Aku Memang Pelakor

Aku Memang Pelakor
Penyesalan


__ADS_3

Rossa terdiam saat mendengar suara tinggi Niko yang melengking dan meneriakinya, dia tau dia salah, tapi bukankah Niko juga tak 100% benar? Dia hanya ingin memperbaiki rumah tangganya yang kini berada di jurang kehancuran, dia sadar kalau dia sangat membutuhkan Niko untuk saat ini dan seterusnya, hanya Niko yang Rossa inginkan, tak ada yang lain.


Katakanlah Rossa egois, tapi untuk saat ini, dia benar-benar harus memperjuangkan Niko karena itu semua bukan hanya untuk dirinya saja, melainkan untuk bayi yang ada dalam perutnya juga, ada nyawa lain yang kedepannya butuh seorang ayah, dan Rossa yakin kalau Niko lah pria yang paling pas untuk posisi itu.


"Aku hanya ingin anak kita lahir dalam posisi orang tuanya yang lengkap, harmonis, dan dapat menjadi panutannya di masa depan. Apa itu salah?" lirih Rossa mengiba.


"Panutan apanya, kau pikir di masa depan dia tak akan tau kalau ibunya pernah berselingkuh," sinis Niko.


Rossa dan Niko terus saja beradu argumen memperdebatkan tentang siapa yang paling bersalah di antara mereka, padahal tak ada yang tak bersalah di antara keduanya, mereka hanya sama-sama mempertahankan egonya masing-masing demi mempertahankan harga diri mereka dan seolah lawannya paling bersalah dan dirinya paling tersakiti.

__ADS_1


Sementara Jessika hanya bisa menatap malas sepasang suami istri yang tak henti-henti nya bersahut-sahutan itu, sungguh dirinya bak orang bodoh yang berada di antara dua orang egois.


"Aku akan keluar sebentar menemui para konsumen, panggil aku jika kalian sudah selesai berdebat," ucap Jessika sambil bergegas meninggalkan kedua orang yang kini tiba-tiba saja menghentikan perdebatannya karena merasa malu dengan sindiran Jessika.


Mereka seolah lupa kalau saat ini mereka tengah berada di ruang kerja Jessika yang letaknya tak jauh dari butik milik wanita yang selalu tampil modis itu, namun dengan seenaknya mereka saling berteriak, saling menarik urat di tenggorokannya demi menumpahkan rasa kesal dan marahnya pada pasangan mereka yang konon karanya sudah tak saling mencintai lagi itu.


"Sayang, mau kemana? Maafkan aku!" kejar Niko saat mulai sadar kalau sejak tadi Jessika menjadi satu-satunya penonton pertengkaran dirinya dan Rossa.


"Tak usah ikut campur urusan ku, urusan kita hanya sebatas anak yang ada di dalam perut mu saja, hanya itu, jadi stop ngurusin urusan aku!" jari telunjuk Niko mengacung ke arah wajah Rossa yang spontan langsung mundur beberapa langkah karena merasa kaget, selama dirinya mengenal Niko, batu kali ini dia menerima perlakuan se buruk itu dari Niko, sungguh dirinya merasa terhina dan sakit hati menerima semua itu, tapi anehnya, diperlakukan sepeitu, tak membuat Rossa mengurungkan niatnya untuk mengambil kembali perhatian dan cinta Niko, justru rasa itu semakin membara di dadanya dan semakin berkobar-kobar.

__ADS_1


"Kamu berubah, aku tak mengenal mu lagi sekarang." ujar Rossa setengah bergumam namun masih dapat di dengar oleh Niko dan Jessika yang masih tertahan di ruangan kerjanya karena Niko menjegal langkah kekasihnya itu.


"Mas, lepaskan aku, lebih baik kamu urus istri mu itu, selesaikan urusan kalian dulu," Jessika berontak, berusaha mengurai pelukan Niko di pinggangnya yang menahannya agar tak pergi meninggalkan ruangannya.


"Sayang, aku sudah tak punya urusan lagi dengannya, satu-satunya urusan ku dengannya hanya masalah anak saja, selain itu tak ada, tolong jangan marah seperti ini, aku minta maaf, tolong jangan pergi!" bujuk Niko makin mempererat pelukannya di tubuh kekasihnya yang selalu membuat ya merasa nyaman, tak peduli jika di sana Rossa menatapnya dengan perasaan yang teramat perih.


Menyaksikan Niko memeluk dan berbicara mesra dengan wanita lain sungguh membuat hati Rossa merasa nyeri, hatinya bak kertas yang di remas sekuat tenaga sehingga rasa sesak itu membuatnya tak dapat menahan buliran bening tutun dari kedua sudut matanya.


Benar kata orang, kalau kita akan benar-benar merasa orang itu sangat berarti jika kita sudah merasakan kehilangan, dan inilah yang tengah dirasakan Rossa, batinnya menjerit hebat, penyesalan itu memenuhi seluruh rongga di jiwanya membuat pandangan matanya tiba-tiba menjadi gelap semua, Rossa kehilangan kesadaran dirinya, tubuhnya luruh di lantai tuang kerja Jessika yang di penuhi barang-barang berserakan, hasil karya amukannya tadi yang membabi buta.

__ADS_1


"Rossa!" teriak Niko dengan langkah lebarnya langsung berhambur mendekati tubuh Rossa yang terasa sangat dingin dan tergeletak di lantai yang dingin.


__ADS_2