Aku Memang Pelakor

Aku Memang Pelakor
Hari Jadi


__ADS_3

Beberapa kali Niko mencerna ucapan Jessika, sampai pada akhirnya dia bertanya,


"Apa itu artinya, iya?"


"Benar sekali, pak!" Jawab Jessika sambil menganggukan kepalanya dengan yakin, mengabaikan Rossa yang hanya bisa terbengong mendengarkan percakapan dua orang di hadapannya yang tak dia mengerti sama sekali apa makasud dari percakapan yang hanya di mengerti oleh mereka berdua saja.


"Hmm,,!" Rossa berdeham seolah mengisyaratkan pada dua orang yang sedang asik mengobrol itu kalau dirinya ad di sana juga.


"Baiklah kalau begitu, sepertinya saya mengganggu acara anda berdua, saya hanya ingin menyampaikan hal itu saja." Pamit Jessika mengakhiri keisengannya mengganggu acara Rossa dan Niko, di bawah meja sana kaki Jessika yang sejak tadi sengaja menggoda nakal kaki Nikopun akhirnya mengakhiri aksinya.


Memang bukan suatu kebetulan jika Jessika kini berada di hotel yang sama dengan Niko dan Rossa yang sedang merayakan hari jadi mereka,


namun semua itu memang sudah Jessika rencanakan tentu saja, tidak ada yang tidak terencana dalam hubungan antara Jessika dan NIko, semua yang terjadi pada mereka sesuai dengan skenario yang di tulis oleh Jessika sendiri.


Jika Rossa menunggu hari ini karena ingin merayakan anniversarynya denngan sang suami, begitu juga dengan Jessika yang juga sengaja menunda untuk menerima ungkapan cinta Niko, karena Jessika ingin menjawabnya tepat pada hari spesial pasangan suami isteri itu.


Jessika bahkan sengaja berdandan dengan sagat cantik malam itu, gaun warna marun panjangnya dengan belahan paha tinggi menggoda yang dia kenakan saat ini bahkan sengaja dia buat seoah tidak sengaja senada dengan jas marun yang di pakai Niko saat ini, sehingga jik orang lain lihat di meja itu Jessika lah pasangannya, bukan Rossa yang malam itu mengenakan gaun hitam glamor blinkblinknya.


"Emh-- nona Jessika!" Panggil Niko saat Jessika sudah mulai berdiri dan bersiap untuk meninggalkan tempat itu.


"Ya, pak Niko!" Jessika menoleh ke arah pria yang sudah di pastikan ulai saat ini menjadi miliknya itu.


"Saya sangat senang bisa bekerja sama dengan Anda!" Ucapnya lugas.


Jessika hanya menjawb dengan senyuman tipisnya kemudian berlalu dari hadapan Niko dan Rossa.


Jessika berjalan meinggalkan tempat itu dengan perasaan yang sangat bahagia dan lega karena pada akhirnya dia bisa mendapatkan Niko, yang tadinya dia pikir akan sangat sulit untuk menaklukan hatinya, mengngat bagaimana keankuhan Niko sat pertaa kalibertemu, belum lagi cerit ari banyak pihak yang mengatakan kalu Niko itu suami ang sangat mencintai istriya.


"Arrggh bullshiiiit!" Pekik Jessika, mmenurutnya ternyata pria sama saja, di goda sedikit langgung goyah.

__ADS_1


Namun saat Jessika hendak menaiki lift, tanganya seperti di tarik seseorang dengan kencangnya sehingga dia tersentak menjauh dari pintu lift yang saat itu udah terbuka.


Tubuh Jessika menubruk dada keras dengan aroma khas yang sangat dia kenali, tapat seperti dugaannya, Niko ternyata menyusulnya.


Langkah kaki Niko terburu-buru membawanya melewati lorong hotel, menuju ke tangga darurat yag berada di berada di ujung lorong itu, membuka pintu besinya , lalu menyeret Jessika masuk ke dalam sana.


"Kamu gila mas, untuk apa kita ke sini?" Protes Jessika, menengok ke kanan dan ke kiri memeriksa keadaan sekitarnya yang terasa sepi, memang tangga darurat sangat jarang di gunakan oleh tamu hotel maupun karyawan, karena mereka semua lebih memilih menggunakan lift untuk naik dan menuruni lantai.


"Bagaimana aku tak gila, jika kamu menggoda ku sejak tadi, lalu kamu pergi meninggalkan ku begitu saja!" Bisik Niko yang menyudutkan tubuh Jessika pada tembok, lalu mengukung tubuh Jessika denga kedua tangannya yang dia tempatkan di sisi kanan dan kiri bahu gadis itu.


Diperlakukan seperti itu, Jessika merasa dadanya berdebar semakin cepat, seluruh tubuhnya pun terasa meremang seketika.


Mereka berdua terdiam, namun saling bertatapan lekat, setelahnya Niko melakukan hal yang sangat ingin di lakukannya sejak tadi saat Jessika menggodanya di bawah meja dengan kakinya.


'Ah sial, kenapa di jarak yang sedekat ini dia malah terlihat begitu tampan!?' Gerutu Jessika dalam batinnya.


Sungguh saat ini Jessika meras takut jika sampaai dirinya terbawa suasana dan tak bisa membatasi dirinya untuk tidak jatuh cinta pada Niko.


Lu matatan lembut di bibirnya itu terlalu indah dan terlalu nikmat untuk di hindari apalagi sampai di tolaknya.


Jantung Jessika masih berdebar dengan sangat cepat, dia juga menyelaraskan nafasnya yang terasa ngos-ngosan seperti habi berlari 2 putaran lapangan sepak bola.


Berkali-kali dia mengingatkan dirinya untuk tidak jatuh cinta pada Niko, pencuri ciuman pertamanya dan memberinya pegalaman juga warna baru dalam hidupnya yang selama ini belum pernah dia rasakan dan dapatkan di selama hidupnya, namun dirinya tak boleh terhanyut dengan permainan balas dendam yang di ciptakannya sendiri.


Ini gila, bagaimana bisa ciuman pertamanya di renggut di tempat yang sama sekali jauh dari bayangannya, dimana dalam bayangannya itu ciuman pertamanya di lakukan di tempat yang romantis, namun ternyata itu di lakukan ditangga darurat sebuah hotel mewah, itu benar-benar tak terpikirkan dlam kepalanya dn mungkin tak akan pernah terlupakan di sepajang umurnya.


Bahkan yang tak kalah gila itu adalah Niko, bagaimana bisa dia sempat-sempatnya bermesraan dengan Jessika, sementara mungkin saat ini Rossa tengah menunggunya, entah dengan alasan apa tadi yang di pakai Niko saat meminta ijin pada Rossa agar dia bisa pergi meninggalkan istrinya itu.


"Belahan baju mu itu terlalu tinggi, aku tak suka tadi banyak mata pria memandang mu dengan tatapan laparnya, aku cemburu!"

__ADS_1


Niko sengaja mengangkat kepalana sebatas telinga gadis yang baru saja berstatus sebagai kekasihnya itu, berbicara lirih di dekat daun telinga yang di hiasi dengan anting menjuntai panjang sebatas bahu menambah kesan glamor dan seksi pada penampilan Jessika malam itu.


Niko juga seakan sengaja menghembuskan nafasnya tepat di telinga kekasihnya itu sehingga seluruh tubuh Jessika bergetar hebat.


"Mas, nanti ada yang masuk ke sini dan akan bahaya jika ada yang melihat kita seperti ini," cicit Jessika berusaha melepaskan diri dari kukungan tangan NIko.


"Tapi aku masiih ingin bersama mu, aku ingin merayakan hari jadian kita!" Ucap NIko persis bak anak abg yang baru saja jatuh cinta,


"Mas, kamu ke sini bersama istri mu, nanti dia akan curiga kalau kamu menghilang terlalu lama,"


"Tunggu aku di basement, tidak sampai 10 menit aku akan turun dn meneui mu, kamu bawa kendaraan kan?" tanya Niko.


"Ta-tapi,"


"Sssttt, patuhlah! Tunggu aku di sana!" Niko menempelkan jari telunjuknya di bibir merah Jessika seraya mengatakan kalau kekasihnya itu tak perlu banyak bertanya, cukup patuh dan percayakan semuanya padanya.


Jessika mau tak mau mengikuti apa yang di perintahkan oleh Niko yang sekarang seolah sudah menguasi dan memiliki dirinya semenjak dirinya menerima cinta pria beristri itu.


Sementara Niko kembali menuju rooftop menemui sang istri yang di tinggalkanya hanya karena dirinya tak kuasa menahan perasaannya untuk menemui kekasih gelapnya yang membuat gairah dari dalam dirinya tiba-tiba tak bisa di bendungnya.


"Dari mana? Kok lama?" Selidik Rossa penuh curiga saat suaminya baru saja kembali sejak 15 menit yang lalu di berpamitan untuk ke toilet.


"Ah, itu-- tadi aku bertemu salah satu klien ku, jadi kami sedikit mengobrol, tak enak juga kalau aku meninggalkannya begitu saja," Niko beralasan.


"Jadi kamu merasa tak masalah jika meninggalkan ku seperti orang bego di sini nunggu lama banget, kita itu lagi merayakan hari pernikahan kita, tapi kamu masih saja mengurusi masalah pekerjaan yang tak pernah ada habis-habisnya itu. Mulai tadi ada perempuan yang datang menawarkan kerja sama, lalu pamit ke tiolet sampai lama begini, kamu kenapa sih sebenarnya? Kamu mulai berubah belakangan ini?" Rossa akhirnya terpancing juga emosinya.


"Aku sedang tak mau berdebat dengan mu, kalau kamu masih mau marah-marah seperti ini, lebih baik aku menyelesaikan deadline ku. Jangan Tunggu aku pulang, sepertinya aku lembur. Kamu juga butuh menenangkan diri!" Kata Niko seakan mendatkan celah dari kemarahan Rossa itu.


"Niko, tunggu! Tapi aku sudah buka kamar di sini untuk kita," teriak Rossa.

__ADS_1


"Kamu boleh menginap di sini sendiri, kamu bawa mobil ku pulang, aku naik taksi saja!" ucap Niko datar dan dingin.


__ADS_2