
"Rossa!" teriak Niko dengan langkah lebarnya langsung berhambur mendekati tubuh Rossa yang terasa sangat dingin dan tergeletak di lantai dengan wajah yang memucat.
"Rossa, apa yang terjadi, bangunlah!" dengan cemas Niko menepuk nepuk pipi Rossa pelan, namun tak ada balasan dari wanita yang pernah mengisi hatinya selama beberapa tahun belakangan ini.
Niko langsung mengangkat tubuh lemas tak berdaya itu dengan sekali hentakan, Niko sudah terbiasa menggendong tubuh wanita itu dulu, jadi hal ini bukan suatu yang menyulitkan baginya.
"Jess, tolong antar kami ke rumah sakit!" pinta Niko pada Jessika yang hanya bisa terpaku melihat adegan demi adegan di depan matanya itu.
Bagai kerbau di cocok hidungnya, dengan patuh Jessika mengekor langkah lebar Niko yang menggendong tubuh istrinya di depan ala bridal style menuju mobil.
Jessika duduk di balik kemudi sementara Niko dan Rossa yang masih tetap berada di gendongan Niko duduk di bangku penumpang belakang.
Jujur saja ini terasa menyakitkan untuk Jessika, dia benar-benar seperti orang asing di antara mereka, apalagi melihat Niko yang begitu mencemaskan keadaan Rossa, membuat dirinya berpikir ulang untuk meneruskan rencana balas dendamnya yang sudah di susun selama bertahun-tahun itu, dia merasa kalau Niko sebenarnya masih mencintai Rossa, dan apakah tidak sangat kejam jika dirinya memisahkan mereka, terlebih akan hadir bayi tak berdosa di antara mereka, jika dirinya berbuat sekejam itu, lantas apa bedanya dia dengan Rossa?
"Jess, terimakasih. Maaf merepotkan mu!"
Sepertinya Niko cukup paham dengan apa yang di rasakan Jessika saat ini, dia juga merasa serba salah dalam posisinya yang sekarang ini, di satu sisi dia tak ingin membuat Jessika merasa cemburu dan terluka, namun di siai lain dia juga tak mungkin membiarkan dan tak menolong Rossa yang pingsan begitu saja, apalagi dia sedang hamil yang bisa saja anak dalam kandungannya merupakan darah dagingnya seperti yang sering Rossa akui padanya, di samping itu sebagai sesama manusia dia juga tak bisa begitu kejam membiarkan manusia lain yang lemah dan tak berdaya di hadapannya tergeletak begitu saja.
__ADS_1
"Hemh," Jessika hanya mengangguk pelan tanpa menimpali apa pun perkataan Niko padanya, mulutnya seakan kaku dan tak bisa berkata-kata.
"Percayalah, tak ada maksud lain selain niat ku yang hanya ingin menolong saja atas dasar kemanusiaan." terang Niko terus saja meyakinkan kekasihnya yang serius melihat jalanan di hadapannya dan membelokan kendaraan itu ke sebuah rumah sakit besar yang tak jauh dari butiknya, monil pun terparkir tepat di depan ppintu lorong UGD agar memudahkan perawat membawa Rossa, dan satu lagi, agar Niko tak terus menggendongi wanita itu, hati Jessika rasanya perih melihat semua itu.
Rossa sedang di tangani dokter yang berjaga di ruang UGD rumah sakit, Niko terus saja mondar mandir di luar ruangan dengan wajah yang terlihat sangat cemas, sementara Jessika masih diam terpaku berdiri di sudut ruangan, entah apa yang membuatnya bertahan sampai detik ini di sana, sementara dia bisa saja pulang dan meninggalkan Rossa dan Niko di tempat itu, namun rasa penasarannya sepertinya melebihi keinginannya untuk pergi dari tempat itu.
Rasanya dia ingin lebih meyakinkan dirinya, benarkah apa yang sedang di lakukannya sejauh ini, bisakah dirinya menerima Niko, jika pria itu saja masih sangat peduli dan mencemaskan istrinya seperti itu?
Gemuruh rasa yang tak karuan di dada Jessika membuatnya kini bertahan di tempat itu demi meyakinkan dirinya untuk menentukan langkah apa yang selanjutnya harus dia pilih.
Rossa sudah di pindahkan ke ruang rawat inap, Jessika menyarankan Niko untuk menjaganya sebelum keluarganya datang untuk menjaga Rossa, sementara dia pamit untuk pulang.
Sebenarnya ini keputusan yang sulit, dimana dia harus merelakan Niko berduaan dengan Rossa, bisa saja cinta kembali bersemi di antara mereka, namun persis seperti yang di katakan Niko padanya, semuanya atas dasar kemanusiaan.
"Aku pulang, mas." pamit Jessika dengan wajah yang di buat sedatar mungkin.
"Jess,,," ucapan Niko menggantung begitu saja, karena dia pun bingung hendak mengatakan apa pada kekasihnya itu, posisinuwsungguh benar-benar sulit saat ini.
__ADS_1
"A-aku akan mengantar mu sampai depan, Rossa juga masih tertidur," akhirnya Niko menemukan kata-kata yang pas untuk di ucapkan pada kekasihnya itu. Jessika mengangguk setuju.
Tepat di pintu keluar rumah sakit, seorang wanita dengan menggendong bayi menyapa Jessika.
"Hai Jessika, siapa yang sakit kenapa ada di sini?" tanya wanita yang ternyata Amanda itu terlihat khawatir, bagaimana pun Jessika sangat berjasa karena telah memberi tahu kelakuan Ibnu di belakangnya, sehingga kini Amanda memilih untuk tinggal di apartemen Ibnu demi agar pria itu bisa dia pantau.
"Emh, ah itu, teman!" gugup Jessika, dia takut kalau Niko mengenali Amanda yang notabene adalah istri dari Ibnu, akan banyak pertanyaan jika sampai itu terjadi.
"Oh, syukurlah kalau bukan kamu, aku baru imunisasi Lili." terangnya, lantas Amanda pun berlaku setelah sedikit berbasa basi.
"Siapa dia, sayang?" tanya Niko penasaran.
"Hanya klien biasa." bohong Jessika.
"Kalian terlihat sangat akrab?"
"Aku selalu akrab dengan semua klien ku, sudahlah tak perlu membahas hal yang tak penting!" elak Jessika buru-buru berpamitan dari Niko agar kekasihnya itu tak bertanya lebih jauh mengenai Amanda.
__ADS_1