
Tidak ingin diam saja. Lisna akhirnya datang ke kantor pusat PT Jati untuk menemui Luna Yuanita.
"Bu, nona Lisna ingin menemui ibu."
Sekretarisnya memberitahukan kedatangan Lisna.
"Dimana dia?"
"Masih di lobi, bu. Sekuriti melarangnya masuk."
Mendengar itu membuat Lisna lansung berlari keluar dari ruangannya. Dia melangkah cepat masuk ke lift dan menekan tombol dasar untuk tiba di lobi.
"Akhirnya Lisna menemuiku."
Luna benar benar tampak bahagia. Dia pikir Lisna masih belum tahu tentang kecelakaan yang menyebabkan kedua orangtua dan kakaknya meninggal.
Langkahnya begitu cepat saat dia tiba di lobi. Matanya sudah menangkap sosok Lisna yang masih berdebat dengan sekuriti yang menghalanginya untuk masuk.
"Lisna!"
Sekuriti itu berhenti menghalangi Lisna saat mendengar Luna menyerukan nama Lisna.
Lisna menatap wajah Luna setelah sekian lama tidak bertemu. Wanita itu tampak masih cantik seperti waktu itu. Hanya saja sekarang tampak sedikit menua. Tapi, Lisna masih mengingat jelas wajah itu, wajah wanita yang memeluknya dengan hangat ditengah dinginnya guyuran hujan.
"Lisna, ya ampun sayang. Kamu sudah tumbuh dewasa sekarang!" Luna hendak menyentuh wajah Lisna, tapi ditepis begitu saja olehnya. Hal itu membuat Luna merasa heran, tapi dia tidak marah atau tersinggung sedikitpun.
"Berhenti berbuat baik padaku, tante Nita. Aku tahu tante Nita melakukan semua ini karena rasa bersalah atas kematian orangtua-ku, bukan?" Ujar Lisna.
Mata Luna bergetar mendengar kalimat yang keluar dari mulut Lisna barusan. Dia terkejut, karena akhirnya Lisna tahu penyebab kecelakaan maut yang menewaskan keluarganya.
"Maafkan tante, Lisna. Tante sungguh minta maaf atas nama putra sulung tante." Luna langsung berlutut dihadapan Lisna.
Hal itu membuat Lisna merasa tidak enak hati dan salah tingkah. Semua mata karyawan yang ada di lobi menatap sinis pada Lisna itu karena Lisna membuat seorang Luan Yuanita berlutut dihadapan wanita miskin sepertinya.
"Jangan seperti ini. Anda hanya akan membuat orang orang berpikir aku adalah wanita kejam dan buruk." Ujar Lisna.
Perlahan Luna kembali berdiri. Dia malah semakin merasa bersalah, karena memang kini beberapa karyawannya mulai bergosip buruk tentang Lisna.
"Jangan menilainya sepeti itu. Dia adalah calon menantuku!" Luna menyatakan itu dengan lantang dihadapan para karyawannya yang membuat mereka terperangah kaget.
Yang tak kalah kagetnya adalah Lisna. Dia tidak habis pikir wanita tua itu akan mengumumkan kebohongan besar yang akan menciptakan masalah besar bagi Lisna yang baru saja menjanda selama empat bulan.
Jika sampai berita ini tiba di telinga mantan mama mertua dan mantan suaminya, sudah pasti mereka akan membenarkan tuduhan Wulan yang menfitnahnya berselingkuh.
"Apa yang anda lakukan ibu Luna?" Bisik sekretarisnya.
__ADS_1
"Saya hanya sedang memberitahu semua orang bahwa Lisna adalah calon menantu saya."
"Katakan itu hanya kebohongan, tante. Aku sudah bersuami." Tegas Lisna pada Luna.
"Jangan berbohong Lisna. Saya tahu kamu sudah bercerai dan suamimu sudah hidup bahagia bersama istri barunya. Jadi, tidak ada salahnya jika kamu menikah lagi dan menjadi menantu saya." Jawab Luna tidak kalah seriusnya.
Tidak ingin berlama lama ditempat itu, Lisna akhirnya pergi begitu saja tampa pamit pada Luna sama sekali.
Luna hendak mengejar Lisna.
"Jangan buk. Biarkan nona Lisna pergi. Dia terlihat sangat terkejut atas pernyataan ibu yang tiba tiba."
Luna menghela napas. Dengan berat hati dia mengurungkan niatnya untuk menyusul Lisna. Mungkin sekretarisnya benar, Lisna butuh ruang untuk menyendiri setelah dikejutkan dengan pernyataannya yang tiba tiba.
*
*
*
Berita tentang Luna yang mengumumkan bahwa Lisna adalah calon menantunya tersebar begitu cepat diseluruh media sosial.
Teman teman Elang mulai bergosip, mereka menerka nerka wajah Lisna, membandingkan dengan mata wanita yang pernah dibawa oleh Elang saat tanding bola kaki waktu itu.
"Ini bernaran kak Lisna yang El bawa saat tanding bola waktu itu." Ujar seorang gadis cantik pacar temannya Elang.
Mereka melirik lirik El dengan mengedipkan mata menggoda. El kira mereka sengaja menggoda untuk membuat El kalah dalam bermain basket. Jadi, dia tidak terlalu memperdulikan orang orang yang mulai sibuk meneriaki namanya.
"El, ya ampun.. cie cie…"
Elang mengankat bahunya heran, dia melirik pada teman disebelahnya yang juga tidak tahu apa yang terjadi.
"Bodoh amat, ah. Lanjut main.."
Pertandingan basket berlangsung dengan baik. Seperti biasa Elang menang lagi. Dia sangat ahli dibidang olah raga apapun. Tidak ada yang tidak dimenanginya saat pertandingan.
Tapi, akhir akhir ini Elang mulai merasa lebih cepat lelah dari sebelumnya. Dan itu sepertinya karena faktor umur. Stamina Elang di usia 26 tahun tentu tidak sama seperti saat dia masih umur belasan atau bahkan awal dua puluhan. Tapi, meski begitu, belum ada cabang olahraga yang saat dia main dikalahkan lawan. Dia selalu menang.
"Keren, keren!"
Teman satu tim El memeluknya. Mereka berhasil menang lagi kali ini. Mereka bahkan sampai mengangkat tubuh Elang sebagai selebrasi kemenangan mereka.
Usai selebrasian, Elang langsung menghampiri klub cewek cewek yang menggodanya tadi.
"Ada apaan sih heboh banget.." Tanya Elang pada mereka.
__ADS_1
Salah satu cewek memperlihatkan layar ponselnya pada Elang.
"Apaan sih.." El mengambil alih handphone milik cewek itu. Dia mulai membaca artikel terkait dirinya disalah satu sosial media karyawan yang bekerja di PT Jati.
"Calon mantu?" Mata Elang membola membaca pernyataan mamanya yang mengumumkan bahwa Lisna adalah calon menantunya.
"Siiittt, apa yang mama rencanakan?"
El memberikan kembali handphone itu pada pemiliknya. Lalu dia meraih tas sandangnya yang berisi pakaiannya, serta kunci mobilnya. Dia cabut begitu saja tanpa pamit pada teman temannya.
"Apa yang mama lakukan? Apa mama serius mau menikahkan kak Lisna sama abang Erwin.." Gumam Elang khawatri.
Erwin adalah kakak kandungnya yang menjadi penyebab kecelakaan maut yang dialami kedua orangtua Lisna. Erwin koma selama lima tahun, dan kini kondisinya mulai membaik tapi dia lumpuh dan tidak bisa bicara.
"Tidak, mama tidak boleh menikahkan kak Lisna sama abang. Aku menyukai kak Lisna sejak saat itu."
Mobilnya melaju kencang menuju perusahaan. Tujuan Elang untuk menemui mamanya dan meminta mamanya untuk membatalkan niatnya menikahkan Lisna dengan Erwin.
Setibanya di perusahaan, Elang berlari masuk ke gedung itu dengan keadaan keringat bercucuran dan masih memakai seragam basketnya.
Elang tambah keren saat bercucuran keringat. Membuat mata para karyawan menatap kagum padanya.
"Mama!" Elang menerjang masuk ke ruangan mamanya yang sedang rapat dengan banyak karyawan.
Mereka semua terperangah kagum melihat betapa laki nya Elang dengan postur tubuh atletisnya, rambut agak panjang yang basah karena keringatnya. Elang tampak sangat mempesona.
"Elang!" Seru Luna yang membuat semua karyawan mengalihkan pandangan mereka dari Elang.
"Kenapa mama mengumumkan kak Lisna sebagai menantu mama?" Tanya Elang tanpa peduli pada orang orang yang masih ada di ruangan itu.
"Rapat kita tunda sejam kedepan. Kalian silahkan meninggalkan ruangan ini." Titah Luna pada karyawannya.
"Baik ibu."
Merekapun segera meninggalkan ruangan itu. Hingga tersisa Elang dan mamanya saja.
"Mama mau menikahkan kak Lisna dengan abang?"
Pertanyaan itu membuat Luna mengerutkan dahinya.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu, El?"
"Mama pernah bilang mau menikahkan abang dengan kak Lisna waktu itu."
Luna tersenyum geli menatap wajah cemburu putra bungsunya itu.
__ADS_1
"Mmm, secara usia, Lisna memang lebih pantas bersanding dengan abang. Tapi, secara hati, sepertinya adik lebih unggul." Ujar Luna yang berhasil membuat rasa cemburu Elang berkurang.