
Tiga hari sudah Niko berada di apartemen Jessika, rasa kecewanya atas perbuatan Rossa membuat Niko serasa enggan untuk kembali ke rumah yang telah di tempatinya bersama Rossa selama kurang lebih 3 tahun belakangan ini.
"Mas, apa istri mu tak curiga kamu tak pulang-pulang?" Tanya Jessika sambil bergelayut manja di lengan kekar sang kekasih yang hendak berangkatnke kantor pagi itu.
"Entahlah, buktinya sampai sekarang dia tak menanyakan keberadaan ku dan meminta ku untuk pulang, sepertinya ketidak hadiran ku di rumah malah membuat nya bahagia dia pasti lebih bebas dan leluasa untuk keluar rumah tanpa perlu merasa tak enak hati dengan ku," ucap Niko cuek.
"Kamu marah? Sakit hati?" Lagi-lagi Jessika mengulang pertanyaan yang sama.
"Aku akan marah dan sakit hati jika yang melakukan itu semua adalah kamu," ucapnya seraya menjawil gemas dagu gadis cantik itu dan menariknya agar mendekat ke wajahnya lalu mengecup dan me lu mat bibirnya dalam, dan ciuman panas di pagi hari pun menjadi mood booster untuk mengawali rentetan kegiatan mereka seharian di kantor masing-masing.
"Kenapa kamu tak menjadi milik ku seutuhnya saja, mas?" Cicit Jessika.
"Kamu pikit hanya kamu yang menginginkan hal itu? Aku juga menginginkan hal yang sama, hanya saja sepertinya akan sangat sulit berpisah dari Rossa, orang tua kami begitu dekat, mereka pasti tak akan membiarkan kami berpisah dengan mudahnya," adu Niko menceritakan perihal yang kemungkinan besar terjadi jika dirinya menginginkaan berpisah dengan Rossa.
"Itu berarti kalian tak mungkin berpisah? Lalu bagaimana dengan ku?" ucapan Jessika terdengar lesu.
"Sayang, tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Kita hanya perlu sedikit bersabar, jika perpisahan ini di inginkan oleh kedua belah pihak yaitu antara aku dan Rossa, aku pikir tak akan terlalu sulit untuk mewujudkan nya, orang tua kaami pasti mengerti, tapi kalau hanya dari salah satu pihak saja memang sepertinya akan lebih susah," Niko mengusap pucuk kepala kekasihnya memberinya keyakinan kalau semua hal bisa saja terjadi termasuk kemungkinan bersama antara Jessika dan dirinya.
"Semoga saja, aku sangat menyayangimu, dan sepertinya aku tak bisa jika harus berpisah dengan mu,"
__ADS_1
Sungguh ucapan Jessika yang satu ini sepertinya bukan hanya rayuan untuk memikat dan menjerat Niko sebagai target buruannya, namun ucapan Jessika sepertinya memang tulus dari lubuk hatinya yang terdalam meski tanpa dia sadari.
***
Siang itu Niko di buat terkejut bukan kepalang saat Rossa tiba-tiba saja datang ke kantornya, setelah sekian hari tak bertemu, sungguh rasa rindu itu tak sedikit pun hadir dalam dirinya untuk sang istri yang di ketahuinya sudah bermain gila di belakangnya.
Niko merasa kesal dan kecewa dengan apa yang di lakukan Jessika di belakang nya, meski mungkin terkesan egois karena dirinya pun melakukan hal yang sama.
Tapi Niko tetap manusia, dernggan s egala keegoisan dan ke aroganannya sebagai pria yang tak sudi dan merasa terhina saat di hiananti meski dirinya sendiri pun melakukan dosa yang sama.
"Apa kau sudah lupa jalan pulang?" Tanya Rossa tiba-tiba.
"Niko, aku sedang berbicara pada mu!" Bentak Rossa.
"Oh ayolah sayang, tak usah berteriak-teriak seperti itu, aku sedang menyelesaikan pekerjaan ku yang harus selesai sore ini." Ucap Niko datar.
Entah apa yang sedang Niko perankan saat ini, yang jelas dia kini sedang berpura-pura tak ada yang terjadi di antara mereka, dan Niko pun berpura-pura tak tahu menahu tentang perselingkuhan yang di lakukan Rossa di belakangnya.
Sepertinya Niko ingin bermain sesuatu dengan Rossa, namun entah permainan apa yang tengah Niko rencanakan untuk menghadapi istrinya itu.
__ADS_1
"Tapi kau tak pulang selama 5 hari, dan kau tak memberi ku kabar sama sekali, apa kau selingkuh?" Tuduh Rossa.
"Apa selama ini kau pernah mendapati ku berselingkuh, hem? Sayang, aku ada tugas ke luar kota lima hari ini, aku tak meminta ijin pada mu karena ku pikir kau masih marah pada ku dan masih tak menginginkan aku berada di rumah," bual Niko seraya berdiri dari kursi kebesarannya dan menghampiri sang istri yang kini masih merajuk padanya.
Rossa mengernyit, kenapa tiba-tiba suaminya itu kembali bersikap baik padanya, pikirnya. Padahal sebelumnya saat terakhir kali pertemuan mereka di rumah, sebelumnya saat Niko akhirnya memutuskan untuk meninggalkan rumah, pria itu terlihat sangat murka dan seperti tak ingin melihatnya lagi, belum lagi perubahan sikap suaminya itu yang terlihat sangat berubah drastis dalam memperlakukan dirinya.
"Tapi kamu berubah, kamu tak lagimengalah saat berdebat dengan ku, kamu juga meninggalkan rumah, meninggalkan ku sendiri saat hari perayaan pernikahan kita, kamu tak mencintai ku lagi seperti sebelumnya," rengek Rossa.
"Maafkan aku, akhir-akhir ini aku memang sedang banyak sekali yang harus di pikirkan, pekerjaan ku juga sedang banyak-banyaknya, banyak event yang harus aku kerjakan, aku seperti di kejar-kejar waktu setiap hari, serasa 24 jam sehari itu tak pernah cukup untuk ku." Kali ini Niko tak sedang berbohong, karena memang saat ini dirinya sedang banyak sekali event yang harus di kerjakannya.
Namun ketidak pulangannya ke rumah mereka bukan itu penyebabnya, ada wanita lain yang mampu lebih membuatnya bahagia dan melupakan cintanya pada Rossa, melupakan rumah tinggalnya, juga melupakan statusnya sebagai suami yang berkewajiban menafkahi istrinya baim lahir maupun batin nya.
"Tapi dulu kamu tak begitu, kamu selalu mengutamakan ku, dari apapun, termasuk itu pekerjaan, sekarang kamu lebih mementingkan hal lain di banding dengan diri ku," dengus Rossa dengan mata yang hampir berkaca-kaca.
"Aku salah, aku minta maaf, tolong jangan bersedih seperti itu, ini semua benar-benar karena pekerjaan ku, nanti saat semua pekerjaan sudah lancar dan normal kembali semua akan kembali seperti semula dengan sendirinya, Aku merindukan mu,"
Niko memeluk istrinya dari belakang, menciumi bau wangi rambutnya yang biasanya dia sukai selama ini, namun kali ini kenapa sugesti di otaknya mengatakan kalau wangi rambut Rossa kini telah berubah, membuat hatinya kembali teriris perih, apalagi saat melirik leher jenjangnya yang saat terakhir kali bertemu Niko mendapati beberapa tanda tanda merah di sana, mengingat hal itu Niko langsung mengurai pelukannya di tubuh bagian belakang istrinya itu.
Bayangan Istrinya yang berciuman dengan pria asing yang dia lihat secara kasat mata di hadapannya itu membuat kemarahannya kembali mengubun-ubun.
__ADS_1