
Hari hari kehamilan Lisna benar benar dijaga oleh mama mertuanya saat Elang harus pergi bekerja. Padahal Lisna sehat sehat saja. Tapi begitulah Elang yang menjadi super overprotektif sejak Lisna hamil.
Lisna hamil dalam keadaan sehat. Dia tidak merasa mual dan muntah yang berlebihan ataupun merasa kecapekan yang berlebihan. Karena kandungannya sangat sehat. Hal itu membuat Luna dan Elang merasa sedikit lega dan tidak perlu terlalu khawatir dengan keadaan Lisna.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Kandungan Lisna sudah membesar. Elang semakin sering mengobrol dengan bayinya dari hari ke hari. Bukan hanga Elang, Luna dan Sultan juga sering mengajak calon cucu mereka itu berkomunikasi.
Sungguh Lisna dilimpahi kebahagiaan yang tiada tara saat mengandung buah hatinya yang pertama.
"Mas, boleh tidak kalau aku usg melihat jenis kelamin dedek bayinya?" Tanya Lisna pada Elang.
"Tentu boleh sayang. Tapi, ingat apapun nanti jenis kelaminnya harus terima dan yang paling pentingnya lagi, kamu dan bayinya harus sehat."
"Siap papa." Lisna menirukan bahasa bayi membuat Elang gemas hingga mencubit pelan kedua pipi Lisna yang semakin hari semakin berisi.
"Mas, nanti habis melahirkan aku pasti gemukan." Ocehnya melihat bentuk tubuhnya di depan kaca.
"Memangnya kenapa kalau gemukan?"
"Ya aku takut, nanti mas malah cari yang lebih muda dan seksi."
Elang tersenyum mendengar ocehan Lisna yang memang akhir akhir ini merasa tidak percaya diri karena berat badannya yang terus bertambah naik.
"Mau seperti apapun kamu, bagiku kamu tetap wanita paling cantik di negeri ini." Bisik Elang yang mulai melingkarkan tangannya di perut Lisna.
Dielusnya lembut permukaan perut yang tampak besar itu. Lalu tiba tiba si dedek bayi pun menendang. Hal itu membuat Elang mengganti posisinya. Dia mendekatkan wajahnya ke perut buncit Lisna.
"Halo sayang, mau bermain bersama papa?"
__ADS_1
Buggkk..
Bayinya menendang lagi. Elang mengelus pelan bagian perut Lisna yang ditendang oleh calon bayi mereka.
"Jangan menendang mama terlalu sering. Nanti mama sakit loh sayang." Ujar Elang yang berakhir mendapat tendangan lagi dari si bayi. Tapi tendangan kali ini tidak kuat, hanya sekedar bergerak gerak saja.
"Oh lucunya. Papa jadi tidak sabar ingin bermain bersama anak papa. Sehat terus ya sayang." Elang mengecup permukaan perut Lisna.
Setelah itu, Elang mengajak Lisna untuk segera tidur karena malam semakin larut.
Jarum jam terus berputar, hari pun terus berganti, minggu pun berganti dan bulan berganti kini tiba lah saatnya Lisna akan melahirkan.
Luna dan Sultan menunggu di depan ruangan bersalin. Sementara Elang menemani istrinya berjuang untuk melahirkan anak pertama mereka. Lisna memilih untuk melahirkan normal karena posisi bayi yang juga terdeteksi baik baik saja dan juga dokter bilang Lisna akan melahirkan dengan mudah.
Benar saja, hanya sekitar dua jam setelah pembukaan empat terdeteksi, Lisna langsung melahirkan anak pertama mereka dengan sempurna, dalam keadaan sehat.
"Selamat bapak Elang, putra anda telah lahir dengan berat 4,2." Dokter mendekatkan putra kecil Elang padanya.
Elang langsung mengazankan ditelinga putranya yang masih menangis itu. Namun, saat azan dari Elang terdengar oleh telinganya, bayi mungil itupun diam dan mengedip ngedipkan matanya seakan dia merasa senang.
Usai persalinan, Lisna dan bayinya langsung dipindahkan ke ruangan vip.
"Kamu baik baik saja, sayang?" Elang terus menanyakan keadaan Lisna. Dia khawatir istrinya itu kenapa kenapa.
"Aku baik baik saja, mas." Jawab Lisna memang masih merasa lemas, maklum baru selesai melahirkan.
Hari itu Mirna dan Reza berkunjung menjenguk Lisna dan bayinya.
__ADS_1
"Selamat ya, Lis. Akhirnya kamu punya anak juga." Seru Mirna memberikan selamat pada Lisna.
"Terimakasih ya, mbak."
Reza juga mengucapkan selamat untuk Lisna dan Elang atas kelahiran putra pertama mereka.
"Ridho kenapa tidak dibawa, mbak?" Tanya Lisna.
"Dia main bersama sepupu sepupunya di rumah neneknya. Ya kalau sudah bertemu sama mereka, Ridho bahkan tidak peduli kalau kita tinggal pergi ke luar negeri sekalipun." Oceh Mirna menceritakan putra kecilnya.
Oh iya. Berita tentang Lisna yang akhrinya punya anak juga sampai pada Wulan dan Yuni. Mereka bak terbakar jenggot, merasa sangat tidak suka.
"Kenapa hidupnya begitu beruntung. Sudah punya suami kaya raya, punya anak lagi." Rutuk Yuni saat menjenguk mama mertuanya.
"Aku juga dulunya orang kaya, Yun. Karena memilih mas Fauzi aku jadi miskin. Lisna memilih pilihan yang tepat untuk meninggalkan mas Fauzi." oceh Wulan tampam frustasi.
"Mbak menyesal dong memilih mas Fauzi?"
"Tentu saja. Tapi apa boleh buat. Kini aku bahkan tidak bisa meninggalkannya karena aku mengandung bayinya lagi kembar pula."
Yuni tersenyum miris mengenang nasip kakak iparnya itu. Yuni sedikit lebih beruntung karena Firman punya gaji yang tetap setiap bulannya meski memang tidak sebanyak gaji suami Lisna. Sementara Wulan, harus bertahan hidup serba kekurangan dengan Fauzi yang kadang gajian kadang tidak.
"Menurutku sih mbak Wulan kena hukuman karena merebut suami orang." Sindir Yuni yang berakhir mendapat jambakan dari Wulan.
Mereka saling menjambak, sementara para suami hanya bisa menghela napas kasar. Dua wanita itu kadang menjadi sangat akrab dan kadang menjadi musuh bebuyutan.
Kondisi Fatimah mulai membaik sejak dia mendengar Lisna akhirnya punya anak. Dia juga sering ditelpon oleh Lisna dan Lisna juga sering mengirimkan makanan untuknya. Itu membuat Fatimah merasa lega dan merasa kondisinya perlahan membaik.
__ADS_1
Sementara Fitri memilih menikah dengan saudagar kaya raya untuk menjadi istri ke empat pria tua itu. Fitri memilih sendiri jalan hidupnya. Dia tidak ingin berakhir menyedihkan seperti kedua kakak iparnya yang memilih bertahan dengan pria kere.