Aku Memang Pelakor

Aku Memang Pelakor
Reuni


__ADS_3

"Kamu masih cantik seperti dua tahun yang lalu," puji Ibnu.


"Terimakasih, namun sayangnya suami ku tak melihat itu dari ku, dia lebih tertarik dengan pekerjaannya di banding menemani ku di hari peringatan ulang tahun pernikahan kami ini," adunya dengan suara tercekat karena menahan tangisnya, hidungnya terasa panas dan buliran bening dari sudut matanya mulai tak bisa lagi di bendungnya.


"Hey, Cha, apa yang terjadi, apa suami mu menyakiti mu?"


Tangan Ibnu terulur mengusap lelehan bening yang memaksa terjun dari sudut mata mantan kekasihnya itu. Eh, tapi tunggu, bukan kah di antara mereka tak pernah terucap kata perpisahan, dulu?


Rossa mulai menjaga jarak dengan Ibnu, saat seminggu setelah kematian sang istri, Rossa meminta Ibnu untuk menikahinya, tapi Ibnu meminta waktu karena keluarganya masih berduka, sejak itu Rosa selalu menghindar, puncaknya dua minggu kemudian Rossa datang tengah malam ke rumah Ibnu untuk memberi tahu Ibnu kalau esok harinya dia akan menikah dengan pria bernama Niko.


Bahkan 'salam perpisahan' mereka yang begitu panasnya terjadi malam itu, malam dimana keesokan paginya Rosa akan mengucapkan janji suci perkawinan dengan pria lain.


Dan sejak Rossa menentukan pilihannya untuk menikah dengan Niko, Ibnu seakan di telan bumi, tak dapat lagi Rossa hubungi apa lagi untuk Rossa temui, kabar terakhir yang di dapat Rossa, kalau kekasihnya itu pindah ke luar kota.


"Cha, jangan menagis terus seperti ini, katakan apa yang terjadi?" Tanya Ibnu lagi, karena pertanyaannya tadi belum juga di jawab Rossa.


"Aku tidak tau, aku hanya merasa kalau suami ku kini telah berubah, akhir-akhir ini dia tak peduli lagi pada ku, bahkan saat ini, hari yang seharusnya dilewati berdua, tapi dia memilih untuk pergi, dengan alasan pekerjaan," tangis Rossa pecah di dada Ibnu, dada pria yang dulu selalu menjadi tempat ternyamannya itu.


"Aku tak tau kalau ternyata kamu menderita seperti ini Cha, aku pikir kamu bahagia dan baik-baik saja dengan pilihan mu itu," Ibnu mengusap usap punggung wanita yang pernah lama menjadi selingkuhannya saat dirinya masih terikat pernikahan dengan almarhum istrinya.


"Ini semua gara-gara kamu, andai saja waktu itu kamu mau menikah dengan ku, aku tak mungkin memutuskan untuk menikahb dengannya, ini salah kamu!"


Rossa memukul-mukul dada Ibnu sambil meraung-raung, selain efek mabuk dari wine yang di tenggaknya, sepertinya dia juga merasa sangat terpukul dengan kejadian ini, membuat beberapa pengunjung menujukan perhatiannya pada mereka.


"Cha, kamu mabuk. Pliss jangan bersikap seperti ini, aku jadi merasa bersalah," Ibnu mencoba mernenangkan Rossa.


"Kamu memang bersalah, apa kamu mau mengingkarinya kalau semua ini memang salah mu?!" Alih-alih tenang, Rossa justru malah semakin menjadi.


"Cha, ayo aku antar pulang, kamu mabuk!" Ibnu memapah Rossa agar mau keluar dari tempat itu, karena kini mereka sudah menjadi pusat perhatian dan tontonan para pengunjung lounge.


"Tidak, aku tidak mau pulang!" Tolak Rosa sambil terus berteriak dan berontak.

__ADS_1


Namun Ibnu tak kehilangan akalnya, dia segera menggendong tubuh Rossa untuk segera keluar dari tempat itu dengan paksa.


"Kemana aku harus mengantar mu pulang?" Tanya Ibnu.


"Aku tak mau pulang!" Racau Rossa.


"Katakan di mana alamat rumah mu, aku akan mengantarkanmu ke sana,"


"Antar kan aku ke sini saja!"


Rossa menyodorkan sebuah kartu akses kamar hotel itu. Tertera nomor kamar 1705.


Ibnu lantas membawa Rossa yang masih berada di gendongannya itu memasuki lift menuju ke kamar yang di maksud yaitu di lantai 5.


Setelah berhasil membuka pintu kamar dengan kartu akses yang masih dalam genggamannya, Ibnu berniat untuk langsung berpamitan, tapi sungguh dia tak tega meninggalkan Rossa sendirian di sana dalam keadaan mabuk dengan hati dan pikirannya yang sepertinya juga sedang kacau.


"Cha, aku akan membuatkan mu teh hangat, ya!" Kata Ibnu yang lalu berdiri hendak menuju mini bar yang terletak di pojokan kamar tipe suite room itu.


"Tolong untuk tetap di sini, aku gak mau sendirian," mohonnya mengiba.


"Cha, aku tak kemana-mana, aku hanya membuatkan mu teh hangat agar kamu tenang," Ibnu kembali duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


Namun matanya tiba-tiba menangkap sesuatu yang sangat membuatnya miris, sekitar 4 atau 5 meter dari tempatnya duduk, sebuah ranjang besar berhias kelopak bunga mawar merah denga masih terlihat rapi dan utuh, sepertinya Rossa memang sangat terpukul karena sudah mempersiapkannya sedemikian rupa namun kenyataan yang di dapatnya sangat menyakitkan.


"Kamu liat kan, aku bahkan sudah menghiasnya sedemikian rupa untuk merayakan hari ini, tapi aku malah merayakannya sendirian," ratapnya.


"Cha, kamu gak sendirian. Aku ada di sini, aku akan menemani mu,"


Ibnu mengecup singkat bibir merah yang selama 3 tahun terakhir ini tak lagi dapat di rasainya.


Ibnu tak dapat menahan gejolak yang sejak tadi di tahannya itu.

__ADS_1


Di luar dugaan, Rosa justru menyergap Bibir Ibnu saat pria itu baru saja melepaskan kecupan singkatnya, seakan tak ingin pagutan nya terlepas, Rossa menciumi bibir Ibnu dengan buasnya, dia meluapkan segala emosi yang bercampur aduk di dalam dadanya.


"Wangi tubuh mu tak pernah pernah berubah, aku masih sangat mengenalnya," cicit Rossa saat dia mengecupi dada Ibnu dari balik kemajanya, sementara tangannya sibuk melepaskan kancing kemeja pria itu satu persatu agar tak menghalangi aksinya menciumi dada bidang itu.


"Dan kamu masih beringas seperti dulu, selalu bisa membuat ku melayang ke angkasa!" Bisik Ibnu tepat di daun telinga Rosa yang sedang asik menikmati dada yang kini terbuka tanpa ada lagi kain yang menghalanginya.


Ibnu kembali mengangkat tubuh enteng Rossa ke arah kasur yang bertaburkan kelopak bunga mawar merah itu.


"Sepertinya ranjang ini harus kita gunakan untuk merayakan pertemuan kembali kita setelah 3 tahun berlalu," ucap Ibnu lagi dengan suara yang serak menahan gairah.


Rossa mendesis saat merasakan tangan Ibnu mulai mengelus paha bagian dalam nya menyingkap mini dress yang membuat pria itu lebih leluasa menja mah bagian itu.


"Ibnu, aku merindukan mu, aku menmencintai mu, mmasih sangat mencintai mu!" racau Rossa saat menerima kenikmatan yang seharusnya di berikan Niko, namun malah dia dapat dari Ibnu.


Keduanya tak berhenti mengerang dengan permainan yang sama-sama memabukan seperti wine yang mereka tenggak tadi, tubuh Rossa yang selalu menjadi candu buat Ibnu sejak dahulu, membuat pria itu hilang akal,saat dia bertemu kembali dengannya, melupakan kalau wanita yang baru saja mendaki kenikmatan bersamanya itu adalah istri orang.


"Aku juga sangat merindukan mu, dan sabgat mencintai mu!" Ibnu mengecup dalam kening Rossa yang terlelap dalam pelukannya karena kelelahan bergulat dengannya.


***


Keesokan harinya, tepat pukul 5 sore Rossa baru sampai di rumahnya, hatinya sudah kembali bahagia karena bertemu kembadengan cinta masa lalu nya, dia tak begitu memikirkan lagi suaminya yang meninggalkannya di hotel semalam.


"Ingat pulang juga rupanya, tak sekalian kau pindahkan saja barang-barang mu ke kantor biar tak perlu lagi bilak-balik ke rumah!" Sinis Rossa saat menjelang magrib Niko baru pulang ke rumah.


Padahal dirinya sendiri pun belum ada satu jam sampai di rumah setelah sehari semalaman bergumul melepas rindu dengan Ibnu.


Namun Niko tak menjawab pertanyaan istrinya, dia hanya menatap sekilas wajah istrinya lalu buru-buru dia memalingkan wajahnya dan naik ke kamarnya, mandi dan berganti pakaian bahkan tak meminta maaf sedikit pun atas kesalahannya yang telah meninggalkan istrinya sendirian di hotel.


"Mau kemana lagi kamu?!" Teriak Rossa saat melihat suaminya seperti hendak pergi lagi, padahal dia baru saja pulang, dan sepanjang ingatan Rossa, suaminya itu tipe pria yang betah sekali di rumah, jadi setelah pulang kantor, pasti di rumah, keluar itu kalau pergi bersama dirinya.


"Bukankah kau menyuruh ku untuk tidur di kantor saja dan tidak bolak-balik ke rumah?" Jawab Niko menyambar kunci mobilnya yang dari semalam di pakai Rossa.

__ADS_1


__ADS_2