Air Mata Terakhir Istri Pertama

Air Mata Terakhir Istri Pertama
Tidak ingin kehilangan lagi!


__ADS_3

Malam ini Fuazi tidak bisa tidur. Entah mengapa dia merasa sangat merindukan Lisna. Hatinya seperti dikuasai oleh Lisna seutuhnya.


Lisna, apakah kamu baik baik saja? Aku sangat merindukanmu, Lisna. Aku ingin memelukmu. Maafkan aku karena percaya bahwa kamu berselingkuh. Padahal aku tahu kamu tidak pernah melakukan itu. Sungguh maafkan aku Lisna.


"Lisna!" Gumam Fauzi pelan.


Dia tidak sadar memeluk guling dengan erat sambil membayangkan yang dipeluknya adalah Lisna. Dan dia menyerukan nama mantan istrinya, padahal Wulan berbaring disebelahnya.


"Aku tidak suka mas Fauzi selalu menyebut nama Lisna saat jelas jelas aku yang ada di sini bersama kamu, mas. Aku benci itu mas." Teriak Wulan kesal.


Mata Fauzi yang tadi sudah terpejam langsung melek lagi saat mendengar Wulan bicara.


"Maafkan aku, sayang. Kamu tahukan, tujuh tahun aku hidup bersama Lisna. Apa apa yang aku butuhkan aku selalu memanggilnya meminta bantuannya, jadi wajar saja kalau aku masih memanggil namanya." Fauzi minta dimengerti oleh Wulan.


"Kalau begitu pergilah temui Lisna. Tapi ingat mas, jangan harap mas bisa duduk manis di perusahaanku lagi." Ancam Wulan.


Ya, mengancam Fauzi cukup mudah, karena Fauzi juga mudah dikendalikan dengan uang.


"Aku tidak akan kembali pada Lisna lagi, Wulan. Aku hanya belum terbiasa tanpa dia.."


"Harusnya aku suruh saja temanku menyingkirkan Lisna."


"Tidak Wulan, jangan. Aku janji tidak akan menyebut namanya lagi. Kamu satu satunya istri terbaikku, sayang."


Fauzi memeluk erat tubuh Wulan. Dan Wulan tidak berontak, dia hanya bisa diam saja dalam pelukan suaminya itu.


Dasar laki laki tidak punya pendirian. Menyesal juga aku menikah dengan mas Fauzi. Bagaimana bisa mbak Lisna bertahan selama tujuh tahun dengan lelaki seperti ini.


Wulan, baru juga beberapa bulan menjadi istri Fauzi sudah membuatnya merasa menyesal.


Sial, kenapa juga aku harus hamil terlalu cepat.


Wulan terlalu dimanja sama keluarganya, sehingga apa apa yang dia inginkan harus menjadi miliknya. Tapi, dia pernah menyerah untuk menjadikan Fauzi miliknya karena terhalang restu orangtua dan tentu saja karena Fauzi juga pria kere waktu itu.


Tapi, setelah Wulan menjanda, dia malah menginginkan Fauzi dan dia mendapatkannya meski harus menjadi istri kedua. Tapi, itu hanya sebentar saja. Kini Wulan sudah memiliki Fauzi seutuhnya dan kehidupan berumah tangga dengan Fauzi perlahan mulai membuatnya bosan entah karena alasan apa.


"Mas, besok kita cek kandungan. Aku mau usg sekalian mau tahu jenis kelamin anak kita." Ujar Wulan kemudian dengan wajah datarnya.


"Iya, sayang. Besok aku temani kamu cek kandungan."


Fauzi hendak mencium istrinya itu, tapi dengan cepat Wulan memalingkan wajahnya.


"Maaf, mas. Aku capek banget."


Wulan langsung berbaring dan menyembunyikan dirinya dibawah selimut dengan membelakangi suaminya yang sudah membuatnya kesal marah dan bosan karena suaminya selalu menyebut nama Lisna setiap mereka berhubungan badan setelah suaminya bercerai dengan istri pertamanya itu.


Kenapa Wulan seakan mengabaikan aku. Apa Wulan segitu marahnya karena aku masih menyebut nama Lisna?


"Mas, jangan bergerak gerak. Berisik tau. Aku mau tidur."


Wulan benar benar kesal karena Fauzi beralih ralih posisi baring yang membuat ranjang bergerak gerak.


"Maaf sayang. Aku tidak akan bergerak lagi."

__ADS_1


Fauzi pun tidur dalam keadaan hati yang tidak enak. Sebenarnya hampir dua minggu terakhir, Wulan selalu menolak melakukan hubungan suami istri dengannya. Wulan bilang karena dia takut melukai bayinya. Padahal dokter jelas jelas menyarankan untuk berhubungan setidaknya dua kali dalam seminggu.


*


*


*


Lisna juga tidak bisa tidur nyenyak malam ini. Bukan karena dia teringat pada mantan suaminya, tapi karena masih terbayang bayang saat para wartawan menyerbunya tadi siang.


"Kamu belum tidur, Lis?"


Itu suara dokter Yumna yang baru saja keluar dari ruangannya, tapi dia melihat lampu kamar Lisna masih menyela dan dia pun mampir.


"Ibu belum pulang?" Tanya Lisna agak kaget.


"Ini baru mau pulang. Tapi ibu lihat kamu belum tidur, jadi ibu mampir."


Yumna masuk ke kamar Lisna. Dia duduk di pinggir ranjang sempit tempat Lisna berbaring.


"Ada apa, nak? Kamu tampak tidak nyaman."


Lisna merubah posisi baringnya dengan menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang.


"Bayangan segerombolan wartawan yang menyerbuku tadi siang masih selalu terbayang, bu. Rasanya membuat aku tidak nyaman." Tuturnya.


"Mau ibu bantu merilekskan pikiranmu?"


"Kalau begitu pejamkan matamu."


Lisna langsung memejamkan matanya. Kemudian Yumna menginstruksikan pada Lisna untuk memikirkan satu tempat ternyaman yang dia inginkan untuk tinggal disana.


"Sudahkah nak Lisna menemukan tempat itu?"


Lisna mengangguk sambil tersenyum.


"Tempat seperti apa itu, nak?"


"Vaviliun. Aku berada di vaviliun yang dikelilingi bunga bunga yang indah." Jawab Lisna dengan mata terpejam dan bibir tersenyum tenang.


"Kamu menyukai tempat itu?"


"Aku sangat menyukai tempat ini, ibu."


"Bersama siapa kamu disana, nak?"


"Sendirian."


"Apakah tidak terlalu sepi tinggal sendirian di tempat indah itu?"


Lisna tidak menjawab, senyum yang tadi terlihat di sudut bibirnya perlahan menghilang.


"Ada apa Lisna?"

__ADS_1


Lisna masih tidak menjawab. Dia tampak seperti tengah bermimpi buruk.


"Lisna, bangun nak. Buka matamu jika kamu merasa tempat itu berbahaya." Bisik Yumna mencoba membangunkan Lisna dari alam bawah sadarnya.


Tidak ada respon dari Lisna. Sebab saat ini dia masuk ke dunia mimpinya atau mungkin khayalan.


Lisna melihat Elang berdiri di ujung sana mengulurkan tangannya kearah Lisna.


"Maukah kak Lisna berteman denganku?" Tanya Elang dalam khayalan Lisna.


"Tidak."


"Kenapa? Apakah aku memperlakukan kakak dengan buruk?"


"Tidak, El. Hanya saja aku bukan wanita yang pantas untuk bisa berteman denganmu."


"Lantas wanita seperti apa yang pantas berteman denganku."


"Banyak jika kamu mencarinya, El."


Elang melangkah semakin dekat pada Lisna, hingga membuat Lisna melangkah mudur.


"Jangan mengabaikan aku lagi, kak. Aku ingin selalu berada di dekat kak Lisna." Bisik Elang begitu jarak antara mereka sangat dekat.


"Aku tidak mengabaikan kamu, Elang. Aku hanya tidak ingin membiarkan hatiku terikat padamu."


"Kenapa? Apa kakak membenciku?"


"Tidak Elang. Aku hanya belum siap untuk memberikan hatiku lagi pada pria manapun saat ini. Aku masih mencintai suamiku." Ucap Lisna menegaskan.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa kakak lagi." Elang pun menjauh dari Lisna.


"Aku tidak akan mengganggu kak Lisna lagi. Aku harap kak Lisna akan terus bahagia." Teriak Elang sambil melambaikan tamgannya tanpa menoleh kearah Lisna.


Sementara Lisna hanya bisa menatap punggung pria itu yang semakin menjauh darinya.


Raut wajah Lisna tampak sedih. Itu yang dilihat oleh Yumna. Dia kembali berusaha untuk membangunkan Lisna.


"Nak, Lisna!"


Yumna mengentuh bahu Lisna berkali kali. Hingga akhirnya mata itu kembali terbuka.


"Ibu…"


Lisna langsung memeluk Yumna dengan erat.


"Ada apa, nak?"


Yumna mengelus lembut punggung Lisna untuk menenangkannya.


"Aku takut… aku takut kehilangan orang yang aku sayang lagi, aku tidak mau…"


"Kamu tidak kehilangan siapapun, nak. Merekalah yang sebenarnya kehilangan kamu. Jadi, berhentilah menyalahkan dirimu. Jalani kehidupan tanpa memikirkan hal hal buruk seperti itu."

__ADS_1


__ADS_2