
"Maaf, tapi kau tak bisa berbuat seenak mu, yang bisa datang dan pergi dalam rumah tangga ini sesuka hati mu. Aku sudah tak bisa bersama mu lagi!" Hampir saja Niko terpancing emosinya ketika dengan tanpa dosanya Rossa seolah ingin kembali pada Niko saat dirinya sudah mencoreng citra sebagai istri di hadapannya.
Rossa tertunduk lesu, sepertinya dia tak punya lagi kesempatan untuk mengambil hati suaminya yang terlihat sudah tak menginginkannya lagi itu.
"Baiklah aku sepertinya tak bisa memaksakan perasaan mu, aku menyerah. Aku terima jika ini konsekuensi atas kesalahan ku. Tapi apa aku boleh meminta sesuatu pada mu?" Rossa sudah tak se keras sebelumnya saat berbicara pada suaminya.
"Selama itu masuk akal dan tidak aneh-aneh," Niko mengangkat kedua bahunya seolah tak begitu mempedukikannya.
"Aku hanya ingin makan malam dengan mu untuk yang terakhir kalinya, sebagai ucapan selamat tinggal, setwlah itu aku tak akan mengganggu mu lagi." Pinta Rossa.
"Hanya makan malam?"
"Ya, hanya makan malam, tak lebih!" Rossa meyakinkan kembali.
"Kapan?"
"Hari ini, kita memasak seperti biasanya berdua, lalu kita makan malam bersama, aku rindu masa-masa itu." Cicit Rossa.
__ADS_1
Niko terdiam beberapa saat, memikirkan apakah dirinya harus menyetujui permintaan Rossa atau tidak, namun saat di pikir lagi sepertinya tak ada salahnya mengabulkan permintaan istrinya yang telah menemaninya selama 3 tahun ini, benar kata Rossa, anggap saja ini sebuah salam perpisahan di antara mereka berdua, untuk mengakhiri semuanya dengan damai agar di kemudian hari tak ada dendam atau sangkut paut apa pun lagi.
"Oke, aku setuju!" jawab Niko akhirnya.
Senyum kemenangan pun terurai dari bibir merah Rossa yang kedua sudutnya terangkat membentuk sebuah lengkungan.
"Ayo kita melakukan hal yang trlah lama sekali kita tak melakukannya," ajak Rossa membuat Niko mengerutkan keningnya merapatkan kedua alisnya, karena ajakan Rossa terdengar begitu ambigu bagi Niko.
"Memasak, Nik!" Rossa memperjelas maksud ucapannya.
"Ah, iya memasak!" Beo Niko, merasa sedikit malunkarena ketahuan memikirkan hal yang tidak-tidak saat menangkap ajakan Rossa.
Malam kian larut Jessika tak dapat menghubungi ponsel Niko, bahkan Niko tak mengabari dirinyaa kemana dia akan pergi, tak biasanya Niko seperti itu, karena apa pun yang dia lakukan, dan kemana pun tempat yang akan dia tuju Niko pasti akan memberi tahunya. ada rasa cemas di hatinya, takut terjadi apa-apa pada diri kekasihnya itu apalagi sejak sore tadi perasaannya terasa tak enak.
Sementara di tempat lain, yaitu di rumah Rossa, wanita itu sengaja membuat suaminya mabuk, dia sungguh tau kalau Niko paling tak kuat minum alkohol, namun malam itu dia sengaja membujuk Niko untuk menani dirinya yang memang peminum handal itu untuk menenggak wine dengan segala bujuk dan rayunya.
"Nik, Niko,,, apa kamu merasa pusing? Sebaiknya kamu istirahat dahulu sebentar untuk menghilangkan mabuk mu," kata Rossa saat melihat Niko yang wajahnya sudah memerah dan terus memegangi kepala, padahal pria itu hanya menenggak sekitar 4 gelas wine saja, namun sepertinya sudah kepayahan.
__ADS_1
"Tidak, aku harus pulang, kekasih ku pasti menunggu ku di rumah, aku harus pulang!" Racau Niko dalam mabuknya.
"Berbahaya berkendara saat dalam keadaan mabuk begini, ayolah istirahat sebentar lantas setelah badan ku terasa enakan kamu boleh pulang," bujuk Rossa, meski hatinya terasa mendidih karena Niko terus saja meminta pulang karena ingin cepat bertemu dengan kekaksihnya.
"Sial, sedang mabuk begini saja yang ada di kepala mu hanya kekasih mu, lantas kau buang kemana aku dari kepala mu itu!" Gerutu Rossa kesal.
"Jess, jangan marah, aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya makan malam dengan nya," racau Niko lagi, kini di matanya wanita yang sedang duduk di hadapannya itu adalah Jessika sang kekasih yang sedang marah karena dirinya yang twelat pulang akibat makan malam dengan Rossa.
"Jess?" Rossa menaikan sebelah alisnya menerka-nerka siapa Jess yang suaminya sebut itu.
Namun kesempatan itu tak Rossa sia-siakan, berhubung Niko kini menganggapnya sebagai kekasih hatinya, dia harus berperan sebagai kekasih Niko saat ini.
"Aku tak marah sayang, aku hanya merindukan mu, mana mungkin aku berani marah pada mu,"
Rossa beranjak dari tempat duduknya, lantas mendudukan diri di pangkuan Niko yang terlihat pasrah dan masih melihat dirinya sebagai Jessika.
"Jess, kamu nakal sekali, kali ini aku tak akan melepaskan mu, kamu akan sangat menyesal karena sudah menggoda ku," cicit Niko saat Rossa mulai mencumbu dirinya dengan menggerayangi dada bidang pria itu melalui celah kemeja yang beberapa kancingnya berhasil Rossa buka tanpaa perlawanan dari si pemilik tubuh.
__ADS_1
"Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan pada ku, aku tak akan menolaknya," bisik Rossa tepat di telinga Niko, membuat pria itu meremang seketika dan gairahnya semakin memuncak karena godaan Rossa yang dalam pikirannya yang di pengaruhi saat alkohol itu adalah Jessika sang kekasih hati.