Aku Memang Pelakor

Aku Memang Pelakor
Surprise!


__ADS_3

Tepat pukul 7 malam Jessika sampai di apartemennya, namun ada yang aneh di sana, dimana lampu masih gelap,


"Kemana Niko? Apa dia masih berdiskusi dengan istrinya itu? Apa yang mereka diskusikan, hingga sampai malam vegini belum juga pulang?" Kesal Jessika tiba-tiba hatinya terasa panas dan timbul rasa cemburu, karena Niko belum kunjung pulang.


Tring,,,!


Sebuah pesan masuk ke ponselnya,


"Aku tak pulang ke apartemen mu," begitu isi pesan yang di kirimkan Niko padanya.


Sontak saja membuat dirinya yang sedang di bakar api cemburu itu makin merasa panas saja di hatinya.


Dibantingnya ponsel itu ke atas kasur dengan perasaan kesal tanpa ingin membalas pesan yang di kirimkan Niko padanya itu.


Namun beberapa menit kemudian ponselnya kembali berbunyi, kali ini panggilan masuk dari Niko, dengan setengah hati Jessika menekan tombol hijau untuk menerima panggilan telepon dari kekasihnya itu.


"Kenapa tak membalas pesan ku?" Tanya Niko.


"Aku takut mengganggu waktu berduaan mu dengan mbak Rossa," sinis Jessika, nada suaranya bahkan terdengar agak ketus.


"Hahaha,,, jangan bilang kalau kamu sedang cemburu pada Rossa!" Ledek Niko terkekeh.


"Apa, cemburu? Enak saja, mana ada aku cemburu!" Elak Jessika.


"Aku di sini kok, kamu naik ke lantai 32, unit nomor 306, sandinya tanggal lahir mu," Kata Niko mengakhiri pembicarannya di telpon secara sepihak membuat Jessika bertambah kesal sekaligus penasaran.

__ADS_1


Jessika langsung keluar dari unitnya menuju lift untuk naik ke 7 lantai di atasnya dimana kini dia berada.


Tak sampai 10 menit Jessika sudah berdiri di depan unit 306 seperti yang Niko arahkan tadi, lantas memasukan tanggal bulan dan 2 digit terahir tahun lahirnya di kunci pintu digital itu.


Benar saja pintu unit apartemen itu terbuka setelah dia memasukan kode yang merupakan tanggal lahirnya itu.


"Mas,,,Mas Niko !" Panggil Jessika, matanya menelisik semua penjuru ruangan, mencari sosok Niko yang sejak tadi di cari dan mulai di rindukannya.


"Surprise!" Pekik Niko saat Jessika memasuki ruang tengah apartemen yang sepertinya 2 kali lebih luas jika di bandingkan dengan unit miliknya.


"Mas, apaan sih, orang aku gak ulang taun pake surprise-surprise an segala!" Cebik Jessika yang tampak sedikit kebingungan.


"Ngasih kejutan kan, gak harus ulang taun saja sayang, yang penting hari spesial!" Kata Niko seraya memeluk dan mengecup pipi kekasihnya yang seharian ini tak di jumpainya itu, membuat dirinya seakan tak dapat menahan rindunya.


"Tentu saja milik kita, baju- baju mu bahkan tadi sore sudah di pindahkan ke sini sebagian!" Cengir Niko tanpa dosa.


"Maksudnya?" Suara Jesika meninggi.


"Maksudnya kita akan tinggal di sini mulai sekarang, masa aku nebeng di tempat cewek, rasanya aku tak punya harga diri gitu sebagai laki-laki," Niko menoel hidung bangir Jessika seraya mengajaknya berkeliling melihat-lihat seluruh ruangan 2 lantai itu yang terlihat sudah siap huni.


"Kapan kamu mempersiapkan ini semua, mas?" Jessika berbalik ke arah Niko dan mengalungkan tangannya ke leher kokoh pria yang kini sangat berarti dalam hidupnya itu.


"Semenjak aku tau kamu tinggal di apartemen ini, tiba-tiba aku beride untuk membeli unit di sini juga, entah kenapa. Mungkin karena kita jodoh kali, ya?" Goda Niko tersenyum nakalnya, dia sengaja mengajak Jessika untuk tinggal bersama di apartemen yang baru sekitar sebulan lalu di belinya itu.


Niko memutuskan untuk tinggal disana selain lebih dekat dengan Jessika jika kemungkinan terburuk kekasihnya itu tak mau di ajak tinggal bersama, selain itu, rumahnya sudah dia berikan untuk Rossa sebagai kompensasi perceraian.

__ADS_1


"Ish, kamu pede banget mindah-mindahin baju ku ke sini, memangnya aku mau tinggal di sini?" Ujar Jessika saat membuka lemari pakaian di kamar utama dan terdapat beberapa bajunya di sana.


"Harus mau dong, karena sebentar lagi kamu bakal jadi nyonya Niko, soalnya Rossa sudah setuju untuk bercerai secara damai." Kata Niko


"Hemh syukurlah, semoga kata-katanya bisa di pegang, dan dia mau menepati kesepakatan yang sudah kalian buat." Ujar Jessika menyunggingkan senyum tipis kemenangannya yang nyaris tak terlihat.


"Tentu saja dia harus menepatinya karena dia sudah menandatangani kesepakatan hitam di atas putih, aku bisa saja menuntutnya jika dia mengingkarinya." Terang Niko dengan yakin.


Keesokan harinya lagi-lagi Jesika pamit untuk pulang terlambat dan tak makan siang bersama Niko dengan alasan yang sama seperti kemarin.


Tanpa rasa curiga Niko mengijikkannya, kekasihnya itu memang sedang naik daun, sehingga pekerjaan nya sangat sibuk dan membludak.


Niko juga bukan tipe pria yang mengekang atau suka melarang-larang kegiatan pasangannya selama itu positif, apalagi untuk berkarya, Niko bahkan mendukungnya penuh.


Adapun dulu Rossa yang memilih untuk tak berkegiatan dan hanya ingin mengandalkan uang dari Niko saja pun Niko tak merasa keberatan dengan pilihannya, karena dirinya pun mampu memenuhi kebutuhan istrinya tanpa harus istrinya ikut bekerja.


Sore hari menjelang malam Niko masih berada di kantornya, dia memutuskan untuk lembur karena pulang pun Jessika sepertinya tidak ada di rumah, karena semalam dia sudah pamit untuk pulang telat.


Sedang asik tenggelam dalam tugas-tugasnya, tiba-tiba pintu ruang kerjanya di ketuk dari luar.


"Masuk!" Teriak Niko tanpa curiga sama sekali.


Begitu pintu ter buka dari luar, munculah sosok Rossa dengan wajah yang kusut dan mata sembab berurai air mata menghampirinya.


"Niko, aku ingin membatalkan kesepakatan kita, aku tak mau bercerai dengan mu!" Kata Rossa dengan suara bergetar dan sesekali terisak.

__ADS_1


__ADS_2