
Lisna menelpon Mirna. Dia bilang dia sudah memutuskan untuk meninggalkan suami dan keluarganya.
Mirna menunggu Lisna di depan gerbang rumahnya. Saat melihat motor Lisna mendekat, Mirna sudah menangis duluan. Entah mengapa dia merasa sedih untuk Lisna.
"Lisna."
Tangan Mirna terbuka lebar untuk memeluk Lisna yang baru turun dari motornya.
"Mbak, aku minta cerai dari mas Fauzi. Dia menuduhku selingkuh, dia juga memukulku tanpa memberi kesempatan aku untuk menjelaskan." Adu Lisna sambil menangis dalam pelukan Mirna.
"Sayang, ajak Lisna masuk dulu. Jangan mengobrol diluar."
Itu suara suami Mirna, Reza.
"Iya mas." Sahut Mirna.
"Lis, ayok masuk dulu. Nanti cerita semuanya di dalam ya."
Lisna pun menurut, dia menyapu air matanya dan ikut masuk bersama Mirna.
Reza dan Mirna menyambut dengan baik kedatangan Mirna. Mereka juga mendengarkan semua cerita Lisna tentang suaminya dan mama mertuanya selama tujuh tahun pernikahan. Ditambah dengan kehadiran Wulan yang membuat Lisna benar benar diabaikan oleh suami dan keluarga suaminya itu.
Reza selaku pengacara mencoba menenangkan Lisna dan menawarkan bantuan secara cuma cuma untuk Lisna mengurus gugatan perceraianya pada Fauzi. Tapi sebelum Lisna menjawab, notif pesan masuk ke handphonennya.
Mas Fauzi:
#Maafkan aku Lisna. Jika memang kamu ingin bercerai, maka aku ceraikan kamu mulai saat ini. Jangan khawatir, aku sendiri yang akan mengurus semua biaya perceraian kita. Terimakasih sudah menemani aku selama tujuh tahun terakhir. Kamu tetap menjadi istri terbaik untukku.
Pesan WA dari Fauzi. Air mata Lisna jatuh lagi saat membaca isi pesan pernyataan bahwa dia benar benar telah diceraikan.
"Mbak, apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Mirna memeluk Lisna lagi. Dia mencoba membiarkan Lisna menangis sepuasnya dalam pelukannya.
"Sudahlah Lisna. Jangan terlalu berlarut menangisi laki laki tidak berguna seperti Fauzi. Kamu bisa mendapatkan laki laki yang jauh lebih baik dari Fauzi. Percayalah, Lisna. Allah memberikan ujian seperti ini sama kamu, karena hanya kamu yang mampu melewati ujian ini. Jadi, percayalah masih banyak hal baik diluar sana yang menantimu." Nasihat Reza pada sahabat istrinya itu.
"Terimakasih mas Reza."
Lisna mencoba untuk berhenti menangis meski rasanya sulit. Hatinya sangat terluka menerima kenyataan bahwa kini dirinya sudah berstatus sebagai janda yang dicerai karena tidak punya anak.
Saat Lisna masih menangis tersedu dipelukan Mirna. Handphone miliknya berdering. Panggilan masuk dari Fauzi suaminya.
"Lisna, Fauzi menelponmu." Ujar Reza yang melihat layar handphone Lisna.
"Haruskah aku jawab, mbak?" Tanya Lisna tidak yakin.
"Jawab saja. Dengarkan apa yang ingin dia sampaikan." Sahut Reza menyarankan.
Lisna pun menjawab panggilan itu dengan mengaktifkan mode loadspeaker.
__ADS_1
"Lisna, kamu dimana?" Terdengar suara serak Fauzi.
"Ada apa lagi, mas? Bukankah mas sudah menceraikan aku.."
"Aku tahu aku sudah menjatuhkan talak satu padamu. Tapi, apa tidak bisa kamu memberiku kesempatan sekali lagi untuk menjadi suamimu Lisna?" Fauzi memohon mohon untuk diberi kesempatan lagi oleh Lisna.
"Maaf, mas. Semuanya sudah berakhir. Aku tidak akan kembali menoleh kebelakang. Kini saatnya aku menatap terus kedepan. Semoga kamu bahagia bersama Wulan. Jangan hubungi aku lagi, mas."
Lisna menutup panggilan itu. Padahal di kamarnya Fauzi masih memanggil manggil nama Lisna. Dia masih ingin bicara pada Lisna. Sayangnya, Lisna sudah tidak mau hanya sekedar mendengar suaranya saja sudah malas.
*
*
*
Mirna mengobati luka di hidung Lisna dan juga memberikan kompres di pipi dan sudut mata Lisna yang memar akibat ulah laki laki brengsek seperti Fauzi.
"Lis, tinggallah sementara di sini. Mas Reza mengizinkan, kok." Bujuk Mirna.
"Tidak mbak. Aku harus pergi. Aku butuh waktu untuk sendiri, aku mau menenangkan diri sejenak dari hiruk pikuk dunia. Aku juga akan mengundurkan diri dari pekerjaan."
"Kamu yakin, Lisna?"
"Aku yakin mbak."
Mirna menghela napas. Setuju tidak setuju dia harus tetap support wanita kuat itu.
"Insya Allah, mbak."
Setelah pembicaraan itu, Mirna dan Reza mengantar Lisna sampai di depan rumah. Mereka bahkan menunggu sampai Lisna benar benar menghilang dari pandangan mereka.
"Apa Lisna memberitahu mau tinggal dimana?" Tanya Reza.
"Tidak sama sekali, mas."
"Apa yang ingin dilakukannya."
"Semoga Lisna baik baik saja."
"Ya semoga dia akan selalu baik baik saja."
Reza pun merangkul istrinya untuk kembali masuk ke rumah mereka saat mata mereka sudah tidak bisa melihat Lisna yang sudah pergi mengendarai motor metiknya.
Tujuannya ternyata ke tempat dokter Yumna. Lisna menemui wanita baik keibuan itu yang membuatnya merasa nyaman menceritakan semua keluh kesahnya.
Lisna disambut baik oleh Yumna.
"Selamat datang kembali, nak Lisna." Yumna memeluk Lisna.
__ADS_1
"Terimakasih masih mengingatku, ibu."
"Tentu sayang. Ibu tidak pernah melupakan orang orang yang pernah datang untuk berbagi kisah mereka pada ibu."
Yumna mengajak Lisna untuk duduk di sofa yang sama waktu Lisna datang ke sini kemarin.
"Cerita apa lagi kali ini?"
Yumna mengatakan itu sambil menggamit asistennya untuk membawakan minuman ke ruangannya.
"Aku sudah bercerai dengan suamiku."
"Oh benarkah? Secepat ini?"
Lisna mengangguk.
"Dia memukulmu, nak?" Tanya Yumna hati hati takut salah mengira, tapi dia yakin memar di wajah Lisna akibat di pukul dengan tangan oleh suaminya.
Lisna mengangguk membenarkan apa yang ditanyakan Yumna barusan.
"Astaga. Pasti rasanya menyakitkan, disini." Yumna menunjuk arah tempat hati Lisna berada.
"Sakit sekali, bu." Jawab Lisna sambil tersenyum getir. Dia sudah tidak bisa menangis, karena air mata itu sudah kering, mungkin.
"Kamu hebat, Lisna. Kamu kuat, nak. Kamu berani meninggalkan suami yang berani main tangan.."
"Dia mengira aku selingkuh, bu. Istri keduanya mengatakan pada suamiku itu bahwa aku selingkuh dan dia percaya omongan wanita itu."
"Istri kedua?"
Yumna belum tahu kalau Lisna dipoligami. Karena cerita Lisna waktu itu belum sampai ke bagian ini.
"Aku di poligami karena tidak bisa hamil setelah menikah selama tujuh tahun, bu. Mama mertuaku memaksa suamiku menikah lagi. Ternyata wanita yang dinikahi suamiku adalah mantan pacaranya yang belum bisa dia lupakan bahkan selama menjalani pernikahan denganku."
Lisna bercerita panjang lebar dengan pembawaan tenang, seakan dia memang sudah ikhlas dengan takdir yang harus dijalaninya.
Yumna mendekat. Dipeluknya Lisna dengan pelukan hangat.
"Kamu hebat, nak. Kamu sudah melakukan yang tebaik. Kamu berhasil meninggalkan orang orang yang toksik itu. Kamu hebat." Puji Yumna.
Lisna satu satunya pasien yang datang padanya bercerita tentang rumah tangganya tanpa menangis meraung raung. Lisna juga tidak menyudutkan suaminya dan mama mertuanya lebih dari sekedar memberitahu bahwa mereka berbuat buruk padanya.
Tidak ada drama yang diceritakan Lisna. Dia hanya bercerita sekali lewat, menyampaikan fakta yang membuatnya harus meninggalkan orang orang yang tidak menganggap kehadirannya selama ini.
"Bolehkah aku bekerja di sini, bu?" Tanya Lisna kemudian.
Yumna tampak bingung mendengar pertanyaan Lisna.
"Aku tidak menuntut gaji, bu. Cukup izinkan aku tidur disini. Maka aku akan mengerjakan pekerjaan apapun yang ibu minta. Aku sudah tidak punya tempat untuk kembali." Jelas Lisna.
__ADS_1
"Baiklah. Kamu ibu angkat menjadi asisten ibu."
Yumna mengulurkan tanganya pada Lisna untuk membuat kesepakatan bahwa mereka telah saling setuju dengan syarat yang Lisna ajukan barusan.