
Niat hati ingin mengajak Jessika menghabiskan malam tahun baru dengan dirinya meskipun kemungkinan keberhasilannya hanya 0,01% dan 99,99% ditolak, Niko tetap melaksanakan keinginan hatinya, namun apa daya dari kejauhan dia sudah melihat Jessika keluar dari rumahnya dengan dandanan yang sangat cantik malam itu.
Di dorong oleh rasa kepenasarannya, Niko diam-diam akhirnya mengikuti kemana Jessika pergi, dia akan berpura-pura tak sengaja bertemu di tempat nongkrong Jessika malam ini, namun ternyata dua orang perampok malah menjegal langkah Jessika, melihat hal itu terjadi pada wanita yang masih sangat di cintainya, tentu saja Niko tak mau tinggal diam dan hanya berperan sebagai penonton saja disana, membiarkan Jessika menyerah dengan memberikan tasnya.
Tanpa pikir panjang lagi, Niko langsung menarik clutch yang dengan sukarela Jessika berikan pada para penodong itu, sehingga salah satu pria yang sedang memegang senjata itu langsung menarik pelatuk dan memuntahkan timah panas ke arah Niko, tanpa dia duga-duga.
Niko langsung tergeletak di tanah bersimbah darah, tangannya masih memegang tas milik Jessika dengan erat, sementara kedua perampok tadi langsung melarikan diri.
"Nik, Niko! Bangunlah,!" teriak Jessika yang langsung meluruh ke tanah dengan dengan perasaan yang cemas dan ketakutan.
Jessika mengambil cluth di tangan Niko dan mengeluarkan ponselnya untuk memanggil ambulan, untung saja otaknya masih bisa di ajak berpikir dengan waras di tengah kekacauan yang terjadi.
Bayangan tentang bersuka cita merayakan pergantian tahun di sebuah klub dengan meriah pupus sudah, karena kini Jessika harus melewati pergantian tahun di depan ruang UGD sebuah rumah sakit karena menunggui Niko yang sedang berjuang melawan hidup dan matinya.
Jessika terus saja berjalan mondar mandir kesana kemari di depan pintu UGD yang tertutup itu, jantungnya berdetak sangat kencang, pikirannya kacau tak karuan memikirkan keadaan Niko di dalam sana yang sedang di tangani dokter.
Hampir satu jam berlalu, namun pintu ruangan itu masih juga tertutup, tak ada tanda-tanda dokter atau siapapun keluar dari ruangan yang kini terasa menyeramkam bagi Jessika, rasanya di seumur hidupnya dia tak ingin lagi menginjakan kakinya disana, cukup kali ini saja.
Bayangan buruk terus saja menghantui pikiran Jessika, apalagi gambaran tentang bagaimana tadi Niko tergeletak bersimbah darah saat menyelamatkan nyaa dari para perampok itu, membuat dirinya semakin bergidik ngeri, takut bila ternyata hal sangat buruk terjadi pada pria yang tiba-tiba kini menginvasi seluruh ruang di jiwanya itu.
Tepat satu jam lebih sepuluh menit, saat Jessika melirik jam yang melingkar di tangannya, seorang dokter keluar dari pintu yang sebelumnya tertutup itu, Jessika segera saja berlari menghampiri dokter wanita yang terlihat sangat lelah itu.
__ADS_1
"Dok, bagaimana kondisi pasien?" Jessika memberanikan diri bertanya pada dokter yang baru saja menangani Niko, dia juga mempersiapkaan dirinya untuk mendengar jawaban sari dokter itu jika ternyata jawabannya akan membuat dirinya syok.
Jessika bahkan sampai memahan nafasnya saat dokter itu mulai membuka mulut hendak menjawab pertanyaannya.
"Anda keluarganya?" tanya balik dokter itu (pastinya gak pake bahasa Indonesia, tapi kita Indonesiakan saja 😁 ).
"I-iya saya---" Jessika mendadak bingung harus mengakui Niko sebagai siapanya.
"Suami anda baik-baik saja sekarang, beruntung peluru hanya mengenai bahunya saja, sekarang sudah di keluarkan dan seharusnya tidak berefek fatal, kalau semuanya sudah oke, besok pagi bisa pulang," terangnya.
Nyessss,,,,!
perasaan Jessika langsung menghangat saat mendengar penjelasan dokter tentang keadaan Niko yang ternyata tak seburuk yang dia bayangkan.
"Niko,,," cicitnya pelan sambil terus memandangi wajah pucat Niko seperti tak ingin melepaskan pandangannya ke manapun, trus berjalan dengan langkah lebar mengekor brankar yang di dorong di lorong rumah sakit dengan sedikit tergesa.
Sayangnya Niko masih tetap saja terpejam, membuat Jessika semakin dilanda cemas.
Hampir sekitar setengah jam lamanya Jessika menunggui Niko yang masih dalam keadaan seperti itu airmatanya luruh kembali melihat tubuh lemah di atas ranjang itu, jemarinya terus saja menari di atas punggung tangan Niko yang tak membalas tautan tangannya.
sampai saat Jessika hendak beranjak dari tempat duduknya karena ingin mengambil ponselnya yang terus saja berbunyi, tangannya di tahan oleh tangan Niko yang memegangi tangannya seakan tak reka Jessika menjauh darinya.
__ADS_1
"Niko, kamu sudah sadar?" kaget Jessika bercampur haru, saat tangannya terasa di tarik oleh Niko.
Mata Niko mengerjap beberapa kali menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke matanya dan membuatnya silau.
"Jess, kamu menangis?" itu kalimat pertama yang keluar dari bibir Niko yang baru saja tersadar itu.
"Kamu pikir aku bisa tidak menangis jika melihat mu sok menjadi pahlawan kesiangan dan tak memperdulikan nyawa mu sendiri? Bagaimana jika kamu kehilangan nyawa mu hanya gara-gara ingin menyelamatkan cluth ku yang tak berisi apa-apa itu?" omel Jessika panjang seperti kereta api.
Namun Niko hanya membalasnya dengan senyuman, "Setidaknya aku mati untuk orang yang aku cinta," jawabnya asal.
"Apa kamu menghawatirkan ku?" goda Niko.
Jessika mendengus kesal, sungguh dia tak ingin kalau Niko tau bahwa dirinya menghawatirkan pria itu sejak tadi.
"Aku tak menghawatirkan mu, aku hanya kesal padamu, karena kau telah merusak acara malam tahun baru ku dengan teman-teman ku!" ketus Jessika, meskipun berusaha untuk memasang wajah marah dan kesal, sepertinya saat ini terlihat gagal, karena kecemasannya tak dapat di sembunyikan dari wajahnya.
"Kau bisa merayakannya dengan ku, masih ada lima belas menit lagi, belum terlambat untuk merayakannya," ujar Niko asal.
"Apa kau gila? Bukankah yang tertembak itu bahu mu bukan kepala mu? Kenapa kau pede sekali kalau aku akan terus menemani mu, kau sudah sadar maka aku akan pergi!" masih dengan nada ketus Jessika berusaha tetap memasang batasan antara dirinya dan Niko, lantas memencet tombol pemanggil dokter untuk memberitahukan kalau kondisi Niko sudah sadar, agar dokter segera memeriksanya.
"Istri anda sangat mencemaskan anda, sejak tadi saat anda di ruang UGD, dia tidak berhenti menangis dan cemas," kata dokter yang memeriksa Niko dengan santainya, namun tak pelak perkataannya itu membuat wajah Jessika memerah karena malu.
__ADS_1
Niko melirik ke arah Jessika lantas melemparkan senyuman manisnya, namun Jessika membuang jauh pandangannya, dia tak kuasa bersitatap dengan mata Niko yang seakan meminta penjelasan darinya tentang apa yang di katakan dokter itu tentangnya, sungguh jika itu benar, Niko sangat bahagia dan merasa musibah ini memang jalan Tuhan untuk mendekatkan kembali dirinya dengan Jessika yang menjauh darinya dan seolah sangat susah untuk di jangkau.