
Tubuh Jessika bergetar hebat, airmatanya kini bahkan mulai berjatuhan tak tertahan, dia tak mengira jika rencana balas dendamnya akan menjadi kacau seperti ini, banyak hal-hal di luar dugaan dan perkiraannya terjadi, dan sialnya itu tak hanya membahayakan dirinya saja pada ujungnya, namun juga membahayakan orang-orang di sekitarnya.
Harus bagaimana dia menghadapi hari-harinya, bahkan terorpun mulai dia terima, saat Jessika pulang ke apartemennya, di pintu unit apartemennya terdapat beberapa kertas menepel dengan tulisan-tulisan yang berisi hujatan dan makian yang tertuju untuk dirinya.
Seolah tak ada tempat yang aman lagi bagi dirinya, bahkan di tempat tinggalnya sekalipun dia masih mendapatkan ancaman dan intimidasi dari orang-orang yang tak dikenalnya.
Ya, mungkin ini konsekuensi dari apa yang telah diperbuatnya, namun tetap saja, rasanya itu terlalu berat bagi Jessika yang akhirnya memutuskan untuk menyerah dan meninggalkan negaranya ini untuk kembali ke negara dimana ibunya kini tinggal, Jessika memutuskan untuk kembali ke Paris tinggal bersama ibunya, lari dari semua permasalahan yang rasanya sudah tak sanggup lagi untuk di tanggungnya.
Perstan orang akan mengatakannya pecundang, payah, dan apapun itu, dia hanya ingin mengobati luka hatinya, biarlah butik impiannya yang telah menaikan namanya dan telah menjadi jembatan dia mengenal sosok Niko pria yang belum bisa di lupakannya sampai saat ini harus dia tutup, tak ada pilihan lain selain itu, meninggalkan semua kekacauan dan kenangan pahit dan manis sekaligus adalah pilihan satu-satunya yang bisa Jessika ambil.
Berat memang keputusan ini, dimana Jessika harus rela tak bisa bertemu lagi dengan Niko untuk selamanya, tapi mau bagaimana lagi, toh kalau dirinya tetap tinggalpun, Niko sudah tak sudi bertemu dengannya lagi, dia lebih memilih untuk hidup bersama istrinya, mungkin memang sudah saatnya dirinya merelakan dan melepaskan semua dendam mengakar di dalam hatinya.
__ADS_1
Terbanglah Jessika keesokan harinya menuju Paris, dia tak ingin mengingat-ingat lagi apa yang telah terjadi selama beberapa bulan terakhir ini di Indonesia, dia hanya perlu mengubur semua kenangan itu, dia juga akan memulai kariernya lagi dari awal di sana.
***
Hampir satu tahun Jessika meninggalkan kampung halamannya, memulai hidup barunya bersama sang ibu, sayangnya tak seharipun dia melupakan Niko, kebersamaannya yang hanya sebentar itu tak bisa dia lupakan dalam waktu yang sebentar juga, ingatan tentang pria itu melekqt erat di benaknya.
Tak terhitung berapa kali dia mencoba melupakan pria itu, hanya saja itu tak pernah berhasil, bayangan tentang Niko yng kini telah berbahagia bersama Rossa dan juga bayi mereka yang seharusnya kini sudah lahir membuat hati Jessika terasa makin nyeri.
Jessika yang kini menjadi assisten seorang desainer ternama disana baru saja pulang dari bekerja, dia berjalan kaki menelusuri jalanan kota Paris yang dipenuhi salju di akhir bulan desember ini, jaket tebal yang di pakai Jessika seakan tak dapat menahan dinginnya udara sore itu yang mencapai 5° celcius itu, membuat Jessika ingin cepat-cepat sampai ke rumahnya dan menikmati coklat panas buatan ibunya.
Namun betapa terkejutnya saat dirinya hendak membantu mengambilkan ponsel pria itu sebagai ucapan maaf dan rasa bersalahnya, Jessika teesentak kaget karena wajahnya menjadi wallpaper di layar ponsel itu.
__ADS_1
Dengan sedikit berdebar, Jessika memungut ponsel itu dari atas tumpukan salju yang menutupi trotoar jalanan, kepalanya terasa berat saat ingin melihat wajah siapa si pemilik ponsel itu.
"Jess?" panggil pria dihadapannya itu dengan tatapan yang seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang ini.
Jantung Jessika rasanya mau copot saat mendengar suara yang selama satu tahun ini sangat dia rindukan.
Tangan Jessika bahkan terlihat sangat gemetar saat menyodorkan ponsel itu ke hadapan pria yang ternyata adalah Niko, pria yang di setiap malamnya masih sering hadir dan menghiasi mimpinya.
"N-Niko?" gagap Jessika tak percaya dengan apa yang kini ditangkap indera penglihatannya, rasanya benar-benar seperti mimpi, melihat Niko berada di negara yang sama tempatnya kini tinggal.
"Akhirnya aku menemukan mu!" Niko menatap sayu sambil menguntai senyum manisnya.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Jessika tak mengerti.
"Ya, akhirnya aku menemukan mu setelah enam bulan lamanya aku mencari mu dari kota ke kota di negara ini, sungguh usaha tak akan menghianati hasil." cicit Niko yang terus saja menguntai senyum bahagianya, bahkan kini pria itu memeluk erat wanita yang masih terdiam mematung mendengarkan apa yang dikatakan oleh pria dihadapannya itu.