Aku Memang Pelakor

Aku Memang Pelakor
Mulai Berbohong,


__ADS_3

"Kapan ulang tahun mu?" Tanya Niko tiba-tiba, membuat Jessika yang sedang berbaring di sofa ruang tengah apartemen nya sambil menemani Niko yang membolak balik dokumen tentang konsep peragaan busana yang di ajukan Jessika pada perusahaan EO nya itu langsung terduduk seketika.


Ya, hari sudah mulai menjelang malam namun Niko masih betah berada di apartemen Jessika menemani gadis yang mengaku sedang tidak enak badan itu sambil melihat-lihat gambar baju rancangan Jessika yang di matanya terlihat luar biasa di matanya.


"Emh,,, bulan depan tanggal 10, kenapa memangnya?" Jessika balik bertanya.


"Waw, itu berarti hanya tinggal kurang dari dua minggu," Niko mengetuk ngetuk keningnya dengan ujung jari telunjuknya seperti sedang memilirkan sesuatu, sementara Jessika mengerutkan keningnya semakin kebingungan.


"Oke, aku setuju acara fashion showmu akan di laksanakan bertepatan dengan hari ulang tahun mu, tapi dengan syarat, kamu harus ikut terlibat secara langsung dalam pengerjaannya, karena waktu yang sangat mepet ini," putus Nilo.


Jessika terlonjak dari sofa tempatnya duduk dan berhambur memeluk pria yang juga duduk tak jauh dari dirinya.


"Ah, benarkah? Terimakasih mas, Aku sangat bahagia!" pekiknya memeluk erat Niko yang terlihat gelagapan namun 'nyaman'.


Niko hanya diam tak membalas pelukan Jessika,


antara logika dan naf su nya kini sedang bertengkar dan berdebat hebat dalam batin nya.


'NIko sadarlah, kau punya istri yang sangat kau cintai selama ini, dan kalian bahagia,' kata satu sisi batin nya, sementara sisi lainnya mengatakan padanya kalau pelukan Jessika begitu hangat dan menenangkan, bukan bermaksud membandingkan dengan pelukan sang istri, hanya saja pelukan itu membuatnya terhanyut sesaat, apalagi saat bau parfum yang menguar dari tubuh Jessika yang kini sangat rapat menempel di dadanya, itu membuat hasrat prianya menggelora seketika.


"Sepertinya aku harus pulang, ini sudah lewat jam pulang kantor. Istri ku pasti menungguku di rumah." Niko sengaja mengingatkan Jessika dan juga termasukdirinya sendiri kalau dia pria beristeri.


Sungguh Niko merasa tak akan sanggup jika berlama-lama lagi di sana, pikirannya mungkin saja akan semakin menggila dan lupa kalau dirinya adalah seorang suami.


"Ah, maaf! Tadi aku terlalu gembira sampai kelupaan," cicit Jessika mengurai pelukannya dengan wajah yang di buat seolah menyesal, padahal dalam hatinya merasa sedikit kesal.

__ADS_1


Bagaimana tidak, hampir saja Jessika dapat sedikit menaklukan Niko, namun pria itu malah membahas istrinya seolah ingin mengatakan padanya kalau 'Jangan macam-macam, aku sudah punya isteri!'


"Its oke, kamu istirahat, besok kalau kamu sudah sembuh bisa datang ke kantor, kita harus segera membahas segala sesuatu tentang acara yang akan di gelar kurang dari dua minggu ini," Niko mengacungkan dokumen di tangannya.


"Baik, terimakasih mas, besok aku akan usahakan untuk ke kantor." Kata Jessika di akhiri dengan senyuman manis sebagai salam perpisahan yang justru hampir saja membuat Niko mengurungkan niatnya untuk pulang karena tak ingin lepas dari senyuman yang membuat darahnya berdesir hebat untuk kesekian kalinya.


***


Hampir pukul sembilan malam Niko baru sampai di rumahnya, bagai maling yang hendak masuk ke rumah jarahannya, pandangan mata Niko mengedar ke segala penjuru, waspada seperti takut ketahuan oleh pemilik rumah.


"Kenapa baru pulang? Kenapa ponsel mu tak bisa di hubungi? Lantas kemana mobil mu, kenapa pulang naik taksi?" Untaian pertanyaan meluncur dari bibir Rossa yang ternnyata sudah berdiri di hadapannya dengan berkacak pinggang, dan wajah yang tak bersahabat.


Sejak magrib tadi Rossa menghubungi sang suami yang hampir tak pernah pulang telat apalagi tanpa kabar seperti ini, di tambah lagi ponselnya yang tak bisa di hubungi sama sekali, membuatnya semakin meradang, bahkan saat dirinya menanyakan keberadaan suaminya pada Rima, sekretaris Niko itu hanya menjawab kalau bos nya sedang ada tugas di luar kantor, tentu saja itu atas arahan dan perintah Niko pada sekretarisnya sebelum dia pergi meninggalkan kantor.


"Oh itu, aku sedang meeting untuk pagelaran fashion show bulan depan, ponsel ku mati, dan mobil aku tinggalkan di kantor karena tadi siang dipakai kru untuk meninjau tempat," kebohongan demi kebohongan itu mengalir begitu saja tanpa terlihat gugup atau harus berpikir dulu.


Tentu saja tidak bisa menyalahkan Jessika dalam hal ini, karena Jessika tak pernah menuntut Niko untuk berbohong pada istrinya, semua Niko lakukan atas keinginan dan kesadarannya sendiri.


Entah karena cara penuturan Niko yang begitu lihai dalam menyampaikan kebohongannya atau karena Rossa yang terlalu percaya pada suamina yang memang tak pernah berbuat aneh-aneh dan macam-macam selama ini sehingga membuat wanita itu dengan mudahnya percaya begitu saja pada perkatan suaminya itu.


"Aku kangen, aku juga takut kamu macem-macem di luaran sana!" Rengek Rossa sambil memeluk suaminya yang masih berdiri di ambang pintu belum sempat masuk ke dalam rumah karena keburu di hadangnya.


Ada rasa sesal dan rasa bersalah menyeruak di hatinya saat sang istri memeluknya, namun lama kelamaan pelukan Rossa justru malah mengingatkannya pada pelukan Jessika tadi.


Niko langsung menggeleng beberapa kali mengusir pikiran anehnya itu, bagaimaana bisa dia memilirkan wanita lain saat memeluk istrinya.

__ADS_1


"Aku mandi dulu!" Ucap Niko sambil mengurai pelukan Rossa dan meninggalkannya begitu saja.


Lama Niko mengguyur kepalanya di bawah shower berharap pikirannya kembali jernih, namun apa daya, semakin dia berusha membang jauh pikirannya tentang Jessika, semakin lekat senyuman gadis itu di pelupuk matanya, bahkan bau parfumnya seakan masih terasa dekat di indera penciumannya, jadilah malam itu diaa tersksa oleh perasaanya sendiri.


Sungguh perasan itu baru pernah di rasakannya, bahkan dulu saat dirinya baru awal-awal berpacaran dengan Rossa sepertinya perasannya tak se gila ini.


***


Hari demi hari berlalu dengan cepatnya, acara fashion show yang di nanti-nanti tinggal menunggu hitungan hari saja, segala sesuatu yang di butuhkan untuk melaksanakan acara itu sudah selesai dipersiapkan atas kerja keras Niko yang semakin bersemnat bekerja karena hampir setip hari Jessika menemaninya di kantor dengan alibi membantunya mempersiapkan pagelaran dan menyamakan konsep.


"Mas, sepertinya untuk bunga yang di pakai di acara lebih bak memkai mawar merah saja, aku lebih suka mawar merah daripada mawar putih," protes Jessika saat membaca lagi peretilan yang akan di gunakan saat acara nanti.


"Oke, as you wish, semua bunga akan di ganti mawar merah," jawab Niko yang langsung mengintruksikan Rima untuk mengikuti apa yang di inginkan Jessika.


Rima mengangguk, tak ada yang bisa dia lakukan selain patuh pada bosnya itu meski dia merasa janggal dengan kedekatan bosnya dengan Jessika yang terkesan terasa berbeda dengan klien lain sebelumnya, tapi mana berani dia mengusik kehidupan pribadi bosnya itu, lebih baik dia mencari aman dengan bersikap diam dan mengikuti arus saja.


Selama beberapa hari bersama dengan Jessika Niko merasakan kedekatan yang lebih intens lagi dengan gadis itu, melihat bagaimana Jessika membantunya melakukan hal-hal di luar pekerjaannya sebagai perancang busana dengan begitu cekatannya dan bersemangat, membuat Niko begitu kagum dan semakin ingin mengenal lebih jauh sosok yang telah membuatnya selalu tak bisa tidur dengan nyenyak di setiap malam nya karena tak bisa menghindar dari memikirkan gadis yang mencuri semua perhatian dan pikiran di setiap harinya itu.


***


Jessika tak bisa memejamkan matanya barang semenit pun malam ini, karena besok malam acara fashion show nya akan di gelar, sungguh hatinya kini berdebar tak karuan, selain acara ini memang dia sengaja adakan demi menjalin kedekatan dengan Niko, ternyata diam-diam acara ini juga sangat di idam-idamkannya, sebagai seorang perancang busan, apalagi masih terhitung baru di negeri ini, pakaian rancangannya bisa di kenal dan di terima oleh pecinta fashion adalah sesuatu yang sangat di dambakannya.


Menjadi perancang busana adalah cita-cita dan kecintaannya, dan menjadi perancang busana yang dapat di kenal dan di sukai karyanya adalah impiannya yang lain selain menghancurkan rumah tangga Rossa, akan sangat menyenangkan dan menjadi suatu pencapaian yang luar biasa jika dia bisa menggapai cita-citanya sekaligus membalaskaan dendam sang kakak.


Apapun jalannya, Jessika pasti akn tempuh dan akan dia lalui, seberat apapun itu, bahkan jika dirinya harus menjatuhkan harga dirinya untuk menjadi seorang pelakor sekali pun, baginya dendamnya adalah harga mati yang harus di bayar oleh Rossa.

__ADS_1


"Kak, semua kesakitan dan kesedihan mu perlahan hampir aku kembalikan pada wanita yang sudah membuat mu menderita selama ini, tunggu dan bersabarlah, akan ku pastikan wanita itu hancur, bahkan lebih menderita dari apa yang kakak terima saat itu." cicit Jessika dalam lamunannya malam itu.


__ADS_2