Aku Memang Pelakor

Aku Memang Pelakor
Full Senyum


__ADS_3

Rossa sungguh merasa suaminya itu sudah banyak berubah, dia tak tau apa alasannya, hanya saja instingnya sebagai seorang istri mengatakan kalau suaminya itu sedang bermain api di belakangnya, sialnya untuk saat ini dirinya memang belum bisa membuktikan kecurigaannya itu.


Rasanya sepanjang ingatan Rossa, tak pernah sekalipun Niko memperlakukannnya se buruk ini, tak pernah Niko se marah itu dan meninggalkannya hanya karena perdebatan kecil, apalagi sampai meninggalkannya saat sedang merayakan anniversary pernikahan mereka hanya karena pekerjaan, sungguh itu sama sekali bukan Niko, pikir Rossa.


Sementara di basement hotel, dengan raut wajah yang full senyum Niko menghampiri Jessika yang dengan patuh menungguinya di dalam mobil.


Jessika tadinya tak yakin kalau Niko mampu berbuat setega itu, meninggalkan Rossa di hari jadi pernikahannya hanya demi dirinya.


"Mas, mau kemana kita?" tanya Jessika pada Niko yang kini mengambil alih kemudi mobilnya.


"Terserah kemana pun mau mu, aku hanya mau menghabiskan malam dengan mu, merayakan hari spesial kita." Tangan kiri Niko melepaskan setir yang sejak tadi di genggam erat oleh kedua tangannya, kini sebelah tangannya beralih menggenggam tangan Jessika yang bersandar manja di pundaknya.


"Aku hanya ingin pulang dan beristirahat," pancing Jessika, berharap Niko ikut pulang dengannya ke apartemen miliknya, otak jahatnya menginginkan Niko menghabiskan malam dengannya dan tak sudi membiarkan Rossa berbahagia khususnya malam ini.


Biarlah Rossa mulai menuai karma buruknya sedikit demi sedikit, Jessika hanya ingin Rossa merasakan perihnya di hianati, seperti yang di rasakan oleh kakaknya dulu.


"Kalau begitu aku ikut dengan mu," Niko mengecupi jemari Jessika yang kini masih di kuasainya itu.


"Lalu istri mu? Bukankah hari ini seharusnya kalian merayakan anniversary pernikahan kalian?" ceplos Jessika.


Niko tiba-tiba memutar lehernya ke arah Jessika yang kepalanya masih bersandar di bahunya itu,


"Dari mana kamu tau?" Niko mengangkat sebelah alisnya.


"Oh, itu tadi aku liat ada buket bunga bertuliskan happy anniversary, jadi aku hanya menebak kalau kalian sedang merayakan hari pernikahaan kalian!" Gugup Jessika, bagaimana bisa dirinya begitu ceroboh membahas tentang hal itu, untung saja dia bisa berpikir dengan cepat di tengah kegugupannya.

__ADS_1


"Oh, itu," kini giliran Niko yang terlihat gugup karena sepertinya kini dia sedang memilih kata yang tepat untuk di sampaikan pada Jessika, berusaha agar tak salah dalam berucap dan merusak moment mereka saat ini.


"Ya, tapi aku lebih memilih untuk merayakan hari jadi kita," kata Niko seperti terlihat enggan membahas tentang dirinya dan Rossa.


"Hem, maaf ya, sudah merusak acara kalian, aku gak tau kalau hari ini adalah hari jadi pernikahan kalian, tadi aku tak sengaja bertemu kamu saat aku sedang bertemu klien ku di hotel itu, dan saat aku liat kamu ganteng banget tadi, aku jadi gak bisa nahan diri buat menemui kamu," goda Jessika dengan cengir kudanya.


"Kamu nakal sekali, konsentrasi dan pikiran ku langsung buyar saat tau-tau kamu ada di hadapan ku, seminggu tak bertemu dengan mu rasanya sangat tersiksa, hampir saja aku menyerah dan mengira kalau kamu menolak ku," Niko mengecup pucuk kepala Jessika sekilas, hatinya terasa sangat bahagia, karena penantian panjangnya kini telah berbuah manis.


Jika saat ini Niko dan Jessika tengah berbahagia dengan full senyum menghiasi wajah mereka, lain halnya dengan Rossa yang meratapi kesedihannya, melewati hari spesial yang harusnya di lewati dengan suaminya, namun dia harus mlewatinya sendirian.


Kamar hotel yang sudah di booking nya dari jauh-jauh hari dan sudah di dekor dengan sedemikian rupa sehingga nuansa kamar itu menjadi sangat romantis dengan taburan bunga di tanjang dan lilin aroma yang harusnya bisa menenangkan jiwa Rossa justru malah membuat batinnya semakin merasa nyeri saat melihat semua itu.


Karena tak dapat tertidur, Rossa akhirnya memutuskan untuk turun ke lantai 3, menuju lounge hotel untuk sekedar menikmati beberapa gelas wine agar dia bisa melupakan semua masalahnya untuk sejenak saja.


Mengenakan gaun super ketat berwarna merah menggoda yang harusnya dia kenakan untuk membuat gairah Niko yang mulai mengabaikannya akhir-akhir ini agar kembali melihat dirinya.


Bagaimana tidak, Gaun merah yang di kenakan Rossa saat itu hampir manampakan seluruh bagian tubuh Rossa, di mana panjang rok yang jauh di atas lutut dengan belahan dada yang rendah hampir membuat kedua gunung kembarnya seperti berlomba keluar dan ingin melihat dunia.


Namun Rossa tak memperdulikan semua itu, lagi pula Rossa itu tipe perempuan yang memang haus pujian dan senang sekali menjadi pusat perhatian, jadi hal seperti itu tidak membuatnya risih, namun malah semakin bangga, karena menurutnya itu berarti dia lebih baik dari yang lain, sehingga menjadi pusat perhatian orang banyak.


Ini memang bukan pertama kalinya Rossa datang ke lounge hotel itu, kadang dia datang bersama teman-temannya untuk sekedar nongkrong cantik.


Saat Rossa sedang asik menikmati wine nya di meja bar sambil melihat pertunjukan bartender yang mempertontonkan keahliannya dalam meracik minuman yang akan di sajikan pada para pengunjung, sebuah tangan terulur dan menepuk bahunya dari arah belakang.


"Cha!" Panggilnya membuat jantung Rossa mencelos, rasanya seperti sedang menaiki wahana bermain kora-kora, di mana jantungnya dibuat terasa seperti naik turun dan berdetak dengan anarkis.

__ADS_1


Tak ada orang lain yang biasa memanggilnya dengam panggilan 'Ocha' selain mantan kekasihnya yaitu Ibnu, kekasih pertamanya sekaligus mantan terindahnya yang tak mungkin bisa di lupakan begitu saja.


Rossa terlihat memutar kursi tinggi yang di dudukinya untuk membuktikan tebakannya.


Benar saja, Ibnu yang merupakan suami dari almarhum Jeslyn, atau mantan kekasihnya dulu kini sedang berdiri sambil menatapnya penuh rindu.


Begitu pun dengan Rossa yang bahkan seperti tak bisa berkedip sekalipun akibat mata mereka yang saling memandang terkunci.


"Ibnu?" Cicit Rossa, seraya mengucek matanya berulang kali karena merasa tak percaya dengan apa yang kini di lihatnya.


Otaknya yang mulai terpengaruh minuman itu seakan mulai agak lama mencerna apa yang di pikirnya.


"Ya, ini aku. Apa minuman di tangan mu membuat mu jadi melupakan wajah ku?" Ibnu menjunjuk gelas berisi wine yang masih berada di genggaman Rossa.


"Bukan begitu, aku hanya---"


"Hanya tidak menyangka kalau ternyata akhirnya kita bertemu lagi, kan?" Sambar Ibnu mendudukan dirinya di kursi kosong yang tepat berada di sebelah kiri Rossa.


"Aku pikir kita tak akan bertemu lagi, sudah dua tahun kita tak bertemu semenjak kejadian itu," pikiran Rosa susah payah mengingat saat terakhir kali dirinya bertemu dengan mantan kekasihnya itu dua tahun yang lalu, tepat satu hari sebelum dia melakukan ijab kabul dengan Niko.


"Ckk, kejadian dimana kamu lebih memilih menikahi pria yang tak kamu cintai sama sekali, demi untuk bisa menghindari dan melupakan ku," decak Ibnu sinis.


"Dan sialnya, sampai kini aku masih belum bisa melupakan mu," racau Rossa yang kini otaknya setengah sadar itu.


"Kamu masih cantik seperti dua tahun yang lalu," puji Ibnu.

__ADS_1


"Namun sayangnya suami ku tak melihat itu dari ku, dia lebih tertarik dengan pekerjaannya di banding menemani ku di hari peringatan ulang tahun pernikahan kami ini," adunya dengan suara tercekat karena menahan tangisnya.


__ADS_2