
Sorak sorai bak penonton sepak bola di stadion terasa bergemuruh di dada Jessika, perasaan haru, bahagia, dan juga grogi berbaur menjadi satu membuat bibirnya seakan terkunci dan tak bisa berkata apapun, bahkan saat Niko tiba-tiba mencium pipinya, dia hanya bisa tetap terdiam, meski seluruh tubuh dan wajahnya kini terasa panas, sementara jantungnya serasa lompat dari tempatnya.
"Jess?!"
"Ah,,, iya!" Kaget Jesika sedikit tersentak.
"Apa kamu marah aku mengatakan ini semua pada mu? Aku minta maaf, tapi sungguh bukan maksud ku membuat mu merasa tersinggung atau bahkan terhina, karena aku hanya ingin jujur atas perasaan yang aku rasakan terhadap mu, tentang kamu mau menanggapinya seperti apa, aku pasrah dan terima semua resikonya, bahkan jika pun kamu marah dan tak mau bertemu dengan ku lagi di hari selanjutnya setelah ini." Pasrah Niko.
Jessika tersenyum melihat raut wajah Niko yang terlihat sangat lucu saat pasrah seperti itu.
"Beneran nih, mau terima semua resikonya?" Jessika mengangkat sebelah alisnya, lalu Niko mengangguk dengan sangat yakin, baginya perdebatan dalam batinya ini harus segera di akhiri, sehingga dia bisa segera mengambil sikap pada Jessika, setidaknya dia sudah berani jujur, tentang bagaimana hasilnya, dia akan menerima semuanya dengan legowo.
"Termasuk rsiko jika kedepannya kamu harus membagi cinta antara istri dan kekasih mu?" ucap Jessika membuat Niko terhenyak kaget.
"Apa maksud mu? Apa itu berarti kamu menerima cintaku? Apa itu berarti kamu juga merasakan perasaan yang sama dengan apa yang aku rasakan?" Mata Niko tiba-tiba menjadi berbinar dan dia juga sontak terlonjak dari tempat duduknya saat mendengar penyataan Jessika.
"Tolong ulangi sekali lagi ucapan mu, aku belum bisa mencernanya dengan jelas." pinta Niko.
"Tadinya aku pikir perasaan ini cuma aku saja yang merasakannya, sehingga membuat ku merasa kalau aku sedang bertepuk sebelah tangan, tapi ternyata---" Jessika mulai menebar rayuan dan kata kata manisnya untuk lebih meyakinkan Niko kalau sebenarnya dirinya pun merasakan hal yang sama dengan apa yang di rasakan Niko padanya.
"Ah, Jessika, aku tak percaya kalau kita sama-sama memerasakan hal yang sama, kamu tau, ini gila, terserah kamu mau mengatakan kalau aku sedang gombal atau apapun, tapi rasanya aku baru pernah meraskan jatuh cinta se gila ini, pada mu. Ini seperti pertama kalinya aku merasa jatuh cinta, bahkan sepertinya aku tak merasakannya , saat dulu aku dengan--" Niko tak melanjutkan kata-katanya saat dia hampir saja keceplosan menyebut nama istrinya.
"Istri mu?" lanjut Jessika melanjutkan kalimat Niko yang menggantung dan tak terselesaikan.
"Kamu marah,?" Tanya Niko sangat hati-hati tak ingin menyinggung perasaan Jessika.
"Mungkin ini resiko mencintai suami orang!" Ucap Jessika dengan nada manja sambil menggelengkan kepalanya, raut wajahnya di buat semenggemaskan mungkin.
"Jadi bagaimana? Apa kamu bersedia menjadi kekasih ku dengan segala kekurangan ku? aku tau ini salah, tapi aku tak bisa membohongi perasaan ku, mungkin waktu kita yang tidak tepat, andai kita bertemu beberapa tahun sebelumnya,,," lirih Niko sambil lagi-lagi menghembuskan nafas beratnya.
"Aku memang juga mempunyai perasaan yang sama dengan mu, tapi rasanya aku butuh waktu untuk menjawab pertanyaan mu, ini bukan masalah yang sederhana se sederhana pasangan single yang saling jatuh cinta lalu memutuskaan untuk saling berkomitmen, tapi aku akan masuk di kehidupan rumah tangga seseorang, dimana aku harus siap dengan segala resiko yang akan aku hadapi atas keputusan yang aku buat," Seperti biasa, Jessika bermain tarik ulur, apalagi Jessika sudaj bisa memastikan dan meyakinkana dirinya kalau Niko sudah benar-benar berada di dalam genggamannya.
"Kamu meminta waktu? Apa ini berarti kamu menolak ku namun dengan cara yang halus?" Niko terlihat murung.
"Apa kamu tak bisa memberi ku waktu? Kamu tak bisa menunggu ku untuk memikirkan semuanya?"Jessika meraih jemari Niko dan menggenggamnya, memberinya kekuatan dan keyakinan kalau dirinya benar-benar membutuhkan waktu untuk memutuskan ini semua.
__ADS_1
"Berapa lama?" tantang Niko.
"Aku akan menghubungi mu saat aku sudah siap, jadi tolong mas jangan hubungi dan temui aku dulu selama aku belum menghubungi mas," ucap Jessika menjawab tantangan Niko.
"Kenapa begitu? Jess, kamu akan menyiksa ku jika aku tak di ijinkan untuk menghubungi dan menemui mu, kamu tega sekali pada ku!" Niko mulai merajuk dan memelas.
'Justru itulah maksud ku, aku akan membuat mu tersiksa dengan rasa rindu dan membuat mu tak fokus dengan istri mu,' ucap Jessika dalam batinnya.
Lagi pula Jessika juga harus mengerjakan pekerjaan nya yang semakin menumpuk karena pesanan pakaiannya yang membludak setelah acara fashion show tempo hari, sementara pikirannya juga harus terbagi dengan penyusunan rencana balas dendamnya pada Rossa.
***
Seminggu berlalu, Niko benar-benar tersiksa karena dia sama sekali tak menghubungi dan bertemu dengan Jessika.
Sungguh ini seminggu yang sangat menyiksanya,bukan hanya pekerjaannya saja yang harus terbengkalai karena pikiran Niko di sibukan dengan menunggu Jessika menghubungi nya dan memikirkan jawaban apa yang akan Jessika berikan padanya nanti saat mereka bertemu kembali, tapi Rossa juga sudah mulai terabaikan.
Seperti sore ini tiba-tiba saja Rossa datang ke kantornya tepat setengah jam sebelum jam pulang Niko.
"Hai sayang, kenapa kamu masih sibuk saja, bukankah kita punya janji makan malam hari ini?" sapa Rossa saat baru saja melewati pintu ruangan kerja suaminya.
"Sayang, mana bisa seperti itu, hari ini ulang taun pernikahan kita, apa kamu mulai lupa?" Rossa merengut, dia mendudukan dirinya di pangkuan suaminya yang masih berada di kursi kebesarannya.
"Aku sudah memesan tempat yang romantis untuk kita dinner, lalu aku juga sudah memesan kamar untuk kita berbulan madu di hari jadi kita," bisik Rosa di telinga Niko, membuat bulu roma Niko meremang seketika.
"Ah, Rossa, sayang! Sebaiknya kita langsung berangkat saja, sebelum jalanan menjadi macet," ucap Niko memaksa Rossa untuk turun dari pangkuannya.
Bukan apa-apa, hanya saja tiba-tiba Niko membayangkan jika yang berada di pangkuan nya itu adalah Jessika, Niko tak mau jika sampai dirinya salah sebut nama, akan menjadi kacau nantinya.
Rossa mendengus kesal, seminggu ini memang Niko selalu menghindarinya, tak pernah mau jika di ajaknya bermesraan, namun Rossa masih berpikiran positif, mungkin Niko sedang banyak pekerjaan.
Karena untuk kecurigaan masalah ponselnya, selama seminggu ini sepertinya tak ada yang mencurigaakan, karena selama seminggu ini suaminya selalu pulang tepat waktu dan tak pernah bertindak aneh.
Saat Niko dan Rossa sedang berada di sebuah restoran hotel berbintang yang berada di rooftop yang memang sengaja di pilih Rossa agar suasana nya lebih romantis dalam rangka memperingati anniversary pernikahan mereka yang ke 3,
Rossa benar-benar mempersiapkan semuanya, mulai dari lilin, bunga, dan bahkan alunan musik kesukaan mereka berdua yang sengaja dia pesan pada pihak hotel untuk di putarkan di area rooftop tempat mereka kini dinner.
__ADS_1
Namun di tengah mereka sedang menukmati makan malam mereka, ponsel Niko berbunyi, nama Jessika yang dia beri nama Adam di ponselnya untuk menghindari kecurigaan Rossa itu tertera, membuatnya sedikit tersedak dan buru-buru meraih ponsel nya lalu menjauh dari meja tempat dirinya dan Rossa makan malam romantis.
Bagaimana tidak, panggilan telepon dari wanita itu sangat di nantinya melebihi apapun, sehingga makan malam bersama istrinya pun harus dia jeda untuk menerima panggilan dari wanita yang sangat di rinduinya itu.
"Aku ingin menjawab nya sekarang, apa kita bisa bertemu?" Suara yang selalu seakan terngiang-ngiang di telinganya itu terdengar bak nyayian surga.
"Ta-tapi aku sedang--"
"Aku akan menemui mu jika kamu tak bisa menemui ku," pungkas Jessika menutup pembicaraannya secara sepihak, membuat Niko kalang kabut di buatnya, memikirkan apa yang di ucapkan Jessika tadi membuatnya menjadi tak fokus lagi saat kembali melanjutkan makan malamnya bersama Rossa.
"Ada apa?" telisik Rossa saat melihat tingkah suaminya yang terlihat tidak nyaman.
"Ah tidak, hanya saja ternyata ada deadline tugas yang harus di selesaikan, dan aku lupa, sialnya lagi itu proyek besar," Bohong Niko yang berencana untuk segera pergi meninggalkan Rossa karena dirinya harus segera menemui Jessika.
Namun Tiba-tiba,
"Hai pak Niko, kebetulan sekali kita bertemu di sini, apa kabar? Lama sekali kita tak jumpa!" sapa seorang wanita yang tiba-tiba saja berada di antara dirinya dan Rossa, menuat wajah Niko pucat seketika.
"Maaf anda siapa?" Wajah Rossa terlihat sangat tidak bersahabat saat bertanya pada Jessika yang tiba-tiba saja muncul dan menyapa suaminya, padahal jelas-jelas dirinya berada di sisinya.
"Ah pasti nyonya Niko, ya? Pak Niko sering membicarakan tentang anda, saya hanya klien yang pernah di bantu oleh suami Anda, karena tangan dingin suami anda, butik saya menjadi sangat ramai sekarang, perkenalkan saya Jessika !" Jessika tersenyum Ramah pada Rossa dan menyodorkan tangannya untuk mengajaknya berkenalan.
Rossa menyambut uluran tangannya meski dengan wajah yang tak begitu ramah.
"Maaf kalau tak mengganggu saya bisa berbicara pada ada berdua sebentar?" Jessika langsung menarik kursi dari dekat sana dan duduk tepat di antara Niko dan Rossa meski dirinya belum di persilakan oleh mereka.
"Jadi begini, saya hanya ingin menjawab tentang ajakan kerja sama bapak pada saya, saya sudah memikirkannya dan saya rasa saya menerima nya dengan segala resikonya!" tegas Jessika.
Belum saja kekagetan Niko atas kedatangan Jessika di sana hilang, kini pria yang sejak tadi belum sempat berkata apapun itu seperti tergugu saat mendengar ucapan Jessika barusan.
Beberapa kali Niko mencerna ucapan Jessika, sampai pada akhirnya dia bertanya,
"Apa itu artinya, iya?"
"Benar sekali, pak!" Jawab Jessika sambil menganggukan kepalanya dengan yakin, mengabaikan Rossa yang hanya bisa terbengong mendengarkan percakapan dua orang di hadapannya yang tak dia mengerti sama sekali makasudnya.
__ADS_1