
Lisna duduk terdiam di depan supermarket. Harusnya dia berbelanja kebutuhan bulanan, malah uangnya diberikan pada keluarga mantan suaminya.
"Aku sudah melakukan yang terbaik. Anggap saja hari ini terakhir kalinya aku menemui mereka. Semoga tidak ada hari hari berikutnya." Ujar Lisna menegaskan pada dirinya sendiri.
Tin…
Tin…
Klakson mobil Elang mengejutkan Lisna.
"Ngapain melamun di sini kak?"
Elang membuka kaca mobilnya untuk menyapa Lisna.
"Kamu sendiri ngapaian disini?" Balas Lisna sedikit kesal karena dibuat kaget dengan suara klakson mobilnya.
"Mau belanja."
Elang turun dari mobilnya yang memang sudah tepat berada di garis parkir khusus mobil.
"Kakak nggak jadi belanja?"
"Nggak."
"Kanapa?"
"Nggak ada uang."
"Mau aku traktir belanja sepuasnya?" Tawar Elang mencoba menghibur Lisna, dia tahu suasana hati Lisna tidak baik baik saja setelah menemui keluarga mantan suaminya.
Lisna mengangguk pelan.
"Lets goooo…"
Elang melangkah lebih dulu dan Lisna pun mengikutinya.
"Kakak mau belanja apa saja silahkan. Aku yang traktir."
"Nanti kamu bisa potong gajiku saja El. Jangan memberiku secara cuma cuma." Ujar Lisna.
"Oke baiklah. Gaji pertama kakak aku potong sesuai jumlah belanja hari ini. Bagaimana, deal?"
"Deal!" Sahut Lisna cepat.
Setelah perjanjian saling di setujui, Lisna langsung berbelanja kebutuhan dapur untuk sebulan kedepan. Sedangkan Elang hanya menemaninya saja, dia hanya membeli minum dan sepotong roti.
Tidak butuh waktu lama untuk Lisna menyelesaikan belanjanya. Hanya kurang dari satu jam, semua keperluan dapur sudah lengkap untuk stok satu bulan kedepan.
"Sudah, kak?" Tanya Elang kurang yakin karena troli Lisna masih belum penuh, padahal katanya untuk stok belanja sebulan.
"Sudah."
"Dikit amat!"
"Kan aku tinggal sendirian, ya dikit lah."
__ADS_1
"Yakin nggak mau nambah?"
"Nggak."
"Ya sudah, yuk kita bayar."
Lisna mendorong trolinya menuju kasir. Dan Elang membayarkan total belanjaan Lisna yang hanya menghabiskan uang sebanyak enam ratus lima puluh ribu rupiah saja untuk sebulan.
"Kak, gaji kaka sebulan sepuluh juta loh. Bisa bisanya kakak belanja cuma segini?"
"Lah memangnya kenapa?"
Elang menatap belanjaan Lisna, yang paling mahal beras lima kilo, telur, mie, minyak goreng, persatuan bumbu dapur, dan sayurannya cuma kentang, wortel, kol dan timun.
"Kakak kenapa nggak beli daging, ikan atau udang…"
"Malas masak Elang. Masak itu simple aja. Ceplok telur, tumis kol, makan. Atau nggak masak mie instan, makan pake nasi, udah. Simple."
"Dasar pemalas."
"Mumpung hanya tinggal sendiri, tidak apa apa lah pemalas."
"Iya deh, terserah kakak saja."
Elang membawakan kantong belanjaan Lisna terutama beras, karena itu yang paling berat.
"El, gajiku nggak usah sepuluh juta. Aku tidak serius waktu itu, hanya bercanda."
"Terserah aku. Kan aku yang bayar kakak. Mau aku bayar berapapun suka suka aku lah."
"Mau kemana lagi, kak?"
"Ke tempat dokter Yumna, mengambil pakaianku."
"Oke, aku antar kesana."
Mobil melaju menuju tempat dokter Yumna.
"Maaf ya El, aku jadi merepotkan kamu. Harusnya aku sebagai menejer yang menemani kamu kemanapun, bukan malah kamu yang mengantar aku kemanapun." Ujar Lisna merasa tidak enak hati.
"Santai aja kali kak. Lagian hari ini, aku juga sedang tidak ada jadwal kerja kok."
Lisna tersenyum senang menatap raut wajah Elang yang memang tampak tidak terpaksa menemaninya belanja dan mengantarnya menjemput pakaian.
*
*
*
Setahun berlalu.
Lisna masih setia menjadi menejer Elang. Hanya saja, sekarang Lisna sudah lebih dekat dengan keluarga Elang juga termasuk abangnya Erwin.
Seperti hari ini, di sela menemani Elang Syuting, Lisna juga menemani Erwin yang ikut bersama mereka ke ancol. Karena Elang pemotretan di ancol.
__ADS_1
"Maafkan aku, ya Lis. Mungkin kalau bukan karena kecerobohanku naik motor ngebut ngebutan, keluargamu masih selamat." Ujar Erwin terbata.
Dia tidak seutuhnya bisa bicara dengan baik sperti sedia kala. Sejak hari kecelakaan itu, Erwin mengalami kemalangan. Kakinya lumpuh total dan sempat geger otak juga. Untungnya perlahan kerja otaknya mulai membaik.
"Semua sudah digariskan olah Allah, bang. Tidak perlu mengingat lagi kejadian yang telah terjadi jika hanya untuk menyalahkan diri sendiri. Ada baiknya saat mengingat kejadian itu memberi kita semangat dan kekuatan untuk menjalani kehidupan kedepannya jauh lebih baik lagi."
"Kamu benar, Lisna."
Erwin sangat senang bisa mengobrol dan berduaan dengan Lisna seperti saat ini. Sayangnya, Lisna terlalu sibuk untuk terus sering sering menemuinya.
"Lis, apakah kamu sudah punya seseorang yang spesial?" Tanya Erwin tiba tiba membuat Lisna agak risih.
"Mengapa abang tiba tiba menanyakan hal itu?" Selidik Lisna.
"Apakah pertanyaan itu tidak diizinkan?"
Bukannya menjawab Erwin malah memberi pertanyaan balik.
"Mmm, untuk saat ini sih belum ada yang spesial. Aku masih menikmati hari hari sendirian." Jawab Lisna pada akhirnya.
"Kalau aku ingin menjadi yang spesial buat kamu boleh nggak?" Tanya Erwin tanpa basa basi lagi.
Lisna terdiam, tangannya yang tadi mendorong kursi roda Erwin mendadak berhenti.
"Apa pertanyaanku menyinggungmu, Lisna?"
Lisna tidak menjawab. Dia hanya manatap ombak di depan sana. Dimana disana Elang sedang berpose dengan berbagai gaya bersama seorang wanita cantik yang digosipkan pacaran dengan Elang.
"Lisna, aku tahu mungkin kamu menyukai Elang. Tapi, lebih baik jangan. Elang punya banyak wanita cantik disisinnya. Dia tidak akan bisa kamu miliki sendiri."
Tiba tiba Erwin berujar begitu. Tentu membuat Lisna terkekeh geli.
"Abang ngomong apa sih." Ujar Lisna masih tersenyum senyum.
"Aku hanya mencoba memperingatkan kamu untuk tidak jatuh hati pada Elang." Ulang Erwin.
"Aku tidak sedang jatuh hati pada siapapun, bang. Saat ini, aku hanya bahagia dengan hidupku sendiri. Jadi, abang tidak usah khawatir."
Raut wajah Erwin menjadi sendu. Rupanya Lisna tidak mau menerima hatinya.
"Aku sadar aku tidak sempurna, Lisna. Aku cacat, aku lumpuh. Tapi, percayalah hatiku tulus untukmu."
Kalimat itu membuat Lisna kembali berhenti mendorong kursi roda itu.
"Maafkan aku, abang. Fisik bukanlah jaminan untuk membuatku berhenti mencintai seseorang. Tapi, sungguh saat ini aku hanya masih ingin hidup sendiri dulu tanpa siapapun." Tutur Lisna menjelaskan.
Erwin masih tidak bisa terima dengan apa yang disampaikan Lisan padanya. Hingga membuatnya kecewa dan marah. Dia mengekspresikan marahnya dengan memukul mukul kedua kakinya yang lumpuh.
"Jangan sepeti ini, abang. Itu sama saja dengan menyakiti diri sendiri." Cegah Lisna.
"Biarkan saja, Lisna. Toh kaki ini yang menajdi masalah dalam hidupku." Erwin mulai mengamuk.
Dia memukul kakinya semakin kuat, membuat Lisna tidak bisa melalukan apa apa untuk mencegahnya. Untungnya Elang melihat itu, dia langsung memeluk kakaknya kuat dan menghentikan tangannya memukul mukul kakinya yang lumpuh itu.
Lisna hanya bisa diam terpaku menyaksikan apa yang terjadi di depannya. Sungguh Lisna tidak bermaksud membuat Erwin seperti itu. Tapi, semua kembali lagi pada hati. Lisna memang masih belum bisa membuka hatinya untuk mencintai lagi. Kegagalan yang dulu masih menjadi alasannya belum mau membuka hati untuk pria manapun.
__ADS_1