Aku Memang Pelakor

Aku Memang Pelakor
Karma instan


__ADS_3

Niko membuntuti mobil yang Rossa kendarai bersama Ibnu dari kejauhan, beruntung saat ini mereka menggunakaan mobil Jessika, jadi Rossa tak akan curiga dengan mobil yang membuntutinya sejak dari rumah makan tadi.


"Mas, tenanglah, kendalikan emosi mu, bisa saja itu hanya teman istri mu, atau hanya rekan kerja saja," Jessika pura-pura menengkan Niko yang terlihat sangat gugup saat berkendara dan mengikuti mobil yang di tumpangi Rossa dan Ibnu yang berjarak beberapa meter di depan mereka.


Padahal sungguh jauh di dalam hati Jessika dia bersorak sorai dan bertepuk tangan dengan meriahnya, apalagi saat mobil yang mereka ikuti masuk ke pelataran parkir sebuah apartemen di pinggiran kota, yang Jessika tau kalau itu merupakan tempat tinggal Ibnu yang sering di sambangi oleh Rossa akhir-akhir ini.


"Apa ini, kemana dia pergi?" Gumam Niko dengan gigi yang gemelutuk menahan marah.


"Mas, tolong tenang dulu sebelum semuanya jelas,"


"Aku sudah menduganya, dan memang sudah menaruh kecurigaan dari semenjak pulang perayaan hari jadi pernikahan saat itu," gumam Niko seolah berbicara pada dirinya sendiri.


"Apa maksudnya mas?" Tanya Jessika yang tak begitu mendengar dengan jelas apa yang Niko gumamkan.


"Ah, tidak." Tampik Niko.


Sungguh Niko tak ingin mengumbar aib rumah tangganya dengan Rossa, dia tak ingin memberi tahu siapa pun juga jika saat terakhir kali dirinya pulang ke rumah setelah pertengkaran mereka di malam perayaan anniversary mereka di hotel, Niko melihat ada dua tanda merah di leher belakang dan leher sebelah kiri istrinya.


Tentu saja Niko tidak bodoh, sekilas saja Niko sudah bisa memastikan kalau itu bekas kissmark yang di lakukan seseorang, sementara sudah hampir sebulan ini dia tak pernah berhubungan dengan istrinya, dan itulah yang membuat 3 hari yang lalu dia memilih untuk meninggalkan rumah dan menginap di kantor.


"Mas, mereka turun!" Jessika membuyarkan lamunan Niko, wanita itu tak ingin Niko kehilangan momentum dimana Rossa sedang bermain gila dengan Ibnu.

__ADS_1


"Mas, mereka ber---" Jessika heboh sendiri saat menyaksikan Rossa berciuman dengan Ibnu sesaat setelah mereka turun dari mobilnya, namun anehnya Niko justru seperti tak tertarik melihatnya, dia justru memalingkan wajahnya taak ingin melihat pemandangan dimana istrinya sedang bermesraan dengan pria asing yang sedang bersamanya itu.


Entah apa yang harus dia lakukan saat ini, dan entah reaksi seperti apa yaang harus dia tunjukkan setelah melihat adegan vulgar itu.


Harus marah? Bukankah dia sendiri pun melakukan hal yang sama dengan Jessika tanpa sepengetahuan istrinya? Masih pantaskah dia marah?


Cemburu? Jujur untuk yang satu itu Niko sendiri belum bisa memastikannya, karena anehnya tak ada lagi rasa cemburu untuk Rossa, perasaan marahnya saat ini lebih ke kesal karena merasa di hianati, tapi itu pun menjadi tersamarkan karena seperti halnya Rossa, dirinya pun melakukan penghianatan yang sama.


"Ckk,,, di tempat umum saja berani se mesra itu, bagaimana kalau di tempat tertutup?" Cicit Jessika memanas-manasi Niko yang masih belum bereaksi apapun atas apa yang di lihatnya, padahal Jessika berharap kalau Niko murka dan melabrak dua orang yaang telah menyakiti kakakanya itu.


"Sudahlah, ayo kita pulang. Aku pulang ke apartemen mu." Pungkas Niko seakan tak peduli dengan ucapan Jessika yang berusaha menyulut emosinya.


"Hah, serius? Pulang?" Jessika membelalakan matanya tak percaya.


Jessika terdiam, berpikir dan mempelajari apa yang terjadi, ini sungguh tak sesuai dengan apa yang di harapkan dan di rencanakannya, dimana dirinya berharap kalau Niko akan marah besar dan melabrak Rossa dan Ibnu, namun ternyata perkiraan nya itu sangat keliru, Niko justru terlihat seolah mengabaikan apa yaang di lihatnya, meskipun Jessika juga tak tau apa yang tengah di rasakan di dalam hati Niko, karena tak a da seorang pun yang bisa menyelami hati orang lain.


Meski sedikit kecewa, namun Jessika tetap optimis, dia hanya perlu merubah sedikit rencana dan sedikit lebih bersabar.


"Are you okay, sayang ?" Jessika mendekati Niko yang duduk di sofa ruang tengah apartement nya, dengan mood yang terlihat tak begitu bagus dari sebelumnya saat mereka tadi sebelum melihat Rossa bermesraan dengan Ibnu, namun di tanya seperti itu Niko hanya menggeleng pelan.


"Kamu boleh bercerita apa pun pada ku, mas. Aku mohon jangan memendamnya sendirian, aku tau kau pasti marah dan--- cemburu," Jessika menjeda ucapannya saat dia menebak kalau Niko sedang cemburu pada Niko d an Ibnu saat ini.

__ADS_1


"Kecewa, lebih tepatnya aku kecewa, kalau untuk cemburu, entah kenapa rasanya tak ada rasa itu di dalam sini," Niko menunjuk dadanya sendiri.


"Tak cemburu? Mas, jangan menutupinya hanya karena kamu tak enak pada ku, ayolah ceritakan semua yang kamu rasakan saat ini pada ku, biar kamu lebih plong. Aku bersedia menjadi pendengar setia mu," Jessika menyodorkan segelas teh hangat dan duduk di sebelah pria yang terlihat murung itu.


Kepala Jessika bersandar manja di bahu kokoh Niko, tangannya melingkar di pinggang dan perut rata tak berlemak itu.


"Aku benar-benar tak merasa cemburu, mungkin ini karma instan yang aku dapatkan karena aku juga telah menghiananti pernikahan kami, bukankah kata pepatah jodoh itu cerminan diri? Jadi dia seperti itu mungkin karena aku seperti ini!" ucap Niko seraya senyum di paksakan.


"Tapi bisa saja mereka yang terlebih dulu berhianat, tapi kamu tak menyadarinya," pancing Jessika.


"Terlepas dari siapa pun yang terlebih dahulu di antara kami yang berhianat, yang jelas kami sama-sama menghianati pernikahan dan itu faktanya." Sampai saat ini Niko masih belum mau menyalahkan Rossa, dia masih berpegang teguh kalau dalam hal ini dirinya tak bisa mempersalahkan siapapun karena dirinya pun sama bersalahnya.


"Mas, apa kamu menyesal menjalin hubungan diam-diam dengan ku dan menghianati istri dan pernikahan mu?" Jessika mengeluarkan jurus menyesal dimana menjadikan dirinya sebagai orang yang paling merasa bersalah atas semua yang terjadi pada rumah tangga Niko dan Rossa, untuk menarik simpati Niko.


Dan berhasil, Niko langsung mendekapnya erat lalu mengangkat dagunya yang pura-pura tertunduk karena merasa menyesal.


"Apa yang kamu katakan? Tentu saja aku tak menyesal sama sekali, bertemu dan jatuh cinta pada mu adalah hal paling membahagiakan di sepanjang hidup ku, mana mungkin aku menyesalinya." Niko mengecup bibir, pipi dan kening Jessika penuh cinta.


"Tapi, gara-gara aku mas jadi seorang penghianat pernikahan, aku membawa pengaruh buruk buat mu ya mas, padahal selama ini kan image kamu di mata semua orang adalah suami yang setia," oceh Jessika terus saja membuat seolah dirinya yang paling bersalah dalam hal ini.


"Sayang, itu artinya kamu hebat karena bisa menaklukan si suami setia ini," Niko menyeringai, tak lama tawa mereka berdua memenuhi ruangan.

__ADS_1


"Sayang, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, karena kita tak dapat memprediksi pada siapa dan kapan cinta berlabuh, mungkin cinta yaang kita rasakan saat ini adalah salah di mata semua orang karena berdiri di atas bangunan rumahtangga antara aku dan Rossa, tapi ini memang sudah menjadi jalan cerita kita, sabar ya sayang, aku pasti akan mencari jalan terbaik untuk kita semua," urai Niko seraya mencium pucuk kepala Jessika dalam, sedalam perasaannya pada wanita yang tiba-tiba saja hadir di kehidupannya tanpa dia kira sebelumnya.


__ADS_2