
"Lalu, kenapa kamu memilih aku sebagai kekasih pertama mu?" Tanya Niko yang sontak saja membuat Jessika terlihat sangat gugup dan pucat mendengar pertanyaan Niko.
Bukankah tak mungkin jika dirinya mengatakan dengan jujur kalau itu semua karena balas dendamnya.
"Emh, entah lah aku juga tak tau bagaimana ceritanya hati ku bisa terjebak pada suami orang seperti mu!" Canda Jessika menjawab pertanyaan Niko yang membuat dirinya tadi sempat tergagap bingung.
"Mungkin karena ketampanan ku, atau karena pesona ku?" Niko memamerkan senyum manisnya membuat Jessika yang kini berada tepat di depan wajahnya itu tak kuasa menahan diri untuk tak mengecup bibir pria yang dua hari ini memporak porandakan pikirannya.
Namun alih-alih mengecupnya sekilas, tangan Niko justru menahan tengkuk Jessika saat wanita itu akan melepaskan kecupannya, dan terjadilah ciuman panas itu di atas kursi kebesaran Niko, di saksikan foto Rossa yang tepat menghadap ke arah mereka yang sedang saling mema gut mesra.
Tangan Niko pun kini tak mau tinggal diam, masuk melalui bawah blouse longgar yang di kenakan Jessika dan merayap di atas punggung halus dan mulus Jessika.
"Mas, aku malu!" Cicit Jessika, menjauhkan tubuhnya yang kini tengah di gera yangi oleh sang kekasih.
"Malu? Tapi malu sama siapa disini gak ada orang, apa kamu malu pada ku?" Tanya Niko heran.
"Bukan, tuh! Istrimu memelototi ku," Jessika menunjuk bingkai besar berisi gambar Niko dan Rossa.
"Ah, ku pikir apa," Niko melepaskan pelukannya, mengingat tentang Rossa, membuatnya menjadi teringat dengan perkataan asisten rumah tangga yang di hubungi nya untuk mengetahui keadaan di rumah, di luar dugaan, asistennya itu mengatakan kalau Rossa kini jarang di rumah.
"Mas, nanti sore pulang kerja ke butik ya, aku pengen ngajak kamu ke suatu tempat,"
"Mmhh,,, baiklah, nanti aku ke sana sayang, sampai jumpa nanti sore!"
Sebenarnya sore ini Niko berniat untuk pulang, namun dia juga tak bisa menolak keinginan Jessika, apalagi dia juga sangat merindukan Jessika, tak adil rasanya jika karena masalah dirinya dengan Rossa, Jessika harus ikut terabaikan juga.
__ADS_1
Biarlah besok dia baru akan pulang dan menemui Rossa di rumah, sekalian memastikan tentang kebenaran yang di laporkan asisten rumahnya itu.
Sementara Jessika sudah menunggu kedatangan Niko di butiknya sore itu, sungguh dia tak sabar ingin memperlihatkan sesuatu pada kekasihnya itu.
Orang suruhannya yang dia bayar untuk terus mencari tahu informasi tentang Rossa sehingga dia selalu update tentang Rossa, termasuk tentang Rossa yang kini tengah dekat kembali dengan Ibnu mantan kakak iparnya.
Jujur saja hal itu menyulut kembali api amarah yang seakan sedikit tenang menjadi kembali berkobar, keinginan untuk menghancurkan Rossa pun kini bertambah dengan keinginan untuk menghancurkan Ibnu juga.
Kartu AS keduanya bahkan sudah di tangannya, dia hanya perlu bermain-main sebentar untuk semakin memperpanjang kepedihan yang harus di terima kedua mahluk itu.
"Sayang, apa kamu sudah lama menunggu ku?" Celoteh Niko saat baru saja masuk ke ruangan kerjanya, sebuah kecupan mendarat di bibir gafis yang kariernya sebagai fashion desainer itu semakin menanjak dan semakin di kenal oleh khalayak umum, apalagi setelah baju-baju rancangannya banyak di pakai oleh artis-artis terkenal dalam negeri maka semakin melejit saja nama nya bahkan butiknya kini tak pernah sepi dari pengunjung.
Tak pernah ada yang curiga dengan seringnya Niko datang kebutik milik Jessika itu, mereka mungkin msengira kalau itu urusan pekerjaan, dimana yang melejitkan nama House of jess adalah EO nya Niko.
"Kemana kamu akan membawa ku?" Tanya Niko penasaran.
"Hanya makan malam biasa saja, rasa-rasanya sudah lama kita tidak dinner berdua," bisiknya, yang kini berdiri di hadapan Niko dengan melingkar kan kedua tangannya di pinggang Niko.
"Maafkan aku yang sibuk akhir-akhir ini, tapi aku janji aku bakal nebus semua waktu yang hilang itu," sesal Niko sambil lagi-lagi mengecup bibir merekah Jessika yang selalu membuatnya mabuk dan terasa ingin lagi dan lagi mengecupnya.
"Tentu saja kamu harus menebus semuanya, kamu punya dua wanita, jadi kamu harus bersikap adil, mas." Rajuk Jessika.
"Aku akan berusaha sayang, aku akan belajar. Maafkan aku yang tak bisa memberi waktu ku utuh pada mu,"
"Sayang, jangan terus-terisan meminta maaf pada ku, ini jalan ku, pilihan ku, menjadi orang kedua di hidup mu harus rela menerima sisa waktu, dan memutuskan untuk menjadi orang ke tiga dalam kehidupan pernikahan mu seharusnya aku tak banyak menuntut," ucap Jessika dengan raut sedihnya.
__ADS_1
"Ah sayang, tak ada yang memnganggap mu orang ke dua, kamu berarti di hidup ku, jangan pernah berpikiran seperti itu, tak ada juga istilah sisa waktu, karena aku selalu berusaha membagi waktu ku untuk semua," Niko memeluk tubuh kekasih kesayangan nya, sungguh dia tak pernah menyangka akan berada dalam situasi sulit seperti ini, mencintai seorang wanita di waktu yang salah.
**
"Sayang, kenapa mengajak ku ke sini, ini jauh sekali. Bukankah kita bisa makan malam di seputaran dalam kota saja?" Protes Niko karena Jessika mengajaknya ke tempat yang agak jauh bahkan sampai ke pinggiran kota hanya untuk makan malam, padahal tak ada yang istimewa dengan rumah makan ini, hanya rumah makan yang menyajikan prasmanan masakan rumahan biasa.
"Aku baru di beri tahu oleh salah satu customer ku katanya rumah makan ini makananya enak," Jessika beralasan.
Padahal satu-satunya alasan dia membawa Niko ke tempat itu karena menurut info yang dia terima kalau tempat ini adalah tempat yang hampir setiap malam di kunjungi Rossa dan Ibnu, selain tempat ini adalah tempat kenangan mereka dari jaman dulu, rumah makan ini juga dekat dengan apartemen tempat Ibnu tinggal saat ini.
Benar saja, setengah jam mereka makan di sana, terlihat Rossa dan Ibnu keluar dari ruang makan privat yang agak tempatnya agak jauh dari tempat mereka duduk, namun masih bisa dengan jelas terlihat dari sana.
Tepat seperti yang di perkirakan, bahkan Jessika sengaja memilih tempat duduk di sana karena informan nya mengatakan kalau Rossa dan Ibnu berada di ruang privat rumah makan itu.
Wajah Niko menegang seketika matanya terkunci melihat istrinya berjalan sambil berpelukan mesra dengan seorang pria asing, terlihat mereka tersenyum ceria seperti sedang kasmaran.
Tangan Niko mengepal, dia ingin segera berdiri dan menghampiri istrinya yang di matanya sedang selingkuh, melupakan dirinya yang juga sedang melakukan hal yang sama.
"Sayang, sabar! jangan terburu amarah, kalau kamu ceroboh bisa-bisa ini akan berbalik menyerang mu, kamu tak punya bukti apa-apa untuk menuduhnya." Jessika memegangi tangan Niko yang memejamkan matanya sambil mengatur nafasnya.
"Aku tau kamu marah, tapi lebih baik kita ikuti mereka, siapa tau mereka tidak seperti yang kamu pikirkan." Usul Jessika, dia merasa tak puas jika Rossa hanya kerahuan sebatas makan malam saja oleh Niko, Jessika mengharapkan lebih dari itu.
Emosi dan kemarahan Niko harus sangat besar untuk Rossa, dan Jessika yakin jika adegan selanjutnya akan mewujudkan semua yang di harapkannya itu.
'Tunggu kehancuran mu, Rossa!' Bisik Jessika dalam hatinya.
__ADS_1