Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama
Kepergian dan lamaran


__ADS_3

Elang benar benar menepati janjinya pada Lisna. Dia memperlakukan Lisna dengan baik. Elang selalu berusaha mengikuti apa yang Lisna sukai dan mencoba untuk tidak melakukan apapun yang tidak disukai Lisna.


Sejauh ini hubungan mereka memang bertambah semakin dekat. Meski memang Lisna masih belum yakin dengan hatinya sendiri.


Hari Lisna ikut Elang ke rumah sakit menjenguk Erwin yang sudah dua hari ini dirawat dengan kondisinya yang semakin memburuk.


"Abang."


Elang memeluk Erwin memberikan sedikit semangat untuk kakaknya itu.


"El, jaga Lisna ya." Ucap Erwin yang membuat Luna, Sultan, Elang dan Lisna merasa terharu.


"Abang sudah ikhlas kalau Lisna harus menjadi istri El. Abang akan merasa tenang, jika El yang menjaga Lisna setelah nanti abang pergi." Lanjutnya.


"Abang tidak usah khawatir. Aku akan menjaga Lisna dengan baik. Aku akan membuat Lisna bahagia. Abang harus cempat sembuh, supaya nanti bisa melihat aku sama Lisna menikah."


Erwin tersenyum menatap kearah Lisna yang sejak tadi hanya bisa diam saja.


"Lisna. Jangan takut untuk memulai lagi. Elang, mama dan papa akan menerima kamu dengan tulus." Ujar Erwin pada Lisna.


"Maafkan aku, bang Erwin. Aku jahat.." Ucap Lisna merasa tidak enak karena menolak perasaan Erwin.


"Jangan merasa bersalah, Lisna. Lagi pula, kamu benar.. cinta tidak bisa dipaksakan. Cinta juga tidak bisa memilih pada hati mana dia akan tertambat."


Lisna mendakati Erwin. Diraihnya tangan Lisna oleh Erwin, lalu disatukannya dengan tangan Elang.


"Kalian harus hidup bahagia. Kamu harus percaya Lisna. Elang akan menjaga kamu dengan baik. Jangan membohongi hatimu, Lisna. Abang tahu, kamu juga menyukai Elang. Abang tahu, kamu hanya takut kejadian masa lalu terulang kembali, bukan? Jangan takut, karena Elang berbeda dengan laki laki yang telah menyakiti kamu di masa lalu."


Luna menangis melihat betapa Erwin mengatakan itu dengan tulus. Padahal Luna tahu Erwin sangat mencintai Lisna dan kinginan terakhirnya untuk menikahi Lisna. Tapi, saat berhadapan dengan Lisna, dia justru melepaskan Lisna untuk adiknya.


Tidak lama setelah itu Erwin benar benar telah pergi. Dia meninggalkan dunia ini setidaknya dengan perasaan lega, karena bisa melihat wanita yang dicintainya untuk terakhir kalinya.

__ADS_1


"Erwin!"


Luna meraung histeris, dia belum bisa menerima kenyataan bahwa putra pertamanya telah tiada. Sultan berusaha menenangkan istrinya itu, sementara Elang hanya menangis dalam diam sambil menggengam erat tangan kakaknya.


"Selamat tinggal abang. Semoga abang bahagia disisi Allah. Maafkan aku abang. Maafkan aku."


Lisna hanya bisa mengelus pelan pundak Elang untuk membuatnya sedikit lebig sabar.


Kehilangan orang yang dicintai sangat tidak mudah. Lisna bahkan sempat tidak sadarkan diri sampai tiga hari saat kedua ornagtua dan kakaknya meninggal. Beruntung saja, hari itu ada Elang dan Luna yang menemaninya.


"Tante, yang sabar ya.." Lisna memeluk Luna yang menatap sambil menangis padanya.


"Maafkan abang Erwin ya, Lis. Abang Erwin yang menyebabkan kedua orangtua dan kakak kamu meninggal."


"Sudahlah tante, aku sudah melupakan semua itu. Jangan mengungkitnya lagi. Kita doakan saja abang Erwin agat titempatkan disisi Allah."


Luna masih menangis terisak dalam pelukan Lisna. Dia merasa separuh hatinya pergi.


"Bagaimana kamu masih bisa bertahan sejauh ini, Lisna. Kamu ditinggalkan sekaligus waktu itu. Sementara aku yang hanya ditinggalkan satu putraku saja sudah membuat dadaku terasa sesak. Rasanya aku tidak mampu menghadapi ini semua."


"Sabar tante. Tante pasti bisa melewati semua ini. Ada om dan juga Elang yang akan menemani tante. Tante masih punya mereka yang sayang sama tante. Aku juga akan menemani tante, aku tidak akan meninggalkan tante."


Dua tahun kemudian.


Bukan sebentar waktu yang diberikan Elang pada Lisna untuk menata kembali hatinya. Hingga akhirnya malam ini Elang dengan beraninya melamar Lisna dihadapan kedua orangtuanya.


Kini mereka tengah makan malam bersama. Luna dan Sultan sudah tahu bahwa Elang akan melamar Lisna. Tapi, Lisna tidak tahu sama sekali. Dia hanya merasa makan malam ini makan malam biasa bersama keluarga.


"Lisna, maukah kamu menikah denganku?"


Elang tiba tiba berlutut dihadapan Lisna dengan mengulurkan cincin berpermata biru.

__ADS_1


Lisna tampak bingung. Dia melirik bergantian pada Luna dan Sultan yang tersenyum manis padanya.


"Aku janji tidak akan ada yang berubah dari hidupmu meski nanti kita telah menikah sekalipun. Aku tidak akan mengekangmu, aku tidak akan memaksamu dan aku tidak akan mempermasalahkan apakah nanti kita akan punya anak atau tidak punya anak sekalipun, aku tidak peduli. Yang aku inginkan adalah kamu untuk menemani aku hingga sisa hidupku bersama denganmu."


Pidato panjang Elang membuat Lisna terharu. Air matanya menetes tanpa permisi. Dan pada akhirnya dia mengangguk setuju menerima lamaran Elang.


"Ya, aku mau menemani kamu hingga akhir hidupmu, El. Bahkan mari kita terus bersama sampai dikehidupan setelah kita mati."


Elang sangat bahagia. Segera dia memasangkan cincin di jari manis Lisna. Dia bahkan hampir memeluk Lisna jika saja Lisna tidak mendorong tubuhnya menjauh.


"Jangan memelukku. Belum halal." Ujar Lisna tersenyum haru.


Luna dan Sultan ikut bahagia menyaksikan kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh Elang dan Lisna.


"Selamat ya sayang. Semoga kalian hidup bahagia selamanya." Luna memberi pelukan hangat pada Lisna.


"Terimakasih karena tante mau menerima aku sebagai menantu. Meski tante tahu mungkin aku tidak akan pernah memberikan tante seorang cucu."


"Jangan berburuk sangka, sayang. Siapa tahu Allah akan memberi kebahagiaan berlipat ganda padamu. Lagi pula, mau ada atau tidak ada cucu, tante akan tetap bahagia selamanya. Begitu juga dengan kamu harus selalu bahagia."


Luna memeluk Lisna penuh kasih sayang, membuat Lisna merasa dirinya dicintai dan diinginkan. Bukan hanya sekedar mencintai dan berharap dicintai balik. Kali ini benar benar kasih sayang yang tulus dari orang orang yang juga tulus mencintainya.


Malam itu sungguh malam yang tidak akan terlupakan oleh Lisna. Malam dimana dia dilamar oleh Elang, pria yang begitu sabar menunggunya, begitu sabar mencintainya dan selalu meyakinkan bahwa dia sangat mencintai Lisna. Elang telah membuktikan janjinya. Dia tidak pernah menyulitkan Lisna sedikitpun.


"Aku mencintaimu Elang!" Seru Lisna saat mereka hanya tinggal berdua.


"Aku sangat mencintaimu, Lisna. InsyaAllah, aku akan selalu berusaha untuk membuatmu bahagia bersamaku."


Tatapan Elang sangat dalam menatap kedua bola mata Lisna yang masih berkaca kaca.


"Kita akan menikah sebulan lagi. Kamu harus persiapkan dirimu dengan baik. Jangan terlalu memikirkan hal hal yang tidak penting, oke!" Ujar Elang mengingatkan pada calon istrinya itu yang masih suka overthinking.

__ADS_1


"InsyaAllah, aku akan mempersiapkan diri dengan sesiap siapnya kali ini. Walaupun aku tidak punya cukup uang untuk biaya pernikahan…"


"Tentang biaya pernikahan bukan urusan kamu, sayang. Biarkan aku yang mengurus semua itu." Ucap Elang memotong kalimat Lisna barusan.


__ADS_2