
Seminggu berlalu semenjak perpisahan dirinya dengan Niko, Jessika terlihat seperti mayat hidup, wajahnya yang pucat karena hampir setiap malam dia tak dapat memejamkan matanya, bahkan dia juga kehilangan beberapa kilo berat badannya karena tak nafsu makan.
Jangan ditanya tentang bagaimana perasaannya, Jessika saat ini benar-benar hancur. boro-boro untuk memikirkan tentang meneruskan rencana balas dendamnya, untuk meneruskan hidupnya saja rasanya Jessika sudah seperti malas-malasan, sungguh Niko se berpengaruh itu dalam kehidupan Jessika.
Patah hati membuat banyak pekerjaan yang terbengkalai dan banyak acara di tv yang dia tolak, hidupnya seperti hanya untuk menyesali dan merutuki nasib buruknya dan rasa sesalnya karena telah jatuh cinta pada orang yang salah, namun siapa yang harus di salahkan dalam hal ini, bukankah cinta tak pernah memilih siapa yang akan menjadi tuannya?
Belum habis rasa sedihnya karena sikap Niko yang tiba-tiba memilih kembali pada istrinya setelah rencana balas dendamnya terkuak, kini butiknya yang tadinya selalu ramai dannpenuh dengan pembeli tiba-tiba menjadi sepi, tak ada satu orang pengunjungpun yang datang ke butiknya.
Bahkan saat dirinya hendak keluar membeli makan siang, segerombolan wartawan langsung mengerubutinya mempertanyakan hal yang membuatnya merasa tercengang, bagaimana tidak, para wartawan itu mempertanyakan tentang kebenaran hubungannya dengan Niko.
Dari mana para pencari berita itu mengetahui perihal masalah hubungannya dengan Niko, siapa yang membocorkan itu semua pada orang banyak, karena merasa tak siap dengan pertanyaan para wartawan itu, Jessika bergegas masuk kembali ke dalam butiknya meninggalkan para wartawan yang terlihat kecewa karena tak mendapat penjelasan apapun dari Jessika yang merupakan objek beritanya.
Para karyawan butik juga nampaknya tak bisa berbuat apa-apa, terlepas dari benar atau tidaknya berita yang beredar di kuaran tentang bosnya itu, Jessika adalah bos yang baik bagi para karyawannya, dia tak pernah hitung-hitungan dalam memberi bonus pada para karyawannya, Jessika juga tak pelit berbagi ilmu, dia sering memberikan pembelajaran gratis pada para karyawannya yang tertarik dalam dunia fashion.
__ADS_1
"Mba, yang sabar ya!" ucap salah satu karyawannya yang terbilang dekat dengannya.
"Apa sebenarnya yang terjadi, kamu juga tau tentang gosip yang tersebar itu?" tanya Jessika yang lantas diangguki karyawannya tersebut. "Tapi dari mana kamu mendengar itu semua?" lanjut Jessika sambil mengernyitkan keningnya.
"Anda tidak melihat berita online? Gosip tentang anda dan pak Niko sedang menjadi trending topik di semua lini berita online dan akun-akun gosip," terangnya.
Jessika langsung membuka ponselnya, benar saja,,,video dirinya yang sedang berada di teras rumah Niko saat dirinya menemui pria itu untuk terakhir kalinya, tampak juga Rossa yang sedang memakinya di video itu.
Puluhan ribu komentar netizen berisi caci maki yangbtertujunpada dirinya, membuat wajahnya memucat seketika.
Seketika lutut Jessika lemas, ulah siapa itu semua, hanya ada 4 orang yang berada di tempat itu, Niko, Rossa, Rima dan dirinya, tentu saja tidak mungkin jika dirinya yang menyebarkan video itu, lagipula dirinya juga tak mengabadikan kejadian itu.
setahu dirinya, hanya Rima yang tak ikut bergabung dan berbicara disana, belum lagi video itupun diambil dari kejauhan, tidak mungkin jika itu Niko, Rossa apalagi dirinya.
__ADS_1
Tapi apa motif Rima melakukan semua ini, mengapa dia begitu tega melakukan semua ini pada dirinya, padahal selama ini dirinya tak oernah punya masalah dengan sekretaris pribadi Niko itu.
Pantas saja butiknya kini sepi pengunjung, rupanya ini yang menjadi alasannya, Jessika juga kini merasa sangat bingung bagaimana dia akan menghadapi orang-orang, kini dia merasa semua orang seperti sedang menatap dan menelanjangi dirinya.
Jessika terduduk lemas di kursi yang biasanya di penuhi para pengunjung yang merasa pegal akibat terlalu lama berdiri saat memilih pakaian.
"Mba Jessika, apa anda baik-baik saja?" tanya karyawannya itu merasa khawatir.
Jessika hanya mengangkat telapak tangannya ke udara, tanda dirinya ingin di biarkan sendiri, bibirnya bahkan sudah tak mampu lagi berkata-kata, selain seluruh tubuhnya yang terasa lemas tiba-tiba.
Prang,,,!
Suara kaca yang pecah kini mengagetkan Jessika yang masih terasa lemas, para karyawan berteriak histeris karena suara oecahan kaca itu terjadi lagi, bahkan sampai 3 kali berturut-turut.
__ADS_1
Jessika memberanikan diri berjalan ke depan, ke arah sumber suara, ternyata kaca depan butiknya sudah pecah berhamburan karena lemparan batu orang tak dikenal, para wartawan sibuk mengabadikan gambar keadaan House of jess yang hancur, pasti akan banyak orang yang berbahagia dan mensyukuri musibah yang menimpa Jessika itu, dan itu lagi-lagi akan menjadi berita panas bagi para pemburu berita.
Tak ada yang dapat Jessika lakukan, apalagi saat dirinya memeriksa rekaman cctv yang menghadap ke luar butiknya itu, si pelempar batu mengenakan jaket, topi kaca mata dan masker rapat sehingga susah untuk mengidentifikasi siapa pelaku itu, sungguh Tuhan belum juga berhenti memberinya cobaan, sepertinya.