
Benar saja, tanpa NIko menyadarinya sepasang mata terus mengawasi gerak gerik Niko di resto itu saat dirinya masuk ke ruangan vip resto yang sudah di pesan Jessika sebelumnya, dimana Jessika saat itu sedang makan sambil menunggui Niko datang.
"Hai sayang, apa kamu sudah lama menunggu ku?" Sapa Niko mencium pipi kekasihnya sekilas.
"Maaf kalau aku agak kekanak-kanakan, seharusnya aku tak berhak marah mendengar kalian bersama, aku hanya orang luar," lirih Jessika mulai bermain peran tarik ulurnya lagi, sesiangan dia berpikir kalau sikapnya itu sudah di luar rencana, dan dia tak bisa terus-terusan bersikap seperti itu, dirinya tak bisa lagi mencampur adukan perasaan dan rencana balas dendamnya.
"Jangan berkata seperti itu, perkataan mu malah membuat ku semakin merasa bersalah, kamu berhak melakukan apapun atas diri ku, maafkan aku, ini eemua salah ku!" Niko merengkuh bahu kekasihnya lantas mengecup pucuk kepalanya dalam.
"Tapi memang seperti itu kenyataannya, aku hanya orang ke tiga di luar pernikahan mu, yang kebetulan hadir di kehidupan mu,"
"Oh Jess, tolong hentikan, jangan terus membuat ku semakin tenggelam dalam perasaan bersalah ku, pada mu. Sebentar lagi, tunggu dan bersabarlah sebentar lagi, kamu akan menjadi nyonya Niko, aku akan melamar mu dan memberi tahu dunia kalau kamu adalah wanita pujaan sangat aku cintai," Rayu Niko berusaha membuat Jessika agar tak bersedih lagi.
Saat acara makan siang mereka selesai, Niko baru menyadari suatu hal,
"Nik, apa kau datang bersama Rossa?" Tanya seorang wanita yang di ketahui Niko adalah pemilik resto tersebut, dan merupakan salah satu teman dekat Rossa.
__ADS_1
"Ah, tidak aku tidak datang bersama Rossa, tapi aku datang bersama---" Niko menoleh ke arah Jessika yang langsung menyambar kata-kata Niko, menutupi kegugupan pria itu di hadapan teman istrinya yang seolah sedang menangkap basah dirinya yang sedang berselingkuh, walaupun memang kenyataannya begitu.
"Terimakasih atas waktunya pak Niko, terimakasih juga untuk kerja sama kita yang luar biasa," ucap Jessika tiba-tiba dengan senyumnya yang mengembang sempurna dan anggukan kepala tanda dirinya berpamitan, membuat Niko tergugu dan hanya membalas anggukan kepala Jessika tanpa membalas kata apa pun.
Sungguh posisinya saat ini sangat sulit bagi Niko, betapa dirinya ingin semua orang tau, bahwa Jessika adalah kekasihnya, namun di sisi lain dia juga harus memikirkan reputasi kekasihnya itu agar tak sampai rusak karena di anggap sebagai pelakor, mengingat dirinya masih terikat hubungan pernikahaan dengan Rossa.
Niko buru-buru keluar dari restoran itu setelah dirinya membayar semua tagihan di kasir, dia tak ingin terlibat pembicaraan lebih jauh lagi dengan teman istrinya, disamping itu dia juga ingin menyusul Jessika yang sudah duluan pergi meninggalkannya.
"Ternyata susah juga menjalin hubungan rahasia seperti ini, rasanya seperti terikat dan tak bebas bergerak kemana pun," keluh Niko dalam hatinya di sepanjang jalan menuju kendaraannya yang di parkir tak jauh dari restoran itu.
"Lama sekali, apa kamu bergosip dulu dengan pemilik resto itu, mas?" Keluh Jessika menutupi atas kepalanya dengan tas yang tadi di tentengnya untuk melindungi dirinya dari sinar matahari yang terasa terik siang ini.
"Aku hanya membayar bill saja, lalu buru-buru kesini, tidak lebih, untuk apa aku berlama-lama di sana kalau kekasih ku kabur duluan," gurau Niko, yang lantas di sambut gelak tawa dari Jessika.
Sesuai yang di janjikan sang pengacara pada dirinya, hanya dalam kurun waktu 2 minghu saja Niko di minta hadir untuk membacakan ikrar talak pada Rossa di pengadilan.
__ADS_1
"Secepat ini?" Kaget Niko bercampur bahagia, karena akhirnya dia dapat terbebas dari pernikahannya bersama Rossa.
"Semua akan cepat jika ada ada nominalnya, pak." Canda pengacara muda itu mencairkan suasana.
Sementara Rossa yang sudah di hubungi sejak kemarin menyatakan dirinya siap untuk datang ke pengadilan.
Sekitar dua jam menunggu kedatangan Rossa, akhirnya dia datang juga, dengan langkah percaya dirinya.
"Maaf, tapi saya dan Niko tidak bisa bercerai," kata Rossa dengan lantangnya memberi tahu seisi ruangan itu.
"Rossa, apa maksud mu, tidak bisa? Kita sudah sepakat!" Geram Niko akesal karena lagi-lagi dia merasa di permainkan oleh Rossa.
"Tidak bisa karena saat ini aku sedang mengandung anak mu!" Rossa memberikan tiga buah tes pack dengan beragam bentuk namun dengan hasil yang sama-sama positif di ketiganya.
"aku baru mengujinya pagi ini, untuk lebih akuratnya kita bisa usg ke klinik. Dan terakhir aku berhubungan itu dengan mu, berarti ini adalah anak mu!" Tegas Rossa dengan nada yang meyakinkan dan penuh percaya diri yang tinggi.
__ADS_1