
Jessika tersenyum sendiri saat berada di ruang kerja butiknya siang itu, sebuah pesan ajakan makan siang terkirim dari Niko.
Bayangan wajah tampan Niko tiba-tiba menari nari di pelupuk matanya, betapa dirinya saat ini sangat senang karena sepertinya usahanya untuk menjerat Niko tak sia-sia dan sudah terlihat hasilnya, buktinya saat ini Niko sepertinya semakin lengket dan selalu ingin bertemu dengnnya, belum lagi setiap hari pria itu selalu menghubunginya tak peduli pagi, siang, sore ataupun malam.
Tok,,tok,,tok,,!
Suara ketukan pintu di ruang kerjanya membuat semua bayangan wajah Niko yang seperti tayangan video di depan matanya itu buyar seketika.
Seorang pegawainya memberi tahukan padanya kalau seorang istri pejabat tinggi negeri ini ingin bertemu dengannya untuk memesan baju secara khusus.
Jessika sedikit terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu sebelum dirinya menyetujui pertemuan dengan istri pejabat tinggi itu yang akan di lakukan di kediamannya itu.
Jessika terlanjur menyetujui makan siang dengan Niko tadi, tapi kesempatan untuknya merancang busana untuk orang penting di negeri ini juga tak ingin dia sia-siakan, sementara kesempatan itu tak pernah datang untuk kedua kalinya.
"Baik, katakan pada beliau, aku akan datang ke kediamannya siang ini juga," putus Jessika, yang ternyata lebih memilih pekerjaannya untuk dia ambil saat ini, sekalian berusaha untuk bermain tarik ulur dengan pria buruannya yang kini semakin masuk ke dalam perangkapnya itu.
Jessika mematikan ponselnya, agar Niko tak bisa menghubunginya, dia juga sengaja tak membatalkan janjinya, tak lupa dia berpesn pada seluruh karyawannya di butik untuk tak memberitahukan pada siapapun perihal kepergiannya siang ini.
"Oke Niko, kita lihat, sejauh mana pesona ku menjerat mu!" Jessika menyeringai dalam perjalanannya menemui ibu pejabt yang sudah menanti kedatangan sang perancang busana yang tengah menjadi perbincangan hangat dikalangan atas karena karya-karyanya yang kini menjadi favorit dan trend di kalangan mereka.
Sementara di lain tempat, Niko tampak kebingungan mencari keberadaan Jessika yang tiba-tiba seperti menghilang dan tak ada seorang pun yang tau kemana perginya.
Niko seperti sedang kesetanan bilak-balik ke butik dan ke apartemen milik Jessika namun semua usahanya nihil, karenaJessika tak di temukan di manapun.
Bahkan Niko sampai membatalkan semua rapat dan janji temunya dengan banyak klien hanya karena dia mencemaskan keberadaan Jessika saat ini.
Malam hampir tiba namun keberadaan Jessika masih belum juga di ketahuinya, sampai akhirnya dia memutuskan untuk menunggu Jessika di depan unit apartemennya, tak peduli dengan tatapan aneh orang-orang yang lalu lalang di sana, Niko tetap bertekad akan menunggu Jessika di sana, dia yakin kalau Jessika pasti pulang, dan di akan menungguny sampai jam berapapun itu.
Entah apa yang ada di pikiran Niko saat ini, bahkan dia sampai berbuat sejauh itu untuk seorang gadis yang tak ada hubungan apapun dengan dirinya, bahkan perkenalan mereka hanya sebatas rekan kerja dan itu pun belum lama terjadi, malahan belum ada dua bulan mereka saling mengenal, tapi sosok Jessika seolah sudah menjadi bagian penting di hidup Niko bahkan hampir menggeser pentingnya keberadaan Rossa, sang istri di hidupnya.
Jam di tangan Niko yang rasanya sudah ratusan kali di liriknya itu menunjukan kalau saat ini sudah hampir pukul 9 malam saat gadis yang sejak tadi di tunggu-tunggu dan di khawatirkannya itu akhirnya terlihat berjalan dari kejauhan menghampirinya yang masih setia berdiri di depan unit apartemen milik gadis yang seolah tanpa dosa berjalan dengan tenangnya, sementara gemuruh di dada Niko rasanya sudah tak bisa tertahan lagi.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang lagi, Niko langsung berlari mendekati gadis yang seharian ini sangat mengganggu pikrannya itu lalu berhambur memeluknya, dia tak peduli apa yang akan di pikirkan Jessika tetang dirinya nanti atau hal terburuk mungkin dirinya di gampar gadis itu karena di anggap telah berbuat kurang ajar padanya, sungguh Nikotak peduli semua itu.
Baginya saat ini dia hanya ingin mengungkapkan dan meluapkan betapa leganya dia akhirnya bertemu kembali dengan gadis yang telah mengalihkan semua dunianya menjadi berarah pada seorang gadis bernama Jessika Adam.
Jessika hanya terdiam mematung saat menerima perlakuan Niko padanya, jujur dia saat ini bingung harus berbuat apa, untuk pertama kali dalam hidupnya di peluk oleh lawan jenis selain ayah sambungnya tentu saja.
Jika beberapa waktu lalu dia pernah dengan sengaja memeluk Niko saat berada di apartemennya dengan tujuan untuk menggodanya, rasanya biasa saja, ternyata ketika giliran dia yang di peluk tiba-tiba oleh Niko seperti ini, rasanya sangat aneh dan gelenyar asing itu langsung trasa di tubuhnya, belum lagi jantungnya yang tiba-tiba berdisko sangat kencang seakan ingin lompat dari dalam, membuatnya tak bisa mengendalikan perasaannya sendiri.
"Jessika, kamu dari mana saja, aku mencari mu seharian ini, rasanya aku hampir gila karena tak bisa menemukan keberadaann mu, ponsel mu juga tak bisa di hubungi!" Adu Niko pada gadis yang masih di peluknya dengan erat itu.
"A-aku, emh, mas apa tak sebaiknya kita masuk dulu dan membicarakannya di dalam?" cicit Jessika merasa agak risih karena sepertinya beberapa orang penghuni apartemen lain memperhatikan mereka yang berpelukan di tempat umum itu.
Bukan apa-apa, Jessika hanya takut jika ini harus terekspose sebelum waktunya dan membuat Niko jadi mengambil jarak dengannya, sementara tujuannya untuk merebut Niko dari sisi Rossa belum terlaksana.
"Akh,maaf! Aku terlalu senang karena akhirnya bibertemu dengan mu lagi," kata Niko seraya mengurai pelukannya.
"Maaf, aku gak bisa menghubungi mu, ponsel ku kehabisan daya, tadi aku menemui klien dadakan, aku pikir hanya sebentar, tapi ternyata ibu pejabat itu minta di bikinkan 5 baju sekali gus, jadi agak sedikit lama, maaf ya, kita jadi batal makan siang bersama tadi!" Ucap Jessika dengan raut wajah di buat seperti menyesal, padahal dia sudah tahu dri karyawan di butiknya kalau Niko beberapa kali mencarinya di ke butik, dan petugas di lobby apartemen juga tadi memberi tahunya kalau ada pria yang menungguinya sejak tadi siang di depan unit apartemennya, dan Jessika bisa langsung menebak kalau pria itu adalah Niko, dan ternyata tebakannya itu benar.
"Hmmh, hampir saja aku menghubungi polisi dan membuat berita orang hilang kalau kamu tak juga pulang malam ini, tapi melihat mu baik-baik saja aku jadi lega!" Kata Niko seraya mendudukan bo kongnya di sofa, tubuhnya terasa pegal karena seharian berdiri bahkan duduk di lantai karena menunggui Jessika.
Sebenarnya di dalam hatinya bersorak sorai melihat perjuangan Niko yang di luar ekspektasinya sampai berbuat se jauh itu, namun hati kecilnya juga merasa bersalah karena sudah mengerjai pria yang seharusnya tak berdosa padanya itu.
"Tentu saja, aku sangat khawatir, kenapa? Apa kamu tak suka? Atau pacar mu akan marah jika aku khawatir seperti ini pada mu?" tanya Niko sengaja memancing dan berusaha mengorek informasi tentang gadis itu.
Niko sampai lupa kalau dia tak pernah bertanya apa gadis itu mempunyai kekasih atau tidak, dia seolah hanya peduli dengan perasaannya namun tidak dengan perasaan Jessika yang bisa saja sudah punya tambatan hatinya sendiri.
"Aku tak punya pacar, mas. Tak akan ada yang marah, hanya saja istri mas pasti akan sangat marah jika tau suaminya menghawatirkan perempuan lain,"
Mungkin ucapan Jessika terdengar datar dan biasa saja , namun ternyata berhasil menohok dadanya yang langsung melirik layar ponselnya, terlihat beberapa panghilan telpon dari istrinya yang dia abaikan sejak tadi sore, lantas pesan baru dari Rossa terlihat di layar.
'Nik, malam ini aku keluar bersama teman-teman ku'
__ADS_1
Begitu isi pesan yang di kirimkan Rossa padanya, istrinya memang kadang keluar untuk clubbing bersama teman-teman nya dan Nikovtak pernah melarang itu, selama itu membuatnya bahagia.
"Mas? Kenapa? Sudah di cariin istrinya ya?" Goda Jessika.
"Akh, tidak! Aku lapar, kamu harus tanggung jawab karena sudah membuat ku kelaparan dari tadi siang!" Niko mengalihkan pembicaraan, dia tak ingin membahas Rossa malam ini, biarlah dia menggunakan waktu untuk bersama Jessika malam ini mumpung Rossa juga pergi pikirnya.
Lagipula perutnya juga memang beneran lapar.
"Ah, kebetulan aku membeli nasi goreng tadi di jalan, nih buat mas saja," Jessika memberikan nasi goreng yang sengaja di belinya tadi saat di jalan pulang dan sudah dia pindahkan ke aras piring.
"Hmm, bagaimana kalau kita makan berdua saja, kamu juga pasti lapar!" ucap Niko, yangvlalu di angguki Jessika.
"Jess, apa kamu benar-benar tidak punya kekasih?" Niko kembali menanyakan status Jessika yang menurutnyabtak mungkin jika gadis secantik dia belum mempunyai kekaksih.
"Tidak, dan belum pernah!" Jessika menggeleng.
Mendengar jawaban Jessika, Niko sampai tersedak karena kaget.
"Belum pernah pacaran?" kagetnya membelalak.
"Belum!" jawab Jessika santai.
"Sama sekali?"
"Yah! Belum pernah sama sekali!"
Niko menghela nafas panjangnya veberapa kali seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan sesuatu.
"Jess," panggilnya lalu menjeda ucapannya beberapa saat, menimbang-nimbang apa yang akan di katakannya saat ini benar atau tidak, tapi seperyinya semua sudah terlanjur dan dirinya tak bisa menahan lagi apa yang ada di dadanya.
"Jess, sepertinya aku suka kamu, dan aku jatuh cinta pada pandangan pertama pada mu, aku tau ini salah, karena aku sudah punya istri, tapi aku juga tak mau membohongi diriku sendiri, aku harus mengatakan nya pada mu, kalau aku jatuh cinta pada mu, terserah kamu mau menanggapinya seperti apa aku hanya ingin berusaha jujur!" ungkap Niko dengan susah payah mengungkapkan perasaannya.
__ADS_1
Sorak sorai bak penonton sepak bola di stadion terasa bergemuruh di dada Jessika, perasaan haru, bahagia, dan juga grogi berbaur menjadi satu membuat bibirnya seakan terkunci dan tak bisa berkata apapun, bahkan saat Niko tiba-tiba mencium pipinya, dia hanya bisa tetap terdiam, meski seluruh tubuh dan wajahnya kini terasa panas, sementara jantungnya serasa lompat dari tempatnya.
"Jess?!"