
Niko memeluk istrinya dari belakang, menciumi bau wangi rambutnya yang biasanya dia sukai selama ini, namun kali ini kenapa sugesti di otaknya mengatakan kalau wangi rambut Rossa kini telah berubah, padahal Niko yakin tak ada yang berubah dari shampo yang di pakai istrinya itu, namun tetap saja semua itu membuat hatinya kembali teriris perih, apalagi saat melirik leher jenjangnya yang saat terakhir kali bertemu Niko mendapati beberapa tanda tanda merah di sana, mengingat hal itu Niko langsung mengurai pelukannya di tubuh bagian belakang istrinya itu.
Bayangan Istrinya yang berciuman dengan pria asing yang dia lihat secara kasat mata di hadapannya itu membuat kemarahannya kembali mengubun-ubun.
Sungguh perasaannya sama sekali tak bisa kembali seperti semula, terdengar egois memang, dimana dirinya pun melakukan perselingkuhan yang sama namun dia tak mau menerima perselingkuhan istrinya dengan alasan apapun.
"Aku merindukan mu, aku pikir kamu sudah melupakan ku, tak ada kamu di rumah, rasanya sepi! Aku tak mau kita bertengkar dan saling menjauh lagi, maafkan aku. Sepertinya aku kurang memahami kesibukan mu, padahal semua itu kamu lakukan untuk kita." Rossa menyatukan kembali tubuhnya ke pelukan hangat suaminya seakan tak rela jika tadi Niko mengurai pelukannya.
Sama halnya dengan Niko, sepertinya Rossan juga mulai memainkan perannya, tentu saja Rossa tak mau begitu saja kehilangan sumber uang nya, bagaimana pun bersama Niko semua kebutuhan dirinya dan keluarganya dapat terpenuhi dan bisa hidup dengan taraf hidup yang lebih baik.
Sebesar apapun rasa cintanya pada Ibnu, untuk saat ini dia harus realistis,jika dulu dia bisa cukup bangga dan bahagia mempunyai kekasih Ibnu yang seorang PNS golongan 3D, saat ini meski jabatan Ibnu sudah naik, tapi tetap saja tak akan bisa mencukupi gaya hidup Rossa yang terlanjur sudah tinggi karena menjadi seorang istri pemilik event organizer terbesar dan ternama itu.
Sehingga Rossa belum bisa melepaskan Niko begitu saja.
"Aku juga merindukanmu, nanti sore aku pulang!" Kata Niko seolah ingin menyampaikan 'Sudah lepaskan pelukan mu saat ini, nanti juga aku akan pulang!'
"Tapi Nik, aku sore ini ada janji dengan ibu ku, aku hendak mengantarnya berbelanja, kamu gak apa-apa kan, kalau aku tinggal? Mungkin aku akan pulang sedikit larut," bohong Rossa yang baru ingat kalau sore ini dia ada janji jalan dengan kekasih gelapnya itu.
"Hmm, baiklah tak apa, nanti aku juga ada sedikit urusan di sini, selesai meeting aku langsung pulang, salam untuk ibu mu." Lanjut Niko.
__ADS_1
Niko membuang nafasnya dengan kasar sesaat setelah Rossa meninggalkan ruangannya. Ada rasa lega yang teramat sangat di rasakannya saat dirinya akhirnya terbebas dari kepura-puraan di hadapan Rosa.
Semua itu memang harus Niko lakukan, tentu saja semua itu bukan tanpa tujuan. Niko ingin mencoba dengan cara pendekatan persuasif terhadap istrinya itu, dan selanjutnya akan mencoba jalan bernegosiasi dengan cara yang halus berbicara dari hati ke hati kalau mereka sudah tak sejalan dan memiliki tambatan hati masing-masing, dan tujuannya tentu saja untuk mendapatkan jalan kesepakatan berpisah secara damai.
Niko yakin jika dirinya dan Rossa sama-sama sepakat untuk berpisah dengan baik-baik, kedua orang tua dari masing-masing pihak pun pasti tak akan keberatan dengan perpisahan mereka.
Karena memang sungguh Niko sudah tak bisa melanjutkan pernikahan nya dengan Rossa, dirinya memang berhianat, tapi dia juga tak bisa menerima penghianatan yang di lakukan Rossa padanya.
Tadinya Niko berniat akan pulang ke rumah sore ini, hanya saja berhubung Rossa tadi berpamitan katanya akan mengantar ibunya berbelanja yang Niko yakin itu hanya alasan bohongnya saja untuk menemui kekasih gelapnya, akhirnya Niko memutuskan untuk menemui Jessika di butiknya sore ini.
"Hai mas, bukankah kamu bilang akan pulang ke rumah mu hari ini?" kaget Jessika yang semalam di pamiti Niko untuk pulang ke rumahnya sore ini.
"Nonton? Ayo, rasanya aku sudah lama sekali tidak nonton, aku mau!" Seru Jessika antusias, gadis itu segera membereskan alat kerja yang tadi dia gunakan di atas meja nya.
mereka berdua menuju sebuah mall besar yang letaknya tak jauh dari butik milik Jessika. Untuk pertama kalinya mereka berdua berjalan di depan khalayak umum berdua, layaknya pasangan kekasih gelap mereka berjalan agak berjarak, Jessika berjalan beberapa langkah di depan Niko yang membuntutinya dari belakang sambil memperhatikan keadaan sekitar.
Tak dapat di pungkiri rasa was-was itu pasti ada, apalagi mereka berdua merupakan sosok cukup di kenal banyak orang.
Niko dengan perusahan EO raksasanya, dan Jessika dengan butiknya yang kini sedang naik daun dan menjadi trend di kalangan para sosialita ibukota.
__ADS_1
Sehingga gerak gerik mereka tentu saja akan menjadi sorotan banyak mata.
Sampai di depan lobby bioskop mereka juga duduk terpisah, berkomunikasi lewat pesan chat.
Namun tanpa di duga ternyata Rossa dan ibnu pun datang ke bioskop yang sama, sepintas Rossa melihat Niko yang memaduki pintu teater yang terbuka karenaa film sudah akan di mulai, entah bagaimana ceritanya dan takdir apa yang terjadi di antara mereka, karena ternyata mereka berada di ruangan teater yang sama.
Rossa sungguh penasaran dengan Niko yang mengatakan akan menghadiri rapat di kantornya malam itu ternyata malah menonton film, namun dirinya pun tak bisa menegur suaminya yang berbohong itu, karena jika itu di lakukannya, sama saja dengan dirinya bunuh diri, karena dirinya pun tadi berpamitan untuk pergi bersama ibunya, padahal dia pergi bersama Ibnu.
Niko mungkin tak menyadari jika Rossa berada di tempat yang sama bersama dirinya, lain halnya dengan Jessika yang tadi sempat melihat dari kejauhan Rossa berada di sana bersama Ibnu.
Jessika hanya tersenyum dalam hatinya, di dalam ruangan gelap itu dia sengaja menyandarkan kepalanya di bahu Niko yang duduk bersebelahan dengannya, Jessika yakin kalau saat ini Rossa pasti sedang memperhatikan gerak gerik suaminya dan juga dirinya dari kejauhan, namun wanita itu tak bisa berbuat apa-apa selain menelan rasa penasaran.
"Mas, istri mu sedang memperhatikan kita dari belakang," bisik Jessika tepat di telinga Niko.
"Jangan di lihat! Biar saja dia merasa kalau kamu tak tau kalau kamu ada di sini," larang Jessika saat Niko berusaha ingin melihat ke arah dimana Rossa berada.
"Mbak Rossa bersama kekasihnya yang kemarin itu," bisik Jessika lagi.
Kini konsentrasi Niko tak lagi tertuju pada film yang di tontonnya, namun pada pikiran-pikiran buruk takut kalau-kalau Rossa nekat menghampiri mereka dan membuat kekacauan di sana.
__ADS_1
Nama baik dirinya dan juga nama baik Jessika akan di pertaruhkan jika sampai itu terjadi, maka bagaimana pun dia harus menyembunyikan Jessika dari Rossa.