Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama
Sekolah


__ADS_3

Dua tahun kemudian.


Emilio, atau kakak Lio kini sudah berusia lima tahun. Evandio, atau kakak Dio sudah berusia empat tahun dan adik Eskai sudah berusia tiga tahun. Mereka sangat menggemaskan dan mulai terlihat siapa yang lebih aktif dan siapa yang malas malasan.


Kakak Lio sangat suka main bola, tapi selalu di usilin sama Dio. Bukan usil juga sebenarnya. Dio ingin bermain bola bersama kakaknya, tapi Lio tidak suka main sana Dio karena Dio suka menangkap bola dengan tangannya bukan menendang bola. Sementara si bungsu lebih suka bermain sendiri ketimbang ikut bermain sama kakak kakaknya.


"Dio tendang bolanya jangan ditangkap!" Teriak Lio kesal karena sejak tadi Dio menangkap bola yang harusnya dia tendang.


"Ambil saja sendiri tuh bolanya. Wwweekkkk."


Dio melempar bola ke dalam kolam renang, lalu dia lari masuk ke rumah sambil menjulurkan lidahnya pada kakaknya.


"Iih dasar Dio jelekkkk!" Pekik Lio emosi.


"Kak Lio cengeng.." Balas Dio dari dalam rumah.


Lisna hanya bisa menggelengkan kepala melihat kedua putranya yang kadang suka saling mengusili. Sementara si bungsu sejak tadi tetap anteng bermain tanah dan air, tanpa memperdulikan kakak kakaknya.


Hari ini hari pertama Lio masuk sekolah TK. Berangkat dari rumah diantar oleh mama papa dan adik adik. Lio sangat bahagia. Tapi, begitu tiba di sekolah, Lio malah tidak mau ditinggal. Dia maunya mama dan papa ikut masuk ke kelas menemaninya sekolah.

__ADS_1


"Mama temani aku." Rengeknya.


"Kakak masuk kelas dulu, mama sama papa tunggu di sini ya!" Lisna mencoba membujuk Lio.


"Eug…tidak mau. Mama ikut aku.. ayok.." Rengeknya sambil terus memegang erat tangan mamanya.


"Kak Lio cengeng." Ujar Dio sambil menjukurkan lidahnya mengejek kakaknya.


"Ma, Dio ledekin aku.."


"Wwweeekk kak Lio cengeng."


Lisna mengernyit bingung melihat kedua putranya. Sementara Elang mencoba membawa Dio menjauh dari kakaknya agar tidak terus menjaili sang kakak.


"Udah yok masuk kelas. Biarkan saja Dio, nanti kalau dia sekolah pasti minta temani juga ke kelas." Sahut Lisna sambil memapah Lio membawanya masuk ke kelas.


Dengan berat hati Lio ikut melangkah bersama mamanya masuk ke kelas untuk pertama kalinya.


Di minggu pertama sekolah, Lisna selalu ikut masuk ke kelas bersama Lio. Kemudian di minggu berikutnya Lio sudah mulai bisa masuk ke kelas sendirian. Dio dan Kai menunggu kakak mereka bersama mama di halaman kelas sambil bermain ayunan atau perosotan.

__ADS_1


Namun, setelah sebulan Lio sekolah, Elang mulai mengambil pekerjaan yang mengharuskannya untuk mengerjakan proyek diluar negeri atau luar kota. Ada kalanya Lisna harus ikut menemani Elang saat bertugas ke keluar. Maka yang menemani Lio sekolah adalah neneknya.


Yang hebatnya lagi, Dio juga lebih memilih ikut menemani kak Lio sekolah ketimbang ikut mama dan papanya. Berbeda dengan si bungsu yang memang kemana mana masih selalu ingin ikut mamanya.


Dan kali ini Lisna sudah meninggalkan kedua putranya cukup lama sepanjang sejarah, yaitu hampir dua minggu. Belum pernah selama ini sebelumnya.


"Mas kapan kita pulang? Aku rindu Lio sama Dio." Tanya Lisna sambil mengeloni si bungsu.


Mereka kini di Brunei, dan sudah hampir dua minggu menetap. Tentu sering menelpon dan video call dengan kedua putranya, tapi tetap saja rasanya Lisna terlalu merindukan buah hatinya itu.


"InsyaAllah dua hari lagi ya sayang. Mas juga merindukan mereka." Jawab Elang. Dia ikut berbaring disamping Lisna sambil melingkarkan tangannya di pinggang istrinya itu.


"Apa Kai mengigau lagi tadi malam?"


"Tidak. Sepertinya setelah mendengar suara kakak kakaknya tidurnya jadi lebih tenang."


"Syukurlah."


Lisna melepas pelukannya pada si bungsu. Kini dia berbalik untuk bisa berhadapan dengan suaminya itu.

__ADS_1


"Sampai kapan mas akan terus bekerja sekeras ini? Aku rasa dengan uang yang mas kumpulkan dari gaji perbulan mas sebagai CEO saja sudah lebih dari cukup untuk kita mas." Sahut Lisna yang memang mulai mengkhawatirkan kesehatan suaminya beberapa tahun terakhir yang memilih bekerja terlalu keras untuk mengumpulkan lebih uang yang banyak.


"Sebentar lagi ya sayang. Mas janji sampai akhir tahun. Setelah itu kita akan kembali fokus pada anak anak." Ucap Elang lembut sambil membelai wajah istri kesayangannya itu.


__ADS_2