Aku Memang Pelakor

Aku Memang Pelakor
Aku tau semuanya!


__ADS_3

"Apa maksud dari ini semua, Niko?" tanya jessika marah.


"Apa kau tuli, atau kau pura-pura tak mendengar, kalau Niko kini sudah menyadari kekeliruannya, karena tempat pulang bagi seorang suami adalah istrinya, gundik seperti mu hanya dijadikannya sebagai pelabuhan untuk singgah sementara, bagaimanapun juga, perebut suami orang itu tak akan pernah menang, dan jikapun itu terjadi, hidupnya tak akan pernah tenang, karena berbahagia dengan barang curian!" Suara Rossa tiba-tiba saja menyambar percakapan antara Jessika dan Niko.


Bak perempuan paling suci sedunia, dia mengata-ngatai Jessika dan menceramahinya tentang masalah pelakor, sementara dia lupa kalau kata-katanya itu juga sangat cocok diperuntukkan bagi dirinya sendiri.


Bukan kata-kata Rossa yaang membuat hati Jessika perih saat ini, namun justru sikap Niko yang seolah tak peduli dan membiarkan begitu saja istrinya mencacimaki dirinya, padahal NIkopun seharusnya tahu kalau kelakuan istrinya sama bejadnya dengan apa yang dikatakan Rossa barusan padanya.


Jessika tak tahu apa yang menyebabkan Niko menjadi begitu dingin dan tak peduli padanya, padahal beberpa hari sebelumnya mereka biasa-biasa saja, selama kebersamaan mereka pun hampir tak pernah ada masalah yang berarti di antara mereka, namun tiba-tiba mendapati sikap kekasihnya berubah seperti itu tak ayal membuat batin Jesika terluka disamping bertanya-tanya tentu saja.


"Niko, apa yang terjadi dengan mu, apa yang membuatmu menjadi sebegitu marah dan benci pada ku? Katakan alasannya dan aku akan pergi selamanya dari hidup mu." ucap Jessika tegas meski sekuat tenaga menahan tangis dan perih di dadanya mengabaikan keberadaan dan ucapan Rossa yang terus saja menyerangnya.

__ADS_1


"Sudahlah, aku sudah tau semuanya. Sudah tau apa niatmu sebenarnya mendekati ku, aku ada di kefe itu saat kalian bertiga berbincang!" urai Niko, meski tak menjelaskan sepenuhnya, Niko yakin Jessika paham kemana arah pembicaraannya.


Deg,


Dada Jessika bagai dihantam batu yang sangat besar, rasanya sakit, sesak dan sangat menghentak, jika Niko benar berada disana kemarin saat dirinya, Ibnu dan juga Amanda berbicara, itu berarti Niko sudah mengetahui tentang Jeslyn dan rencana balas dendamnya.


Namun yang Niko tak tahu dalam hal ini adalah tentang bagaimana perasaannya yang sesungguhnya kalau dirinya telah jatuh cinta sungguhan pada pria beristri itu.


"Tidak ada hal baik yang di awali dengan kebohongan dan kebencian, aku tak mau terseret dalam pusaran masalah mu, dan aku juga ingin melindungi ibu dari calon anak ku," Niko melirik sekilas ke arah Rossa yang sepertinya kebingungan karena tak tau apa yang sedang di bicarakan antara Jessika dan Niko saat ini, kebohongan apa? Namun setidaknya dia patut berbahagia dan berbangga diri karena akhirnya Niko telah kembali memilihnya dan dapat dia miliki seutuhnya, bahkan Niko pun membela dan lebih memilihnya di hadapan Jessika.


"Baik, aku terima keputusan mu, maaf sudah menyeret mu dalam permasalahan ini, memaksa mu terlibat dalam kesalahan yang tidak pernah kamu buat, aku minta maaf, hanya saja... terserah kamu mau percaya atau tidak, perasaan ku tulus pada mu, tapi biarlah ini menjadi karma ku karena pernah berniat mempermainkan mu awalnya, terimakasih atas semua rasa yang pernah kamu beri. Ini kunci apartemen mu, aku permisi!" setelah memberikan keycard apartemen milik Niko, Jessika segera memutar badannya dan bergegas meninggalkan Niko yang menerima kunci itu dengan tangan yang bergetar.

__ADS_1


Jessika tak ingin Niko melihatnya bercucuran airmata, dan juga tak ingin Rossa tertawa diatas tangisnya.


Samar-samar terdengar suara Rossa yang meneriakinya, "Dasar pelakor, rupanya kau hanya mengincar harta suami ku, hargadiri mu hanya seharga apartemen? Memalukan!" teriak Rossa menebak-nebak apa yang terjadi.


Sungguh saat ini Rossa tak tau siapa Jessika yang sebenarnya, dia hanya tau kalau waniat itu berusa menggoda dan mencuri Niko dari sisinya.


Sementara NIko hanya bisa terdiam sambil memandangi punggung Jessika yang semakin menjauh dari pandangannya, entah apa yang dirasakannya kini dalam hatinya, harus bahagiakah karena terlepas dari jerat kebohongan Jessika yang sengaja memperdaya dirinya hanya untuk membalaskan dendam pada istrinya.


Atau harus bersedih karena ternyata Jessika tadi mengakui kalau dia mempunyai persaan yang tulus untuk dirinya, haruskah dia percaya dengan perkataan Jessika?


Namun jauh di lubuk hatinya ada luka yang lebih sakit dari sekedar di hianati Rossa karena berselingkuh dengan pria lain, rasa sakit itu adalah rasa cintanya yang begitu besar pada Jessika terpaksa harus dia kubur sendiri dalam hatinya karena sebuah alasan pahit dimana dia tak menemukan sebuah kebohongan dalam diri kekasihnya yang di sembunyikan dari dirinya, betapa rasanya itu lebih sakit dari hanya sekedar penghianatan karena perselingkuhan.

__ADS_1


__ADS_2