
Jessika sungguh tak perlu lagi bertanya apa yang dibicarakan antara Niko dan istrinya di telpon pagi itu, karena Niko sengaja membuka speaker ponselnya saat pembicaraan itu berlangsung di hadapan Jessika, agar kekasihnya itu dapat mendengar semua yang mereka bicarakan.
"Aku akan menemui Rossa siang ini dan segera menyelesaikan semuanya, agar kita bisa lebih cepat bersama." Niko meletakan ponselnya di meja makan dan kembali mendekap lalu me lu mat bibir se ksi Jessika.
"Hmm,,, aku menunggu kabar baik dari mu. Oh iya hari ini mungkin aku mungkin pulang sedikit terlambat, ada klien yang memesan beberapa gaun dan minta di ukur di rumahnya sore ini," ucap Jessika sesaat setelah ciuman mereka terlepas.
"Mau aku antar?" Tawar Niko.
"Tidak usah, belum saat nya kita go publik, kamu masih berstatus suami mbak Rossa," kata Jessika sambil mengecup pipi Niko sekilas.
"Segera, lihat saja sebentar lagi bahkan seluruh dunia akan tau kalau kau adalah kekasih ku,eh--- calon istri ku," Niko menjawil dagu runcing Jessika dengan gemasnya.
"Aku tunggu saat itu, saat dimana aku menjadi nyonya Niko!" Jessika menyeringai manja.
**
Perbincangan antara Niko dan Rossa yang membicarakan masalah perceraian pun bisa di katakan lancar jaya, karena Rossa menerima semua syarat yang di ajukan Bimo padanya, termasuk jangan saling mengusik kehidupan pribadi mereka masing-masing mulai saat itu.
"Oke, aku setuju semua syarat yang kamu ajukan," ucap Rossa seraya mengambil bolpoin untuk menandatangani draft perjanjian yang Sengaja Niko buat agar Rossa tak mengingkari kesepakatan mereka di lain hari.
Niko menyeringai tipis penuh kemenangan, bayangan dirinya yang sebentar lagi akan mempersunting Jessika sang kekasih hati menari-nari di kepalanya, membuat pria itu jadi senyum-senyum sendiri membayangkannya.
"Nik, Niko!" Rossa mengoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajah Niko yang pikirannya entah sedang dimana meski raganya kini sedang bersama Rossa.
"Ah, iya! Bagaimana?" Gugup Niko yang terlihat seperti salah tingkah saat Rossa memergokinya sedang melamunkan kekasih gelapnya saat ini.
"Apa kamu melamun? Aku sudah selesai menandatangani semuanya, aku akan menyiapkan semua berkas yang di perlukan dan aku berikan ke pengacara mu," urai Rossa.
Mereka sepakat kalau yang mengajukan gugatan cerai adalah dari pihak Rossa, sementara semua hal mengenai perceraian akan di urus oleh pengacara Niko nantinya, sehingga mereka tak perlu repot mengurus apapun dan tak perlu bolak balik ke pengadilan agama.
__ADS_1
"Nik, apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Rossa ragu-ragu saat Niko sedang memeriksa lembar demi lembar kertas berisi kesepakatan mereka, takutnya ada hal yang terlewat, karena rasanya Niko sudah malas untuk bertemu kembali dengan Rossa yang sebentar lagi akan berstatus menjadi mantan istrinya itu.
"Tanyakanlah apa yang ingin kau tanyakan sekarang, karena sepertinya entah kapan kita bertemu lagi, aku sangat sibuk akhir-akhir ini." Jawab Niko dengan pandangan yang tetap tertuju pada lembaran-lembaran kertas A4 itu, tanpa menoleh seedikit pun pada Rossa yang dianggapnya hanya udara di sana, ada tapi tak terlihat dan tak terasa.
"Hemh, bahkan kamu tak punya waktu lagi untuk ku," Rossa tersenyum getir, dia pernah merasakan menjadi orang teristimewa di kehidupan Niko dimana bukan hanya waktu bahkan dunianya saja dia berikan hanya untuk Rossa.
Namun sekarang seperti semudah membalikkan telapak tangan, semua itu beerubah 180 drajat, tak ada lagi Niko si paling mengerti dirinya, si paling memanjakan dirinya, si paling tak pernah rela melihat dirinya bersedih.
Ah, terkadang memang hal-hal seperti itu akan lebih terasa saat kita sudah kehilangan.
"Apa yang ingin kau tanyakan, sebenarnya?" Niko menoleh sebentar karena Rossa tak juga menyampaikan pertanyaannya, sementara dirinya harus segera kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya yang masih menumpuk akibat di tinggal bertemu dengan Rossa siang ini.
"Apa kamu punya kekasih?" Meski terdengar agak takut dan ragu, pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari mulutnya, pertanyaan yang sekian lama dia tahan di tenggorokannya itu akhirnya lepas begitu saja.
"Bukankah di perjanjian tertulis kalau kita tak boleh saling mencampuri urusan pribadi kita masing-masing?" Niko menaikan sebelah alisnya.
"Cih, apa kau kira yang mampu mempunyai kekasih di dunia ini hanya kau seorang?" Cibir Niko tersenyum melecehkan.
"Siapa wanita itu, apa aku mengenalnya?" Kejar Rossa penasaran.
"Nanti kalau sudah saatnya kau pasti akan tau, saat kau menghadiri undangan di pesta pernikaan kami." Lagi-lagi Niko tersenyum penuh kemenangan.
Tanpa tedeng aling-aling Niko kini sudah berani mengatakan hal-hal yang mungkin saja bisa menyakiti perasaan Rossa.
Namun benarkah Rossa akan merasa sakit hati? Bukankah dia juga punya kekasih hati lainnya seperti halnya Niko.
Rossa hanya terdiam tanpa banyak kata dan rasa penasarannya pun kini seakan menguap begitu saja.
**
__ADS_1
Sementara di tempat lain seorang wanita cantik dengan menggendong bayi perempuan lucu yang usianya mungkin belum genap satu tahun itu berjalan di loby hotel, matanya menyapu setiap sudut ruangan luas itu, sepertinya wanita yang diperkirakan usianya sekitar 25 tahunan itu sedang mencari seseorang, sampai pasa akhirnya,
"Amanda ?" Sapa Jessika mengampiri wanita yang di panggilnya dengan nama Amanda itu.
"Ah iya, apa anda mba Jessika?" Sapa wanita bernama Amanda itu ramah, sepertinya ini pertemuan pertama mereka, sehingga di antara mereka tak saling mengenal.
"Ayo, aku sudah membukakan kamar untuk mu, kasian anak mu sepertinya kelelahan habis perjalanan jauh," Ajak Jessika ramah.
Wanita bernama Amanda itu mengikuti dan mensejajarkan langkah nya dengan Jessika menuju kamar yang sengaja Jessika buka untuk wanita itu beresta anaknya.
"Kalian hanya datang berdua?" Tanya Jessika penasaran.
Wanita bernama Amanda itu hanya mengangguk pelan, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Beristirahat lah dahulu, aku akan keluar membeli kebutuhan mu dan si kecil selama di sini, nanti sore sepulang bekerja aku akan datang lagi ke sini menemui kalian," kata Jessika setelah mengantar wanita itu sampai di kamar yang di pesannya itu.
"Tak usah banyak berpikir, aku hanya ingin membantu mu, demi bayi mu juga, kalian aman bersama ku!" Ucap Jesika seraya melemparkan senyumannya seolah mengerti dengan kegalauan yang kini wanita itu rasakan.
"Terimakasih mba Jessika, semoga Tuhan membalas semua kebaikan mba,"
"Panggil aku Jessika saja kurasa kita seumuran, berapa usia mu kalau boleh tau?" tanya Jessika ramah.
"25," jawabnya singkat.
"Haha, harusnya aku yang memanggil mu mbak, aku lebih muda satu tahun di banding dengan mu, tapi anggap saja kita seumuran," seloroh Jessika berusaha mengakrabkan diri.
"Sebelumnya aku hanya bisa melihat mu di layar televisi sebagai desainer terkenal, sekarang aku bisa melihat mu secara langsung, ternyata kamu lebih keren aslinya," puji wanita bernama Amanda itu yang sedari tadi menatap lekat wajah dan penampilan Jessika yang selalu modis itu.
"Sekarang kita berteman, jangan sungkan pada ku!" Jessika memeluk wanita yang selama beberapa minggu ini intens berhubungan lewat telepon itu.
__ADS_1