
"Harusnya saya yang bertanya pada anda, siapa anda anda dengan keadaan pakaian yang tak lagi utuh berada di dalam apartemen suami ku? Ayah dari anak ku!" Wanita bernama Amanda yang ternyata mengaku sebagai istri dari Ibnu itu menghardik balik Rossa dengan nada suara yang tak kalah tinggi, plus acungan jari telunjuknya yang tepat menunjuk di depan wajah Rossa yang kini terlihat pucat pasi.
"Apa, istri dan anak? Ibnu, jelaskan semua ini pada ku!" teriak Rossa yang kini berbalik meneriaki kekasih gelapnya itu dengan suara yang melengking memekikkan telinga.
Wajah Ibnu pias seketika saat dua wanita di hadapannya itu menatapnya dengan tajam, oh iya, lebih tepatnya 3 wanita, termasuk Lili sang putri yang masih bayi juga seakan tak ingin ketinggalan menatap ayahnya dengan begitu lekat dalam gendongan Amanda.
"Emh, anu,,, itu,,, aku bisa jelaskan semuanya, tapi tolong jangan bertindak anarkis dan membuat kegaduhan, ingat ada bayi bersama kita di sini," kata Ibnu dengan gugupnya, seberengsek-berengseknya dia, tentu saja dia tak ingin mempertontonkan perkelahian dan kekerasan di depan putrinya, meskipun Lili masih terbilang bayi dan belum mengerti apa-apa.
"Rupanya masih ingat kalau kamu punya anak, mas? Aku dan Lili kamu tinggalkan di desa dengan alasan kalau kamu masih belum mampu mengajak kami untuk tinggal di kota, bahkan kami saja tak di ijinkan untuk menjenguk mu, ternyata malah kamu ngandang wanita lain di sini, pantas saja akhir-akhir ini kamu tak pernah menjenguk kami, aku dan Lili juga butuh kehadiran mu, bukan cuma transferan mu!" Keluh Amanda mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini dia pendam dalam hatinya.
Rasanya semua kata yang tersimpan di dadanya itu belum sempat keluar semua,asih banyak yang mengganjal di sana, namun Rossa menginterupsi dirinya yang sedang berbicara dengan suami sahnya yang di nikahi sekitar satu setengah tahun yang lalu itu.
__ADS_1
"Ibnu, apa-apaan ini? Apa maksud semua ini?" Kini giliran sang kekasih gelap yang menghakimi pria buaya itu.
"Tolonglah, kita selelsaikan dengan damai, ini masalah sepele tak perlu di besar-besarkan, ini memang istri dan anak ku, mereka tinggal di desa, dan Amanda,,, ini Rossa, mantan kekasih ku, dan kami memang sedang dekat kembali saat ini, aku minta kerelaan mu untuk berbagi suami dengannya," tanpa tau malu dan sangat tak tau diri Ibnu malah meminta Amanda untuk bersedia berbagi suami dengan Rosa.
"Mas!"
"Ibnu!"
Teriak Amanda dan Rossa hampir bersamaan, saat mendengar ucapan tak tahu diri Ibnu barusan.
"Aku tak sudi berbagi suami dengan wanita mana pun, jangan harap kamu bisa menikahi wanita lain, karena aku akan melaporkan mu ke kantor, biar kamu di pecat dari pekerjaan mu! Ancam Amanda pada suaminya yang seorang pegawai negeri sipil itu, jelaslah Ibnu takut poligami adalah salah satu pelanggaran atau larangan bagi pegawai sepertinya itu, akan ada sanksi berat bahkan sampai di pecat jika itu sampai bocor ke kantornya.
__ADS_1
"Manda, jaga bicara mu, kalau aku di pecat kamu dan Lili yang akan kena imbasnya," Ibnu mengancam balik.
"Ibnu, kamu sudah berjanji akan menikahi ku dan tinggal bersama ku di rumah ku, aku bahkan sampai rela melepaskan suami ku demi untuk bisa bersama dengan mu, lalu kenyataannya apa ini? Aku tak mau tau, ceraikan dia dan jadikan aku satu-satunya istri mu, aku tak mau jadi wanita ke 2 di hidup mu terus menerus, dari jaman Jeslyn, lantas sekarang, aku menjadi yang ke dua lagi?" kata Rossa mengungkit masa lalu yang sungguh sangat kelam untuk dirinya dan juga Ibnu.
"Jangan ungkit masalah dia, cukup Rossa!" Wajah Ibnu mengeras seketika dengan kedua tangan terkepal sempurna di sisi kanan dan kiri tubuhnya.
"Aku juga tak mungkin menceraikan Amanda, kasihan putri ku, dia masib kecil aku tak mau dia menjadi korban perceraian orang tuanya," putus Ibnu egois, tak bisa memilih namun menginginkan keduanya tanpa peduli perasaan kedua wanita yang di pilihnya itu.
"Ah, rupanya memang keahlian kau dan bakat kau jadi pelakor sejak dulu, dan tragisnya sampai sekarang nasib mu hanya selalu menjadi gundiknya terus dan tak pernah menjadi ratu nya!" Cibir Amanda dengan senyum mengejeknya, sambil sesekali menepuk-nepuk pelan putrinya dalam gendongan agar tetap tenang dan tak menangis lagi.
"Diam kau, kau tak tau apa-apa tentang ku, kau tak berhak menilai diri ku!" Tunjuk Rossa ke wajah istri sah kekasihnya itu dengan marahnya, karena merasa di sepelekan oleh anak kemarin sore itu.
__ADS_1
"Tentu saja aku tau siapa diri mu, wanita yang merusak rumah tangga mas Ibnu dengan istrinya terdahulu, dan karena kelakuan biadab kalian istri mas Ibnu mati bunuh diri, iya kan, mas? Istri mu bukan meninggal karena sakit seperti yang kamu ceritakan pada ku dan keluarga ku sebelum kita menikah dulu?" Mata Amanda menyipit mengemukakan kebenaran yang baru dia dapatkan dari Jessika tentang kakak perempuannya yang notabene adalah istri terdahulu Ibnu.
Sontak saja Ibnu terhenyak, bagaimana bisa Amanda tau tentang semua kebenaran itu, sementara dirinya berusaha menyimpannya dengan serapat mungkin, dan Amanda tak kenal siapapun dari masa lalunya.