
Kabar tentang Lisna yang diakui oleh pengusaha kaya raya sebagai calon menantunya sudah tiba di telinga Fauzi dan Wulan. Hal itu membuat Wulan menjelek jelekkan Lisna dan
menceritakan pada mama mertuanya.
"Ma, lihat ini deh ma. Berita terviral hari ini."
Wulan memperlihatlan layar handphonenya pada mama mertuanya yang sedang mencuci piring usai sarapan pagi ini.
"Loh, loh.. ini Lisna benaran sudah mau nikah lagi."
"Iya ma. Dia itu sudah lama selingkuh dengan pewaris kaya raya ini, ma.."
Fatimah hanya bisa diam saja.
"Ya biarkan saja dia. Mama sudah malas mendengar namanya saja mama sudah tidak suka."
Wulan tersenyum senang mendengar ocehan mama mertuanya yang bahkan tidak sudi lagi mendengar nama mantan menantunya itu.
"Ma.. dedek bayinya pup nih."
Itu suara Yuni. Dia memang sudah pernah punya anak kembar sebelumnya, tapi kalau di rumahnya ada beby sitter yang membantu mengganti popok anaknya. Nah saat menginap di rumah mama mertuanya sih ya mama mertua yang mengganti popok bayi nya kalau lagi pipis atau pup. Kalau dulu sih, Lisna yang ikut membantu.
"Iya, sebentar Yun." Sahut Fatimah yang masih sibuk mencuci piring.
"Yuni nggak bisa ganti popok anaknya sendiri ya, ma?" Tanya Wulan agak geli mendengarnya, padahal dia juga sama saja dengan Yuni.
"Iya, dia biasa dibantu pengasuh bayinya."
Fatimah mencuci bersih tangannya, barulah dia menghampiri Yuni untuk menggantikan popok si kecil yang sudah selesai pup.
Wulan hanya mengangkat kedua bahunya mengetahui Yuni ternyata juga sama sepertinya, tidak bisa mengganti popok anak sendiri.
"Aku kira si Yuni itu sudah mahir dalam mengurus bayi, ternyata sama saja."
Meninggalkan Wulan yang masih setia nongkrong di dapur, justru di halaman rumah Fauzi dan Firman sedang menjemur pakaian. Itung itung membantu pekerjaan mamanya yang mencuci pakaian mereka dan juga si bayi kecil.
"Selalunya mbak Lisna yang membantu mama mengerjakan pekerjaan rumah seperti ini." Ujar Firman mengingat bagaimana baik dan tulusnya Lisna.
"Sudah Fir, jangan mengungkit masa lalu lagi. Lagian sekarang Lisna juga akan menikah lagi." Tutur Fauzi.
"Mbak Lisna sudah mau menikah lagi? Mas tahu dari mana.."
__ADS_1
"Dari media sosial. Itu lagi rame ramenya berita tentang pemilik PT Jati memperkenalkan Lisna sebagai calon menantunya."
Segera saja Firman mengecek handphone-nya dan benar saja dia dengan mudah menemukan berita terviral itu. Bahkan sekarang, sudah ada editan foto Lisna dan anak pemilik perusahaan itu yang dibuat seakan mereka duduk bersampingan.
"Elang Pratama Putra.. Dia selebritis itu loh bang."
Fauzi tidak mengubris, dia masih terus menjemur pakaian.
"Mas tidak bisakah mas ajak mbak Lisna rujuk? Aku rasanya tidak rela mbak Lisna menikah dengan lelaki lain."
"Sudahlah Firman, biarkan saja Lisna. Dia memang baik, tapi hatiku cuma untuk Wulan. Kalaupun aku rujuk dengan Lisna, yang ada aku hanya akan terus membuat Lisna tersakiti."
Fauzi memang tidak bisa memdapatkan pelayanan terbaik dari Wulan sebagai istrinya dan dia hanya akan mendapatkan itu dari Lisna. Tapi, hati Fauzi tertambat pada Wulan. Ya, meski dia tahu Wulan seorang wanita yang kejam dan menakutkan.
"Kenapa sih mas nggak bisa mencintai mbak Lisna. Dia wanita yang sangat penyabar, baik dan juga tulus."
"Entahlah Fir. Yang jelas aku sudah tidak bisa balik lagi dengan Lisna. Aku sudah memilih Wulan, dan aku akan siap menerima baik buruknya Wulan."
Setidaknya selama Wulan masih menjadi istriku, aku tidak akan pernah kekurangan uang sedikitpun.
*
*
*
Luna tersenyum senang manatap wajah bahagia putra bungsunya.
"Pergilah temui Lisna. Ajak dia berkencan, lalu lamar dan nikahi dia."
"Tidak semudah itu, ma. Kak Lisna tidak akan semudah itu menerima perasaanku. Untuk saat ini, aku akan membujuknya untuk mau bekerja di perusahaan atau menjadi menejerku. Setelah itu, baru aku akan mendekatinya secara perlahan lahan. Aku tidak ingin kak Lisna merasa terpaksa ataupun di paksa."
"Ya sudah terserah kamu. Yang jelas sekarang, Lisna sudah tahu tentang abang yang menyebabkan kecelakaan.."
"Apa? Kak Lisna sudah tahu tentang itu, ma?"
Luna mengangguk yakin.
"Karena itulah dia datang ke sini, untuk menanyakan kebenaran tentang berita yang dibacanya."
"Lalu mama bilang apa?"
__ADS_1
"Ya mama mengakui salah dan mama minta maaf."
"Kak Lisna memaafkan mama?"
Luna menggeleng ragu dan itu membuat Elang semakin bingung.
"Lalu, kenapa mama malah mengumumkan bahwa kak Lisna calon menantu mama?"
"Ya.. mama juga tidak tahu. Yang jelas mama bersungguh sungguh menginginkan Lisna menjadi menantu mama."
Elang menghela napas dalam dalam. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran mamanya. Sekarang Elang bingung mau bagaiamana cara mendekati Lisna setelah dia tahu kenyataan sebenarnya dan mamanya malah menambah masalah dengan pengumumannya tentang Lisna sebagai calon menantunya.
"Jangan terlalu dipikirkan, El. Kamu tinggal bergegas sana, temui Lisna bujuk dia. Masalah selesai."
"Tidak semudah itu ma. Kak Lisna punya masalah dimasa lalu, terlebih dia juga baru di ceraikan oleh suami yang sangat dicintainya. Mama pikir aku bisa dengan mudah mendekati kak Lisna?"
"Ya coba saja dulu, El. Jodoh siapa yang tahu. Lagi pula hati manusia ini mudah dibolak balikkan."
Elang tidak bisa menjawab lagi. Dia hanya bisa mengusak wajahnya kesal.
"Pokoknya mama jangan menemui kak Lisna dulu untuk sementara. Biar aku yang mengurus semuanya." Tegas Elang kemudian dia pergi dari ruangan mamanya.
Luna hanya bisa menghela napas menatap kepergiaan putranya yang tampak kebingungan dan juga sepertinya tidak tahu harus melakukan apa.
Sementara kini Elang sudah tiba di mobilnya. Dia mengendarai mobilnya menuju tempat tinggal baru Lisna. Dia ingin melihat sendiri bagaimana keadaan Lisna setelah berita dirinya viral dan menyebar seperti ini.
Tidak butuh waktu lama, Elang tiba di tempat Lisna. Dan saat itu Lisna tampak biasa saja dengan mata dan tangan fokus pada laptopnya.
"Kak, bisa bicara sebentar?"
"Bicara saja."
El duduk di kursi samping sofa tempat konsultasi pasien dokter Yumna. Dia mengatur napasnya dan mencari posisi duduk yang nyaman.
"Aku minta maaf atas nama abang Erwin yang menjadi penyebab kecelakaan yang menewaskan keluarga kakak." Ucap Elang sambil menunduk, dia tidak berani menoleh kearah Lisna.
"Lupakan saja El. InsyaAllah aku sudah ikhlas atas kepergian keluargaku. Aku rasa meski bukan karena kakakmu, takdir mereka memang akan dipanggil Allah pada malam itu. Ya, meski aku masih merasa kepergian mereka karena kalimat yang keluar dari mulutku, tapi aku juga sedang mencoba untuk tidak menyalahkan diriku lagi atas kepergian mereka."
"Terimakasih banyak kak. Kak Lisna benar benar berhati luas." Elang menengok kearah Lisna yang tetap fokus pada laptopnya.
"Jika tidak ada yang ingin kamu sampaikan lagi, pergilah El. Sebentar lagi dokter Yumna akan kedatangan pasien, jadi ruangan ini harus dikosongkan segera."
__ADS_1
El menggangguk ragu, dia pun bangkit dari posisi duduknya dan melangkah malas untuk meninggalkan ruangan itu. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan Lisna, tapi sepertinya sekarang bukan saat yang tepat.