Aku Memang Pelakor

Aku Memang Pelakor
Aku tau dan akan menemani mu


__ADS_3

Niko terhenyak mendengar pernyataan Rossa, tangannya gemetaran melihat dan mengamati tiga buah hasil tes di tangannya yang kesemua hasilnya menunjukkan dua garis pertanda kalau saat ini Rossa positif hamil.


Namun apakah itu benar darah dagingnya atau bukan tentu saja Niko tak dapat memastikannya, hanya saja dia juga tak ingin menjadi pria berengsek yang menolak kehadiran buah hati nya di dunia ini.


Betapa seharusnya ini menjadi kabar yang sangat membahagiakan, jika saja berita ini dia dapatkan saat keadaan pernikahan mereka baik-baik saja namun sayangnya justru berita ini dia dapatkan di ujung perjalanan pernikahan mereka yang hampir kandas.


Usia Niko memang sudah tak muda lagi, sudah hampir menginjak kepala tiga, kehadiran seorang anak tentu saja menjadi keinginan terpendam di hatinya yang tak pernah dia ungkapkan pada siapa pun, namun kenapa justru keinginannya itu di kabulkan Tuhan saat pernikahannya kini tinggal menunggu ketuk palu hakim di pengadilan saja?


"Lihatlah, bahkan Tuhan pun tak merestui perpisahan kita, di detik-detik terakhir kebersamaan kita, Tuhan menitipkan satu nyawa atas benih mu di rahim ku, tidak kah ini yang selalu kamu tunggu dan dambakan?" Rossa mulai mengintimidasi balik Niko, jika sebelumnya dirinya yang selalu di buat tak berkutik jika berhadapan dengan Niko, kini Niko yang seakan tak punya kata-kata untuk dia ucapkan pada Rossa yang konon tengah mengandung bayinya itu.


Betapa ironisnya hidup ini, di saat mereka bersama selama bertahun tahun berusaha mendapatkan buah hati namun tak pernah dia dapatkan, namun hanya karena ke silapan semalam benih itu tumbuh dengan suburnya di rahim Rossa.


Ingin sekali Niko mengatakan keraguannya, apakah bayi yang di kandung Rossa itu benar-benar anaknya atau anak orang lain, anak Ibnu misalnya, tapi sungguh hatinya takut dan tak tega mengatakan itu semua.


Bukan takut dan tak tega pada Rossa, melainkan takut jika anak itu benar-benar darah dagingnya dan dia pernah terbersit untuk meragukannya, saat anak itu besar dan mengerti, pasti dia akan sangat sakit hati karena ayah kandungnya sendiri pernah meragukannya, biarlah nanti jika anak itu lahir dia akan melakukan tes dna secara diam-diam, untuk saat ini dia akan mengikuti sekenario yang di buat Tuhan untuknya.

__ADS_1


Sidang perceraian Niko dan Rossa pun batal di gelar, karena berita kehamilan Rossa.


"Aku akan menunda perceraian kita sampai kau melahirkan," ucap Niko lemas, entah bagaimana dia harus menjelaskan tentang semua ini pada Jessika, banyak hal yang sudah dia dan Jessika rencanakan selepas perceraiannya, term,asuk rencana mereka akan menikah, namun lagi-lagi manusia hanya bisa berencana, lantas kalau Tuhan tak merestui, mau biilang apa?


Langkah Niko terlihat lunglai saat memasuki apartemennya sore itu, wajahnya kusut menyiratkan banyak sekali masalah yang di hadapinya seharian ini.


"Sudah pulang, mas?" sapa Jessika dari balik dinding ruang makan, membuat Niko sedikit terkejut karena sapaan lembut kekasihnya.


"Ah, iya. Kamu sudah pulang juga?" Niko malah balik bertanya, dia tak tau apa yang harus dia katakan pada kekasihnya itu perihal pembatalan perceraiannya dengan Rossa siang ini.


"Jess, bisakah aku memeluk mu sebentar saja?" pinta Niko, membuat Jessika sedikit mengernyit.


Namun meskipun agak merasa aneh dengan sikap kekasihnya itu, Jessika tetap mendekat ke arah Niko.


"Biarkan aku seperti ini sebentar saja, aku lelah!" lirih Niko, suaranya bahkan terdengar agak bergetar dan sedikit mengiba.

__ADS_1


"Aku tau, aku tau semuanya. Tadi aku ada di sana saat istri mu membawa kabar kehamilannya." Jessika yang tadi ternyata diam-diam datang ke pengadilan agama itu langsung bisa menebak kalau sikap Niko sekarang ini akibat kejadian tadi siang di persidangan.


"Kamu ada di sana? Lalu kamu melihat dan mendengar semuanya?" Niko mengurai pelukannya dan menjauhkan tubuh Jessika dari dadanya, dia ingin melihat seperti apa wajah Jessika sekarang ini setelah mengetahui batalnya perceraian dirinya, marah kah? kecewa kah?


Namun di luar dugaannya, Jessika justru tersenyum kepadanya.


"Apa yang kamu lakukan sudah benar, aku bangga dan salut pada mu, permasalahan yang terjadi adalah antara kamu dan istri mu, jika sekarang hadir anak di antara kalian, dia tidak bersalah sama sekali, bahkan kalau boleh memilih, mungkin dia juga tak ingin terlahir dari orang tua yang rumah tangganya sedang berada di ambang kehancuran."


"Sayang, kamu tak marah?" Niko mencari kemarahan dan kekecewaan di wajah Jessika, namun yang ada hanya ketulusan yang dia dapati di sana.


Jessika menggeleng dengan yakinnya.


"Aku kan menemani mu melewati semua ini, aku tak akan membiarkan mu menghadapi ini sendirian, karena aku mencintai mu dengan segala tentang kamu, baik dan buruknya kamu, aku akan tetap di sisi mu, kecuali kamu yang sudah tak menginginkan ku lagi."


Air mata Niko menetes haru, betapa dirinya kini semakin berada di situasi yang sangat rumit, benarkah semua ini tak akan menyakiti Jessika kelak di kemudian hari.

__ADS_1


__ADS_2