
Begitu pintu ter buka dari luar, munculah sosok Rossa dengan wajah yang kusut dan mata sembab berurai air mata menghampirinya.
"Niko, aku ingin membatalkan kesepakatan kita, aku tak mau bercerai dengan mu!" Kata Rossa dengan suara bergetar dan sesekali terisak.
"Apa maksud mu? Kau tak bisa bersikap semau mu, aku bisa saja menuntut mu karena melakukan wanprestasi!" Geram Niko, menanggapi perkataan Rossa yang tiba-tiba saja ingin membatalkan perjanjian yang baru saja kemarian mereka sepakati.
Namun Rossa hanya terisak saja tanpa menjawab ucapan Niko yang terlihat sangat marah padanya itu.
*Beberapa jam yang lalu.
Rossa bergelayut manja di tangan sang kekasih tercinta, yaitu Ibnu saat mereka baru saja sampai di apartemen milik pria itu.
Ibnu memang sengaja mengajukan cuti selama 3 hari karena ingin merayakan hari di mana Rossa akhirnya akan melepas status istri dari Bimo dan sebentar lagi akan menjadi janda yang kaya raya dan akan segera di nikahinya.
"Sayang, apartemen ini akan segera aku jual setelah kamu resmi bercerai dari Bimo beberapa hari lagi," kata Ibnu seraya tangannya bergerilya di balik blouse merah yang saat ini dikenakan Rossa.
__ADS_1
"Lho, kenapa di jual?" Tanya Rossa bingung.
"Aku tak tega mengajak mu tinggal di apartemen sempit ini, lagi pula bukankah rumah mewah milik suami mui akan menjadi hak mu, kita bisa tinggal di sana, selain lebih luas dan lebih layak untuk kamu tinggali, jarak ku ke kantor juga menjadi dekat, aku tak harus berangkat subuh dari sini hanya untuk berangkat ke kantor." Bujuk Ibnu.
Bukan tanpa sebab Ibnu memilih tempat tinggalnya yang sangat jauh dari tempatnya berdinas yang berada di pusat kota, sementara dirinya tinggal di apartemen pinggiran, tentu saja itu semua karena harga apartemen di tempat itu masih sangat murah jika di bandingkan harus sewa di pusat kota, harganya masih mending membeli apartemen di pinggiran kota, meskipun harus berkorban berangkat subuh dari sana untuk menuju kantornya, selain jaraknya yang lumayan jauh, juga agar dia tak keburu terjebak macet dan membuatnya terlambat masuk kerja, seperti yang sering di alaminya setelah dia bertempat tinggal di apartemen pinggiran kota itu.
Bahkan dirinya sudah mendapatkan beberapa kali teguran dari atasannya tempat dimana dia bekerja.
"Ah, buat apa di jual, biarkan saja buat sesekali barangkali kita ingin main ke daerah sini, atau bisa juga kamu sewakan, dan kalau kamu ingin tinggal bersama ku, tak perlu menunggu bercerai, sekarang saja sudah boleh, kok. Aman, Bimo tak akan pulang kerumah itu lagi, bahkan barang-barang pribadinya seperti baju dan sepatu sudah tak ada lagi barang-barangnya yang tersisa di rumah itu!" Kata Rossa dengan tatapan nakal, dia tak merasa keberatan sama sekali jika Ibnu ikut tinggal di rumah pemberian Bimo padanya sebagai kompensasi perceraian itu, apalagi dirinya pun selalu merasa kesepian jika harus tinggal di rumah yang sebesar itu sendirian, baguslah kalau ternyata Ibnu bersedia menemaninya.
"Terimakasih sayang, kamu memang terbaik!" Puji Ibnu pada kekasihnya itu sambill terus menciumi belakang leher Rossa, membuat wanita itu meremang seketika saat mendapat perlakuan manis Ibnu itu, sungguh jauh berbeda dengan sikap Niko saat ini yang selalu saja dingin dan ketus padanya.
"Oh ayolah, kau selalu sangat menggoda, hingga membuat ku selalu merasa 'turn on' saat berada dekat dengan mu," Rayu Ibnu yang kini sudah berhasil membuka seluruh kancing depan blouse
Rossa, menyisakan dalaman berwarna merah menyala, membuat mata Ibnu semakin terbelalak saja saat melihatnya.
__ADS_1
Bibir dan lidah Ibnu menyapu di daerah gunung kembar itu, bahkan dia juga sengaja membuat beberapa stempel merah menggunakan mulutnya diarea itu, sebelum akhirnya kegiatan panas mereka yang di lakukan di ruang tamu itu harus terhenti karena suara bel pintu berbunyi berulang kali.
"Aarrrghhh, siapa sih ysng berani mengganggu kesenangan ku, sialan!" Umpat Ibnu.
"Buka dulu pintunya, wsiapa tahu penting, yang penting jangan biarkan tamu mu masuk, aku masih ingin melanjutkan kegiatan panas kita di sini," tunjuk Rossa pada sofa yang kini sedang di dudukinya.
Ibnu mengangguk denga langkah yang sangat terpaksa menuju ke arah pintu yang sejak padi tak henti dengan mulut yang terus menggerutu akibat kesal permainan panasnya dengan Rossa harus terganggu, karena kehadiran tamu yang tak di harapkan lagi.
Namun saat pintu utama mulai Ibnu buka, Seotang wanita dengan seorang bayi di gendongannya menerobos masuk, meski tanpa di persilaka oleh si pemilik apartemen.
"Amanda, Lili?" Gagap Ibnu mengabsen nama 2 wanita berbeda generasi itu.
"Amanda, kamu tak boleh masuk---" cegah Ibnu yang ternyata kini sudah terlambat karena wanita bernama Amanda dengan putri kecilnya yang bernama Lili itu kini sudah berada di dalam apartemen milik Ibnu itu.
"Hey, siapa kau tak sopan sekali, berani-beraninya menyerobot masuk ke sini?" Hardik Rossa.
__ADS_1
"Harusnya saya yang bertanya pada anda, siapa anda anda dengan keadaan pakaian yang tak lagi utuh berada di dalam apartemen suami ku? Ayah dari anak ku!" Wanita bernama Amanda yang ternyata mengaku sebagai istri dari Ibnu itu menghardik balik Rossa dengan nada suara yang tak kalah tinggi, plus acungan jari telunjuknya yang tepat menunjuk di depan wajah Rossa yang kini terlihat pucat pasi.
"Apa istri dan anak? Ibnu, jelaskan semua ini pada ku!" teriak Rossa yang kini berbalik meneriaki kekasih gelapnya itu dengan suara yang melengking memekikkan telinga.