Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama
Fitnah


__ADS_3

Dinner pertama di London.


Tadinya Elang sudah memesan restoran untuk mereka makan malam romantis. Tapi Lisna malah minta untuk makan malam di kamar saja dengan alasan malas keluar. Mau tidak mau Elang mengikuti kemauan istrinya itu.


"Kamu marah ya?" Gumam Lisna merasa bersalah.


"Tidak sayang. Aku hanya tidak habis pikir, mengapa kamu memilih untuk tetap di kamar padahal kamu punya kesempatan untuk melihat keindahan malam di luar sana."


"Aku bisa melihat dari sini." tunjuknya kearah luar dibalik tembok kaca kamar mereka.


"Iya benar. Tapi diluar sana pemandangannya lebih indah lagi, sayangku." Elang memeluk Lisna dari belakang, dia melingkarkan kedua tangannya di pundak Lisna sambil mengecup puncak kepala Lisna.


"Aku hanya ingin melihat pemandangan indah ini sambil berpelukan sepeti ini. Aku ingin selalu berada dalam pelukan suamiku." Ujar Lisna.


"Aku mengerti sayang."


Elang menggendong Lisna, membawanya duduk di pangkuannya. Lalu Elang mulai menyuapi Lisna makan malam mereka yang sudah disiapkan oleh pihak hotel.

__ADS_1


Usai menyantap makan malam sambil saling suap suapan, mereka akhirnya berbaring santai diatas ranjang. Elang berbaring dengan sedikit bersandar pada sandaran ranjang, sementara Lisna berbaring menyender padanya.


"Mas, andai suatu saat nanti Allah mengizinkan aku untuk bisa mengandung, mas mau anak pertama kita apa?" tanya Lisna antusias ingin mendengar jawaban suaminya.


"Mmm, apapun itu mau cowok atau cewek aku suka. Selama, kamu dan anak kita nanti sehat."


"Huh, sayangnya itu hanya khayalan." Gumam Lisna merasa ucapannya hanya sekedar angin lalu.


"Sayang tidak boleh berprasangka buruk pada Allah. Siapa tahu sepulang dari sini, Allah langsung menghadiahkan janin dalam rahim sayang."


"Itu hanya keinginan kamu mas. Jangan terlalu berharap. Aku tidak punya rahim yang subur seperti kebanyakan wanita. Aku hanya wanita yang memiliki masalah dengan rahimku…"


Ciuman itu semakin dalam, dan mereka berakhir melakukan itu lagi di malam yang indah itu.


Waktu terus berlalu. Hari hari yang dilalui Elang dan Lisna di London sungguh membuat mereka merasa bahagia. Tidak ada beban pikiran apapun yang mengganggu. Mereka hanya menghabiskan hari untuk terus bermain dan menikmati indahnya suasana di London.


Sementara itu, Disti mulai menghadiri sidang pertamanya. Dia dengan lantangnya mengatakan bahwa malam itu Elang memaksanya untuk tidur bersama meski Disti menolak. Disti juga memperdengarkan suara milik Elang saat Elang mengancam Disti untuk menghentikan kasus ini sebelum Elang membunuhnya.

__ADS_1


Suara yang diperdengarkan Disti adalah suara tipuan yang sengaja disiapkan untuk mendukung aktingnya. Sementara Elang dan Lisna tidak pernah peduli dengan pemberitaan itu.


Hari ini Disti hadir lagi dalam sidang ke dua. Namun dari pihak Elang tidak ada satupun yang hadir. Dan di hari ini Disti membawa surat hasil tes dna calon bayinya yang dinyatakan sah cocok dengan Elang.


Berita itu sungguh menghebohkan jagat raya. Sementara keluarga Elang hanya diam tanpa mau memberikan statmen apapun sesuai yang diperintahkan Lisna dan Elang.


Disti tidak mundur. Dia terus menyusun skenario terbaiknya untuk membuat Elang dinyatakan sebagai ayah dari anaknya. Sampai sampai Disti mengatakan bahwa Lisna itu mandul dan Elang frustasi karena mengetahui kenyataan itu, karena hal itulah Elang memperkosanya malam itu.


Sampai pada titik ini, Elang sudah tidak bisa diam saja. Dia pun akhirnya meminta bantuan temannya yang bekerja di bagian kepolisian dan kejaksaan. Elang memberikan data datanya terkait laporan Disti saat kejadian pemerkosaan seperti yang Disti laporkan.


"Besok kita kembali ke Jakarta sayang. Aku harus menghentikan semua fitnah ini." Ucap Elang pada Lisna.


"Maafkan aku ya mas. Gara gara menikah dengan aku, mas harus terseret kasus seperti ini."


"Bukan karena kamu sayang. Memang dasarnya Disti saja yang sudah tidak waras."


Elang memeluk erat Lisna. Yang bisa dia lalukan hanya terus membuat istrinya itu tetap percaya padanya. Dia benar benar takut Lisna terhasut oleh omongan Disti.

__ADS_1


"Jangan terpengaruh dengan omongan orang lain sayang. Demi Allah bayi yang di kandung Disti bukan bayiku. Aku tidak pernah melakukan itu dengannya bahkan dalam keadaan tidak sadar sekalipun juga tidak pernah."


Lisna hanya diam dalam pelukan suaminya. Dia tahu dan dia percaya seutuhnya pada suaminya tanpa ada keraguan sedikitpun. Karena diam diam Lisna juga menghubungi istri dari pria yang telah menghamili Disti. Wanita itu bersedia hadir bersama suaminya untuk memberikan kesaksian di sidang berikutnya.


__ADS_2