
"Mau kemana lagi kamu?!" Teriak Rossa saat melihat suaminya seperti hendak pergi lagi, padahal dia baru saja pulang, dan sepanjang ingatan Rossa, suaminya itu tipe pria yang betah sekali di rumah, jadi setelah pulang kantor, dia pasti akan menghabiskan waktunya di rumah, kalaupun harus keluar itu pasti pergi bersama dirinya, namun akhir-akhir ini boro-boro berdiam di rumah, pulang tepat waktu saja sudah untung.
"Bukankah kau menyuruh ku untuk tidur di kantor saja agar tidak bolak-balik ke rumah?" Jawab Niko menyambar kunci mobilnya yang dari semalam di pakai Rossa.
"Niko, sialan, kembali kamu!" Teriak Rossa mencoba mencegah kepergian suaminya, namun sayangnya Niko sudah merasa jengah berada di rumah dia tau kalau dirinya tetap memaksakan diri tetap berada di sana, yang ada dirinya hanya akan terlibat pertengkaran yang lebih jauh lagi dengan istrinya itu.
Kali ini Niko tak pergi ke apartemen Jessika, melainkan dia benar-benar pergi ke kantornya, sungguh Niko butuh waktu untuk mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Niko tak pernah mencari pembenaran diri dalam hal perselingkuhannya, dia juga tak tau mengapa tiba-tiba dirinya segampang itu jatuh cinta pada Jessika, namun lagi lagi kita tak bisa memilih pada siapa dan kapan cinta itu datang meski terkadang cinta itu datang pada waktu yang salah, seperti yang di rasakan Niko saat ini, dirinya jatuh cinta di saat masih terikat janji suci pernikahan.
Dua hari Niko tidur di kantor, dia benar-benar ingin menenangkan hati dan pikirannya, jessika setiap saat menghubunginya mempertanyakan dirinya yang tiba-tiba saja menghilang tak ada kabar berita, sementara Rosa sang istri tak sekali pun menghubunginya atau mempertanyakan mengapa dirinya tak pulang.
Ada yang aneh dengan hal ini, Rossa yang biasanya sangat posesif menjadi se cuek itu padanya, bahkan jika dirinya telatvpulang saja dia bisa menghubungi Niko puluhan kali, namun kali ini dirinya tak pulang selama 2 hari dia seolah tak peduli.
Tok,,,tok,,,tok,,,!
"Ada tamu yang ingin bertemu dengan anda, pak!" Lapor Rima.
"Tamu? Siapa? Apa dia sudah buat janji dengan ku?" Niko terlihat ogah-ogahan menerima tamu dari kemarin, apalagi saat sekretaris nya itu mengatakan kalau tamunya kali ini belum mempunyai janji apapun dengannya.
__ADS_1
"Aku tak menerima tamu dulu hari ini!" tolak Niko.
"Tapi ada hal penting yang harus saya sampaikan pada bapak," Jessika menerobos masuk ke dalam ruangan itu, membuat Rima menjadi panik karena takut Niko murka padanya.
"Maaf nona Jessika, tapi pak Niko sedang tak bisa---" Rima menahan tubuh Jessika agar tidak lebih masuk lagi ke dalam ruangan itu.
"Rima, tinggalkan kami berdua !" Titah Niko ketika tau kalau Jessika yang datang.
"Mas, apa yang terjadi? Kenapa dua hari ini aku tak bisa menghubungi mu? Apa istri mu mengetahui kedekatan kita?" Jessika memberondong Niko dengan banyak sekali pertanyaan yang memang selama 2 hari ini mengganggunya.
Satu hari pertama Jessika masih santai saat Niko tak menghubunginya seharian, mungkin dia sedang menyelesaikan konflik rumah tangganya, lagi pula bukankah ini akan sangat seru, membuat kehidupan rumah tangga Rossa yang biasanya selalu adem ayem dan terbranding sebagai pasangan yang couple goal itu gonjang ganjing, betapa Jessika tak sabar ingin menyaksikan Rossa menangis-nangis pilu seperti halnya dulu Jessika yang selalu ikut merasa teriris batinnya saat Jeslyn mencurahkan kesakitannya akibat perlakuan Rossa yang selalu menjadi benalu di kehidupan rumah tangganya.
Jessika menghampiri Niko yang seolah enggan beranjak dari kursi kebesarannya.
"Mas, katakan apa yang terjadi, apa kamu menyesal menjalin hubungan dengan ku?" Tanya Jessika yang kini berdiri di sebelah kursi kerja tempat Niko kini duduk.
"Aku tak pernah menyesal telah jatuh cinta pada mu," Niko menarik pinggang ramping Jessika agar duduk di pangkuannya.
"Aku merindukan mu, tapi aku sadar aku hanya orang ke tiga, dimana aku harus bisa menerima sisa waktu mu setelah kamu bersama istri mu," rajuk Jessika dengan mimik wajah yang di buat se memelas mungkin.
__ADS_1
"Sayang, maafkan aku yang tak bisa memberi mu waktu yang utuh buat mu, andai aku bisa, andai kita bertemu saat aku masih sendiri, maafkan aku yang telah membawa mu ke dalam suasana rumit seperti ini," Niko mendekap erat Jessika yang duduk di pangkuannya dengan mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Niko.
"Aku yang harusnya minta maaf mas, karena telah lancang memasuki kehidupan rumah tangga mu, aku bersedia mundur jika kebersamaan kita ini ternyata membuat mu menjadi mendapatkan masalah yang menyulitkan mu, mas," ujar Jessika, seraya menyenderkan kepalanya di pundak sang kekasih.
Posisi Jessika saat ini sungguh membuat Niko kalang kabut menahan gairah, sudah sekitar hampir sebulan ini dia tak dapat menyalurkan hasratnya, selain hubungannya dengan Rossa yang kini sedang kurang harmonis, hubungannya dengan Jessika juga belum sejauh itu, meski beberapa kali dia menginap di apartemen milik kekasih gelapnya itu, namun hubungan mereka belum sampai se jauh itu.
Niko menangkap kalau Jessika masih sangat polos dalam urusan-urusan seperti itu, bahkan saat mereka berciuman untuk pertama kalinya, Niko sudah bisa menebak kalau itu ciuman pertama Jessika, karena terasa sangat kaku dan hanya bisa mengikuti gerakan yang dia lakukan.
"Jess, apa aku boleh bertanya sesuatu pada mu?" lirih Niko.
"Hmm," Jessika hanya berdeham sambil mengangguk.
"Apa kamu pernah punya pacar sebelumnya?" Tanya Niko ragu-ragu takut kalau pertanyaannya menyinggung perasaan kekasihnya.
"Tidak, aku belum pernah berpacaran, aku sibuk belajar dan kuliah, hidup ku sudah asik saat itu dan tak memerlukan kekasih dalam hidup ku!" urainya, sebenarnya apa yang dia ceritakan barusan 90 persen kebenaran, hanya ada satu hal yang tak turut dia ceritakan dalam kebenaran yang dia uraikan itu, yaitu tentang balas dendamnya pada Rosa yang membuat mereka saat ini menjadi terlibat hubungan yang cukup rumit.
"Lalu, kenapa kamu memilih aku sebagai kekasih pertama mu?" Tanya Niko yang sontak saja membuat Jessika terlihat sangat gugup dan pucat mendengar pertanyaan Niko.
Bukankah tak mungkin jika dirinya mengatakan dengan jujur kalau itu semua karena balas dendamnya.
__ADS_1