
Dua minggu berlalu.
Kini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidup Lisna dan Elang. Saat ini Lisna sedang duduk manis di ruang khusus pengantin, dia memakai kebaya pengantin pilihannya yang sangat indah dan membuatnya tampak sangat cantik dan menpesona.
"Lis, sebentar lagi kamu akan menjadi istri sah dari Elang Pratama Putra." Ujar Mirna yang menemani Lisna diruangan itu.
"Aku gugup, mbak." Adu Lisna pada Mirna,
Mirna menggengam kedua tangan Lisna yang memang terasa sejuk dan juga sedikit gemetar.
"Itu hal wajar, Lis. Aku dulu juga sangat gugup saat mas Reza sedang mengikrarkan akad nikah yang sakral."
Lisna mencoba menenangkan hatinya dengan menarik napas dan membuangnya perlahan. Dia lakukan berulang ulang.
Sementara itu, di depan sana. Tepatnya di aula pernikahan mereka yang kini disulap dengan dekorasi mewah bak kerajaan fairy tale, Elang duduk di depan penghulu. Disamping Elang duduk saksi nikah dan juga ada penasehat pernikahan.
"Mas Elang gugup?" Tanya pak penghulu menggoda Elang.
"Sedikit." Jawab Elang tampak mencoba untuk terlihat lebih santai.
Luna duduk tidak jauh dari Elang bersama suaminya. Mereka berdua juga merasa gugup bahkan saling berpegangan tangan untuk mengurangi rasa gugup dihati meraka.
"Baik mas Elang, kita coba dulu."
Elang mengangguk setuju. Sebelum mencoba dia memejamkan mata sebentar membayangkan wajah cantik Lisna yang menunggu untuk dihalalkannya.
Percobaan pertama, Elang sedikit gugup sehingga salah dalam menyebutkan nama orangtua Lisna. Kemudian di percobaan kedua berhasil dengan baik.
__ADS_1
"Mas Elang siap?"
"InsyaAllah siap." Jawab Elang lantang dan tegas.
Penghulu mulai menuntun Elang untuk melapalkan akad nikah sesuai yang telah dia latih beberapa detik yang lalu.
Dan akhirnya, Elang berhasil mengikat Lisna dalam ikatan sah secara agama dan negara. Doa pun dilantunkan dengan khidmat dan khusuk.
"Mbak. Aku sudah menikah lagi."
Lisna memeluk Mirna. Dia terharu bahkan sampai meneteskan air mata. Untung MUA-nya sigap dan menghapus air mata Lisna agar tidak merusak make upnya.
"Lisna, saatnya kamu menemui suami." Ujar Mirna.
"Bismillah…"
Lisna mulai melangkah menuju aula pernikahan dengan senyum bahagia menghiasi wajahnya.
Semua tamu undangan kerkesima begitu melihat Lisna memasuki aula pernikahan. Bukan hanya tamu yang terkesima, Elang bahkan sampai meneteskan air matanya sangking terkesima dan bahagianya melihat Lisna datang menghampirinya.
Kini keduanya sudah saling berhadapan. Elang langsung memegang ubun ubun Lisna dan berdoa.
"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."
(Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang telah Engkau tentukan atas dirinya.)
Lisna terharu mendapatkan doa dari suaminya. Dan setelah itu, Elang memakaikan cincin pernikahan mereka di jari Lisna. Bergantian Lisna juga memakaikan cincin di jari Elang. Setelah itu, Elang mengulurkan tangannya dan Lisna langsung mencium tangan itu dan Elang mencium kening Lisna untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Adegan itu tentu saja diperintahkan oleh tim WO. Elang dan Lisna hanya mengikuti arahan, karena mereka terlalu gugup.
Setelah acara itu, tibalah saatnya Elang dan Lisna menandatangani berkas berkas yang berhubungan dengan pernikahan mereka. Setelah itu pak penghulu memberikan buku nikah mereka.
Tidak lupa nasihat pernikahan juga diberikan oleh salah seorang ustad kondang yang diundang langsung oleh Elang.
Usai acara itu, barulah tim WO memberikan usulan agar Lisna dan Elang berfoto dengan buku nikah mereka. Tidak lupa Luna dan Sultan juga ikut berfoto bersama. Disusul oleh teman teman Elang yang juga ikut berpoto bersama kedua mempelai.
"Sayang bahagia?" Bisik Elang pada Lisna.
"Mmm, aku sangat amat bahagia. Terimakasih sudah mencintaiku setulus hati, sayang." Jawab Lisna ikut berbisik pada Elang.
Tangan Elang merangkul tepat di pinggang Lisna saat ada tamu undangan yang ingin ikut berpoto lagi bersama mereka.
"Aku jadi tidak sabar ingin segera mencium bibirmu." Bisik Elang yang membuat Lisna merona.
"Sabar!" Lisna mencubit pelan lengan Elang yang mulai nakal mengelus ngelus pinggang Lisna dengan tujuan menggoda istrinya itu.
Lisna yang paling tidak bisa menahan geli saat perutnya di gelitik, dan Elang mulai jail menggelitik perutnya hingga membuat Lisna hampir terjungkal, tapi dengan sigap pula Elang menahan tubuh istrinya itu.
"Jangan lakukan lagi, El. Aku tidak tahan geli." Rutuk Lisna agak kesal pada suaminya yang mulai gemas padanya.
"Maaf sayang. Tapi, aku semakin tidak sabar…"
"Diam." Lisna membungkam mulut Elang dengan telapak tangannya hingga tim WO dapat monent manis saat menjepret kedua mempelai dengan posisi seperti itu.
Alhamdulillah ya Allah. Engkau kirimkan seorang pria yang luar biasa baik dan sabarnya dalam menghadapiku. Jadikan pernikahan kami penuh dengan keridhoan-Mu. Aamiin.
__ADS_1