serius kak. Tipe gue itu yang kayak mama. Cewek lemah lembut."


"Maksud lo Bianca bukan cewek yang lemah lembut?"


"Iyalah. Bianca itu lembut cuma di depan kakak aja. Aslinya dia ceplas ceplos, suka ngomel dan petakilan. Iiih ogah gue punya cewek kayak dia."


"Enak banget tu mulut ngatai cewek gue. Awas aja loe kalau udah sembuh gue pukul juga loe." Celoteh Lio kesal.


"Gue aduin mama lah. Ma, kakak Lio mau mukul aku karena aku ngatai pacaranya.." Dio mencontohkan cara dia mengadu pada mamanya.


Tentu itu semakin membuat Lio kesal dan berakhir menjitak pelan puncak kepala Dio.


"Aawkk sakitt!" Dio pura pura meringis kesakitan.


Melihat adiknya kesakitan, Lio pun mengelus lembut kepala Dio dengan perasaan khawatir. Dio tersenyum puas, karena kak Lio mudah sekali di tipu dan di usili olehnya.

__ADS_1


__ADS_2