
Saat Lisna tiba di rumah Wulan, dia disambut oleh bik Siti pembantu Wulan.
"Ya Allah.. nyonya Lisna kenapa bisa terluka begitu banyak seperti ini?" Tanya Siti khawatir.
"Tidak apa bik. Hanya jatuh biasa." Jawab Lisna sambil tersenyum.
"Mari saya antar nyonya ke kamar. Saya juga bisa membantu mengobati luka nyonya."
"Tidak usah bik. Saya sudah mengobati luka luka ini dirumah sakit kok tadi."
Siti hanya bisa tersenyum iba melihat keadaan Lisna. Lalu dia segera mengantarkan Lisna ke kamarnya yang ada di lantai dua juga, tepat disebelah kamar Wulan. Seperti janji Wulan pada Fauzi untuk tidak membuat Lisna merasa terasing di rumah ini.
Begitu tiba di kamar yang luas itu, Lisna langsung terduduk begitu saja di lantai. Dia tidak menangis, hanya duduk diam dengan menatap kosong keadaan kamar yang sunyi itu. Ada perasaan terhina dan diinjak injak oleh madunya yang kaya raya ini dengan keputusan tinggal bersama seperti ini.
Sementara itu, di kamar sebelah. Pengantin baru sedang mengadakan ritual malam pertama mereka. Fauzi benar benar terlena dan terbuai dalam layanan Wulan. Dia melupakan bahwa ada satu istri yang begitu tersakiti karena ketidak tegasannya.
"Sayang, bisakah kau memanggilku dengan panggilan mas. Rasanya tidak apik jika kamu memanggilku sayang dihadapan Queen."
"Tentu, mas. Meski terdengar kaku dan aneh, tapi aku akan segera terbiasa." Ujar Wulan.
Mereka kembali melanjutkan ritual mereka. Padahal di luar sana hujan kembali turun dengan derasnya. Petir bahkan menyambar nyambar dan guruh pun menggelegar memekakkan telinga.
Queen yang sendiri dikamarnya pun merasa ketakutan dan menangis bersembunyi dibawah selimut tebalnya. Sementara Lisna menutup telinganya dengan kuat menggunakan kedua telapak tangannya. Ingatan malam saat dirinya hendak bunuh diripun kembali terbayang. Hingga wajah kedua orangtua dan kakaknya pun hadir dalam ingatannya.
Tidak berapa lama, telinga Lisna sayup sayup mendengar tangisan anak kecil. Untuk memastikan apa yang dia dengar, dia pun menjauhkan tangan dari telinganya.
"Suara menangis anak kecil!" Serunya.
Lisna pun mulai berdiri, lalu melangkah mendekati pintu kamarnya. Meletakkan daun telinganya dipintu untuk mendengarkan lebih jelas suara tangisan yang sayup karena derasnya suara hujan diluar sana.
Tangan Lisna menarik ganggang pintu hingga pintu itu terbuka. Matanya menatap sosok mungil menangis menyembunyikan wajahnya di lututnya. Dia terduduk di depan pintu kamar Wulan dan Fauzi.
*Gadis kecil yang malang.*
Lisna masih ingat wajah mungil yang memanggil suaminya dengan sebutan papa waktu itu. Lalu, naluri keibuan Lisna membawa langkah kakinya mendekati gadis kecil itu.
"Queen!" Seru Lisna lembut dengan mengelus kepala Queen yang membuat Queen mendongak untuk melihat pemilik suara yang menyebut namanya.
"Tante siapa?"
Lisna tersenyum. Disapunya air mata di wajah mungil itu.
__ADS_1
"Aku Lisna. Kamu bisa memanggilku tante Lisna." Jawab Lisna ramah.
Duarrr…
Suara guruh yang lantang membuat Queen langsung menghambur dalam pelukan Lisna. Dia gemetar ketakutan.
"Tidak apa sayang, jangan takut. Ada tante disini." Bisik Lisna memeluk lembut tubuh mungil yang bersembunyi ketakutan dalam pelukannya.
"Aku takut tante, aku takut tidul sendilian di kamalku." Rengeknya.
Tanpa menunggu lama, Lisna menggendong Queen membawanya masuk ke kamarnya. Tubuh mungil itu Lisna baringkan di tempat tidur yang luas itu.
"Queen tidur disini bersama tante, mau?" Tanya Lisna.
"Mau." Jawabnya.
Tangan mungil Queen menggengam erat jari telunjuk Lisna saat Lisna bergerak untuk membentangkan selimut.
"Jangan pelgi tante.."
"Tidak sayang, tante hanya mau menyelimuti si cantik ini supaya tidak kedinginan."
Lisna berhasil menyelimuti tubuh mungil Queen.
Mata itu terpejam, tapi tangannya tetap menggenggam erat telunjuk Lisna. Karena tidak ingin membuat Queen terbangun lagi, Lisan pun akhirnya ikut berbaring disebelahnya.
*
*
*
Pagi menjelang, saat Queen membuka matanya dia menyadari dirinya tidak berada dikamarnya. Lalu dia teringat ternyata tadi malam dia tidur dengan Lisna.
"Tante, Lisna!" Serunya.
Queen beranjak dari tempat tidur. Langkah kecilnya membawanya mencari keberadaan Lisna di kamar mandi, tapi tidak ditemuinya sosok lembut yang menenangkan itu.
"Tante Lisna kemana?"
Queen yang tampak sedih dan khawatir langsung melangkah keluar dari kamar itu. Saat sudah di luar kamar, matanya melirik kearah pintu kamar mamanya yang masih tertutup rapat.
__ADS_1
"Tante Lisna.."
Dia melnjutkan langkahnya menuju lantai satu. Dia terus memanggil Lisna, tapi matanya tak juga menemukan sosok yang dicarinya. Langkahnya pun berakhir menuju dapur.
"Tante Lisna." Pnggilnya saat melihat Lisna berdiri sambil memotong sayuran di meja konter dapur.
"Hei, cantik. Kamu sudah bangun!" Seru Lisna menoleh pada gadis kecil itu.
Dia tersenyum lega karena mendapati Lisna benar benar nyata bukan hanya sekedar mimpi. Dia pun berlari untuk memeluk Lisna. Gadis kecil itu hanya bisa memeluk bagian pinggang Lisna yang berhasil membuat Lisna terkejut dan bik Siti pun ikut terkejut melihat Queen sudah akrab dengan Lisna padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya.
Lisna melepaskan lingkaran tangan Queen di pinggangnya, lalu dia berjongkok untuk bisa menyamakan tinggi mereka.
"Ada apa sayang? Apa kamu bermimpi buruk?" Tanya Lisna lembut.
"Tidak tante. Aku hanya takut tante pelgi.."
Kalimat itu membuat Lisna tersenyum. Dia tidak terharu, karena Lisna tidak ingin membagikan hatinya pada gadis kecil yang dilahirkan oleh wanita yang telah merebut suaminya. Tapi, Lisna tidak akan menyakiti gadis kecil itu sama sekali.
"Tante tidak akan bisa pergi dari rumah ini untuk sementara waktu. Jadi Queen tidak usah takut. Oke!"
Queen mengangguk, lalu kembali memeluk Lisna.
Bik Siti tersenyum haru melihat interaksi Queen dengan Lisna. Siti juga kagum pada Lisna, karena memperlakukan Queen sangat lembut bahkan berkali kali lebih lembut dari cara Wulan memperlakukan gadis kecil itu.
Naluri keibuan nyonya Lisna sungguh mengagumkan. Meski belum pernah punya anak sendiri, tapi nyonya Lisna terlihat keibuan. Non Queen pasti akan bahagia memiliki nyonya Lisna disisinya.*
Siti bisa melihat Lisna sangat tulus. Buktinya seorang anak kecil yang bisa merasakan dan tahu siapa orang yang tulus dan siapa yang hanya berpura pura. Queen membuktikan betapa tulusnya dan baik hatinya seorang Lisna.
"Non Queen, mandi dulu yok. Non harus berangkat kesekolah hari ini." Ajak Siti.
Mendengar suara Siti membuat Queen melepakan pelukannya ada Lisna dengan perasaan berat.
"Tante aku madi dulu. Aku mau ke sekolah."
"Iya sayang, pergilah mandi dulu. Tante akan menyiapkan sarapan untuk si cantik menggemaskan ini." Lisna mencubit lembut kedua belah pipi Queen yang malah membuat gadis itu tertawa kesenangan.
"Aku sayang tante Lisna." Ucap Queen.
Cup…
Satu kecupan mendarat di pipi Lisna, pelakunya tentu saja Queen.
__ADS_1
*Maafkan aku Queen. Hati ini tidak bisa membalas rasa sayang dari kamu.*