Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama
Cinta tidak untuk dibagi!


__ADS_3

Malam ini Lisna berada di restoran, dia duduk di meja yang sama saat Fauzi melamarnya dulu. Dia duduk sendirian, menikmati hidangan mahal itu sebagai hadiah atas kerja kerasnya selama sebulan terakhir.


Tanpa Lisna sadari, pria suruhan Wulan duduk di meja tepat di belakangnya. Pria itu berencana akan melaksanakan misinya malam ini. Dia mengeluarkan sebilah pisau lipat yang sangat tajam dari saku jaket kulitnya.


Saat itu juga, Lisna yang sudah selesai menyantap makanannya. Langsung berdiri setelah meletakkan sejunlah uang diatas kertas bil yang diselipkan dibawah piringnya.


Pria itu mengikuti langkah Lisna secara diam diam agar tidak begitu ketahuan bahwa dia memiliki niat jahat pada Lisna.


Sebentar lagi, wanita ini akan menghilang dari dunia ini.


Senyum sinis dengan ekspresi wajah mengerikan terlihat jelas di wajah pria itu.


Lisna sudah keluar dari restoran. Dia melangkah menuju motornya yang terparkir di depan sana. Sementara pria itu semakin dekat pada Lisna, dia bahkan sudah membuka pisaunya dan siap menancapkan pisaunya di punggung Lisna.


Tapi, saat itu juga ada mobil yang berhenti tepat di depan Lisna. Membuat pria itu berbalik badan.


"Kak, Lisna!"


Tentu saja itu Elang. Dia turun dari mobilnya dan menghampiri Lisna.


"El, kamu mengikuti aku?" Tanya Lisna dengan wajah agak kesal.


"Loh, kakak lupa ya? Tadi kan kakak yang memintaku datang ke sini. Katanya kakak mau membayar cicilan perbaikan motor." Ujar Elang.


Sebentar Lisna seperti mencoba mengingat, hingga akhirnya dia melihat handphone dan benar saja, dia mengirim pesan pada Elang sekitar tiga puluh menit yang lalu.


"Kakak selalu berpikiran buruk tentang aku." Rutuk El merajuk.


Elang mempoutkan bibirnya, menyilangkan tangannya di dada dan menatap kesal pada Lisna.


"Maaf, El. Aku lupa."


"Oke, maaf diterima. Tapi, dengan satu syarat."


Kening Lisna mengkerut mendengar permintaan Elang yang mengajukan syarat.


"Ya sudah tidak usah memaafkan aku."


Lisna memakai helemnya, naik ke motornya dan hendak melaju, tapi dengan beraninya Elang menghadang tepat didepan motor Lisna.


"Minggir, El. Atau aku tabrak."


"Aku tidak akan minggir sebelum kakak menerima syaratku."

__ADS_1


Lisna pun mematikan kembali motornya.


"Baiklah, apa syaratnya?"


"Ikut aku untuk menemui mama."


Sebentar Lisna terdiam. Dia seperti memikirkan sesuatu.


"Aku tidak mau. Lagi pula tante Nita juga pasti tidak mau bertemu aku. Tante Nita pasti membenciku karena…"


"Mama tidak pernah sekalipun membenci kakak."


"Tidak usah bohong, El."


"Aku tidak bohong, kak. Aku serius."


"Baiklah. Anggap saja kamu tidak berbohong dan anggap saja tante Nita memang mau bertemu aku. Lalu, mengapa tante Nita tidak langsung menemui aku saja, toh pasti kamu sudah memberi tahukan alamatku.."


"Mama bukan tidak mau menemui kakak. Tapi, ada hal yang membuat mama tidak bisa menemui kakak secara langsung." Jelas Elang mencoba meyakinkan Lisna.


"Mama sangat merindukan kak, Lisna. Please kak, ayok ikut aku untuk menemui mama."


Lisna diam sesaat. Sebenarnya dia juga ingin menemui wanita yang telah menyelamatkannya itu. Tapi, rasa bersalah dan malu menguasai dirinya, sehingga membuat Lisna bersembunyi selama ini dari wanita baik itu.


"Iya. Ayo antar aku menemui tante Nita."


"Yes!" Teriaknya kegirangan seakan sedang memenangkan pertandingan.


"Kita naik mobil saja, kak." Ajak Elang.


"Aku naik motor saja, El."


"Nanti aku suruh temanku mengantarkan motor kakak ke rumah mama. Sekarang, kakak ikut aku naik mobil." Ajaknya.


Elang sudah membukakan pintu depan mobil untuk Lisna.


"El, aku sudah bersuami. Nanti kalau ada yang melihat aku naik mobil sama pria lain dan mereka salah mengira, maka yang akan terjadi, aku akan dituduh selingkuh." Tolak Lisna dengan memberikan alasan yang tepat.


"Kakak tenang saja, kalau sampai itu terjadi.. biar aku yang bertanggung jawab. Aku akan menemui suami kakak dan mengatakan siapa aku sebenarnya. Bagaimana?"


Meski berat hati, Lisna pun akhirnya setuju. Dan saat Lisna masuk ke mobil, pria yang tadi mengincarnya memotret adegan itu. Dalam potretannya, terlihat seakan Lisna menerima tawaran pria lain untuk ikut bersamanya. Untuk menambahkan bumbu, pria suruhan Wulan juga memotret hotel yang ada di depan sana seakan Lisna di bawa ke hotel oleh pria itu.


Potret itu langsung di kirimkan oleh pria itu pada Wulan. Dan betapa terkejutnya Wulan melihat potret yang mengerikan dari seorang Lisna yang berpenampilan muslimah, tapi ternyata bermain api denga pria lain dibelakang suaminya.

__ADS_1


Haruskah aku perlihatkan sekarang? Tidak. Tunggu sebentar lagi. Oke, tidak apa Lisna tidak mati. Aku yang akan membuatnya menderita hingga memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.


Wulan tersenyum bahagia. Sungguh dia merasa puas dengan informasi yang didapatnya.


"Kamu sudah bekerja keras. Aku suka kerjamu. Besok akan aku tranfer sejumlah uang ke rekeningmu. Dan untuk sementara jangan bunuh dulu si Lisna sampai ada perintah berikutnya."


Wulan memberitahukan pada pria bayarannya itu untuk tidak membunuh Lisna dulu untuk sementara waktu.


Kamu harus tahu tentang kehamilanku dulu, Lisna. Kamu juga harus menyaksikan sendiri bagaimana mas Fauzi memperhatikan aku di depan matamu sendiri. Setelah melihat semua kabahagiaanku, barulah kamu akan aku singkirkan dari dunia ini.


"Maafkan aku, mbak Lisna. Tapi, cinta bukan untuk di bagi. Kamu harus menghilang dari kehidupan mas Fauzi selamanya."


Ceklek…


Suara ganggang pintu. Fauzi yang membukanya. Dia datang bersama Queen. Ayah dan anak itu baru saja kembali setelah membeli pizza yang di idamkan bumil mereka.


"Sayang, pizzanya datang."


Fauzi membuka kotak pizza dan membentangnya diatas kasur. Dia dan Queen duduk bersila dihadapan pizza itu bersamaan dengan Wulan juga tentunya.


"Wuaahhh, kalian memang terbaik." Puji Wulan mencubit bergantian pipi suami dan anaknya.


"Mama ayo kita makan pizza nya. Aku sudah lapal." Celoteh Queen sudah tidak sabar ingin menyantap pizza yang tampak lezat itu.


"Iya sayang, kamu boleh makan pizzanya."


Fauzi mengambilkan sepotong Pizza, lalu memberikannya pada Queen. Kemudian, dia mengambil sepotong lagi untuk diberikan pada istrinya yang tengah mengidam ingin makan pizza disuapi oleh suaminya.


"Aaaakk.." Wulan membuka lebar mulutnya.


Dengan senang hati Fauzi menyuapkan potongan pizza pada Wulan.


"Gimana, enak?"


"Nyam nyom enakk. Lagi…" Rengeknya manja.


"Iih mama sepelti anak kecil saja. Makan kok disuapin." Ledek Queen yang berhasil membuat Fauzi dan Wulan tertawa.


"Queen mau papa suapin juga nggak sayang?" Tanya Fauzi.


"Nggak boleh. Papa nggak boleh nyuapin Queen. Wweeeekkk…"


Wulan mencoba menggoda putri kecilnya itu.

__ADS_1


"Siapa juga yang mau disuapin. Iiih kayak anak kecil." Balas Queen dengan menjulurkan lidahnya juga pada mamanya.


Kemudian, Wulan malah membuka lebar mulutnya, lalu meminta Queen berbagi potongan pizza dengannya. Sambil terseyum, putri kecilnya itu menyuapkan pizza pada mamanya.


__ADS_2