
"Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan pada ku, aku tak akan menolaknya," bisik Rossa tepat di telinga Niko, membuat pria itu meremang seketika dan gairahnya semakin memuncak karena godaan Rossa yang dalam pikirannya yang di pengaruhi saat alkohol itu adalah Jessika sang kekasih hati.
"Jess, apa kamu yakin?" Niko menenggelamkan wajahnya di dada kenyal dan montok Rossa,
"Kenapa dada mu rasanya ukurannya terasa berbeda?" tenyata dalam mabuk pun Niko masih mengingat ukuran dada Jessika yang biasanya tak sebesar itu.
Rossa semakin mengeraskan wajahnya, betapa di benaknya kini terbayang sang suami yang ternyata sering mencumbu wanita lain seperti halnya dirinya yang sering di cumbu pria lain selain suaminya itu.
"Apa kamu mengganti parfum mu sayang?" ceracau Niko ketika dengan suka rela Rossa membuka pakaian atas nya sampai polos tak tersisa.
"Cukup, tak usah banyak bicara lagi, kamu hanya perlu menikmati tubuh ku saja tanpa banyak protes." Kata Rossa yang mulai jengah dan telinganya terasa panas saat Niko terus saja menyebut nama perempuan lain di tengah dia menggerayangi tubuhnya.
"Oh Jess, aku tak menyangka kalau akhirnya kamu menyerahkan semuanya untuk ku, kamu benar-benar istimewa dan aku sangat mencintai mu, lebih dari apa pun."
Mendengar ucapan Niko yang terus saja memuja dan memuji kekasih gelapnya itu, membuat mood Rossa untuk bermesraan dengan suaminya itu seketika saja hilang sehingga dia memutuskan untuk beranjak dari pangkuan pria yang tadinya ingin dia ajak bermesraan memanfaatkan keadaan nmabuknya itu, namun ternyata hatinya tak cukup kuat mendengar semua racauan Niko yang terus memuji Jessika.
'Ah, Jes, Jes,Jes,,, siapa sebenarnya wanita yang dia panggil Jes itu, sialan bikin mood hilang saja," umpatnya kesal.
__ADS_1
Sampai pagi Tiba Niko baru tersadar kalau dirinya kini sedang tertidur di sofa yang sepertinya tak asing di ingatannya, kepalanya masih terasa pengar akibat minuman semalam, sehingga seberapa kuat pun dirinya mengingat ingat apa yang terjadi semalam tetap kepalanya blank.
Belum selesai dia mengingat ingat kejadian semalam, tiba-tiba dia di kejutkan lagi dengan tubuh wanita tanpa busana yang meringkuk memeluk tubuhnya yang juga ternyata polos tanpa sehelai benangpun menempel di kulitnya.
"Ah, Rossa? Apa-apaan ini!" Kaget Niko refleks mendorong tubuh polos Rossa sampai wanita itu terguling ke lantai.
"Awhhh,,,ssshh, Niko! Kenapa mendorong ku, ini sakit sekali!" Protesnya.
"Kenapa kita seperti ini, seharusnya kita tak boleh seperti ini!" Niko sibuk memunguti keneja dan celananya yang tercecer di lantai lalu mulai memakainya satu persatu.
Hati Niko terasa tak karuan, kepalanya sudah berpikir sangat keras, namun yang dapat dia ingat dari kejadian semalam adalah dia yang sedang bercumbu dengan Jessika, bukan Rossa seperti yang kini berada di hadapannya.
"Apa ini salah satu rencana busuk mu, menjebak ku dengan cara kotor seperti ini?" Niko memicingkan matanya, menatap Rossa tajam.
Sungguh saat ini perasaan Niko terasa campur aduk, dia bahkan tak tau harus beralasan apa pada Jessika jika kekasihnya itu bertanya mengapa dia tak pulang semalaman, Jessika pasti sangat menghawatirkannya karena dirinya bahkan tak memberinya kabar sama sekali.
"Kamu yang merrayu dan memaksa ku untuk melakukannya, kenapa jadi menyalahkan ku!" Tepis Rossa mengelak dari apa yang di tuduhkan Niko padanya.
__ADS_1
"Aku tak akan percaya lagi pada mu, dan aku harap ini pertemuan kita untuk yang terakhir kalinya, jangan pernah menemui ku, sampai jumpa di pengadilan saat sidang perceraian kita, aku yang akan mengajukan gugatan nya hari ini juga." Niko bergegas pergi meninggalkan rumah yang sebenarnya masih atas nama dirinya itu, namun sungguh Niko tak mau lagi jika harus kembali ke rumah itu, apalagi mengingat kejadian pagi ini, dirinya di buat panas dingin memikirkan apa yang telah terjadi semalam anatara dirinya dan Rossa yang akan segera di ceraikannya itu.
Memang tak ada yang salah jika pun hubungan itu terjadi di antara mereka, mengingat mereka memang masih terikat hubungan suami istri, namun hati Niko rasanya seperti sudah menghianati Jessika jika benar dirinya melakukan itu semua dengan Rossa.
"Mas, dari masa saja semalam? Kok gak ngabarin aku kalau kamu tak pulang?"
Jessika menyambutnya dengan pertanyaan yang sangat ingin Niko hindari pagi itu.
"Ah, kamu belum berangkat kerja, sayang?" Niko berusaha menutupi kegugupannya, denga bersikap seolah sebiasa mungkin.
Padahal dirinya sengaja mengulur waktu dengan berputar putar dulu tadi di jalan, berharap saat dirinya pulang ke apartemen Jessika sudah berangkat ke butiknya, namun ternyata perkiraannya salah, Jessika rupanya sengaja menunggu kepulangan dirinya pagi itu, sehingga dia sengaja tak buru-buru berangkat ke butiknya.
"Aku menunggu mu semalaman, tapi bahkan kabar dari mu pun tak aku dapatkan," ujar Jessika dengan lingkaran matanya yang menghitam karena semalaman tidak tidur menunggu dan menghawatirkan keadaan Niko yang tak kunjung pulang dan tak bisa dia hubungi.
"Maafkan aku sayang!" Niko merengkuh tubuh mungil Jessika yang berdiri tepat di hadapannya, tiba-tiba dirinya diliputi perasaan sangat bersalah karena telah membuat Jessika menghawatirkannya semalaman.
Niko mendekapnya dengan sangat erat, menyalurkan perasaan bersalah dan menyesal yang kini dia rasakan.
__ADS_1
"Mas, kamu bau alkohol, dari mana kamu sebenarnya semalam?" Selidik Jessika mengurai pelukan erat pria yang semalaman dia khawatirkan itu, pandangannya penuh keingin tahuan dan sangat berharap kejujuran Niko saat ini.
Niko menghela nafas dalam sambil memejamkan matanya, sungguh dirinya kini tak tau harus menjawab apa, dia seakan tak punya jawaban atas pertanyaan yang diberikan Jessika padanya.