Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama
Usaha mendekati Lisna


__ADS_3

Lisna duduk termenung di kursi taman depan rumah Luna Yuanita. Dia masih terpikirkan keadaan Erwin dan juga permintaan Erwin padanya.


"Kak, ini.."


Elang menghampiri Lisna dengan membawakan segelas teh hangat.


"Abang sudah baik baik saja. Tidak usah terlalu dipikirkan. Memang abang suka seperti itu saat tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan." Jelas Elang panjang lebar mengenai kondisi kakaknya.


"Maafkan aku, El."


"Kenapa kak Lisna malah minta maaf?"


"Aku menolak perasaan bang Erwin."


Kalimat barusan membuat Elang mematung sebentar.


"Abang menyatakan perasaannya sama kak Lisna?"


Lisna mengangguk. Sebentar dia menghela napas lalu mereguk teh hangat ditangannya.


"Aku belum bisa membuka hati lagi untuk siapapun saat El. Lagi pula aku sudah merasa nyaman dengan kehidupanku yang sekarang."


"Aku mengerti kak. Tapi, ini sudah lebih dari setahun berlalu setelah perceraian kakak dengan mantan suami kakak itu. Bahkan dia sudah hidup bahagia bersama keluarga kecilnya. Apa kakak tidak ingin memperlihatkan pada mereka kalau kakak juga bisa hidup bahagia bersama pasangan yang tulus mencintai kakak."


"Maksudmu abangmu Erwin? Kamu mau aku membuka hati dan memulai hidup baru bersama bang Erwin?" Tanya Lisna pada Elang.


"Kenapa dengan abang? Apa karena abang cacat?"


"Cukup Elang. Aku tidak pernah menilai seseorang berdasarkan fisik. Aku hanya tidak bisa menganggap abang Erwin lebih dari sekedar keluarga. Tidak bisa. Jika kamu bertanya alasannya, aku tidak bisa menjawab, karena memang hatiku tidak tertaut padanya." Tutur Lisna menjelaskan berharap Elang mengerti dan tidak mudah menuduhnya sembarangan.


"Kalau begitu cintai aku, kak."


"El…"


"Coba, coba cintai aku, kak. Buka hati kak Lisna untuk mencintai aku." Tegas Elang.


"Tidak mungkin, El."


"Kenapa tidak mungkin?"


"Aku sudah tua, aku janda Elang. Aku tidak pantas bersanding dengan kamu."


"Hanya itu alasan kakak?"


"Iya."


"Kalau begitu, aku yang akan membuat kakak jatuh cinta padaku dengan caraku."


"Tidak Elang…


"Jangan berani benarninya kakak mencoba menghalangi atau membantahku. Beri aku waktu satu bulan saja untuk bisa membuat kak Lisna mencintaiku. Jika aku gagal, maka aku tidak akan pernah mengatur hidup kak Lisna lagi."


Lisna tidak menjawab. Dia tidak menyangka pembicaraan ini akan sampai pada tahap seperti ini. Padahal sebelum sebelumnya semuanya baik baik saja dan masih wajar wajar saja. Apa yang terjadi pada Elang, hingga dia bersikap keras kepala seperti malam ini.


"Aku antar kakak pulang sekarang."


Elang menarik tangan Lisna tiba tiba, dan itu membuat Lisna berontak.

__ADS_1


"El, kamu berlebihan." Lisna menarik tangannya.


"Maaf Lisna." Elang meminta maaf atas kesalahannya dan dia menyebut nama Lisna tanpa embel embel kakak lagi.


"Aku antar kamu pulang sekarang, Lisna." Ulang Elang sekali lagi.


Lisna tidak menjawab, dia hanya melangkah lebih cepat dari Elang dan langsung masuk ke mobil.


Elang tersenyum senang, setidaknya Lisna patuh padanya malam ini.


"Panggil aku seperti biasa, Elang." Titah Lisna.


"Tidak akan. Mulai sekarang aku akan memanggil kamu dengan namamu."


"ELANG!" Bentak Lisna kesal.


"Mau aku panggil Lisna atau sayang?"


Lisna hanya bisa menghela napas menanggapi Elang yang sangat berubah malam ini. Dia menjadi sangat pemaksa dan membuat Lisna merinding tanpa alasan yang jelas.


"Kalau tidak ada jawaban, berarti aku panggil sayang."


"Lisna, cukup panggil aku Lisna." Jawab Lisna cepat tanpa menoleh sedikitpun pada Elang.


"Kamu selalu menggemaskan saat mara marah seperti ini, Lisna." Bisik Elang yang membuat Lisna bertambah merinding dan kesal bersamaan.


*


*


*


Kalau sebelumnya saat istirahat, Elang akan mengobrol dengan teman teman sesama artis, dua hari ini dia memilih menghampiri Lisna.


"Hai Lis, bosan ya menunggu lama?"


Elang mendekati Lisna setelah selesai shooting iklannya.


"Biasa saja."


"Yakin tidak bosan?"


"Iya."


Elang tersenyum manis. Lalu tiba tiba dia mendekatkan wajahnya ke wajah Lisna hingga membuat Lisna menjauhkan wajahnya dengan paksa.


"El, kamu mau ngapain?" Lisna tidak nyaman dengan posisi seperti ini.


"Makan yuk. Lapar.." Bisik Elang kemudian, lalu dia menjauhkan wajahnya dari wajah Lisna setelah puas menatap wajah yang selalu dirindukannya sejak lama itu.


"Makan apa?"


"Apa saja." Elang melangkah menuju mobilnya.


"Memangnya sudah selesai shootingnya?"


Lisna mengejar langkah Elang yang sudah jauh di depan sana.

__ADS_1


"Sudah. Dan ini shooting terakhir."


"Shooting terakhir maksudnya?"


Elang berhenti sebentar, lalu dia menoleh menatap kearah Lisna yang hampir tiba di dekatnya.


"Silahkan tuan putri!" Elang membuka pintu mobil untuk mempersilahkan Lisna masuk.


"Kamu berlebihan, El." Ujar Lisna dengan wajah tersenyum malu malu.


Saat Lisna hendak masuk ke mobil, dengan cekatan pula Elang melindungi kepala Lisna agar tidak terhantuk pada bagian dinding atas mobil. Lisna hanya bisa menggeleng menyaksikan betapa Elang berusaha melindunginya.


Setelah Lisna nyaman, Elang langsung masuk dan duduk di kursinya untuk menyetir mobil.


"Makan apa nih kita?"


"Mmm, bagaimana kalau bakso?" Saran Lisna.


"Boleh."


Elang langsung tancap gas menuju kedai bakso yang terkenal enak dan ramai dikunjungi oleh masyarakat termasuk kalangan artis juga.


Setibanya di kedai bakso, Elang memilih kursi yang paling dekat dengan pintu. Lalu dia memesan dua porsi bakso untuk mereka berdua, sekalian minumnya jus melon kesukaan Lisna.


"Lisna!"


Tiba tiba suara itu mengganggu Elang yang sedang memperhatikan wajah cantik Lisna.


"Pak Gunawan!" Seru Lisna.


"Kamu apa kabar, Lisna? Lama sekali tidak melihat kamu lagi." Tanpa permisi Gunawan langsung duduk di kursi tepat di sebelah Elang dan itu tentu saja membuat Elang tidak nyaman.


"Aku sehat Alhamdulillah. Bapak sendiri sehat?"


"Ya seperti yang kamu lihat, Lisna."


Eehhemm…


Itu suara batuk Elang yang berhasil menarik perhatian Gunawan dan Lisna yang asik mengobrol berdua saja sejak tadi.


"O iya, pak Gunawan. Kenalin ini mas Elang." Ucap Lisna memperkenalkan Elang pada Gunawan.


"Halo mas Elang. Saya Gunawan." Gunawan mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Elang.


"Saya Elang Pratama Putra."


Mendengar nama itu membuat Gunawan teringat pada pewaris perusahaan tempatnya bekerja.


"Mas Elang ini anaknya ibu Luna Yuanita?" Tanya Gunawan agak ragu.


"Betul sekali." Jawab Elang dengan wajah bangga.


"Saya Gunawan, menejer keuangan yang baru di PT Jati cabang, mas Elang."


Gunawan memperkenalkan dirinya dengan baik dan dia merasa sangat senang bisa berkenalan dan bertegur sapa langsung dengan pewaris perusahaan tempatnya bekerja.


Elang hanya mengangguk sambil sedikit tersenyum. Sementara Gunawan malah tersenyum lebar menatap Elang dan Lisna bergantian. Entah apa yang membuatnya tersenyum lebar seperti itu. Yang jelas Elang merasa cemburu tanpa alasan pada Gunawan yang terlihat jelas mencoba mendekati Lisna.

__ADS_1


__ADS_2