
Sampai larut malam Jessika menunggui Niko yaang tak kunjung pulangnke apartemennya, biasanya kalau pulang telat dia memberi tahu dirinya, namun sekarang ini, tak terhitung berapa kali dirinya menghubungi Niko, namun ponsel pria itu tak dapat dia hubungi sama sekali, nomornya tidak aktif.
Penuh cemas Jessika menunggu Niko, bahkan sampai gelap malam berganti pagi, Niko tak juga kunjung pulang, sungguh Niko tak biasanya seperti itu, sesibuk apapun dia, Niko pasti akan menyempatkan diri menghubunginya.
Ting Tong,,,,!
Suara bel apartemen berbunyi, entah siapa yang berkunjung pagi-pagi begini.
Jessika segera berlari ke pintu, berharap kalau itu Niko, meskipun rasanya tak mungkin jika Niko membunyikan bel hanya untuk masuk ke apartemen nya sendiri.
"Selamat pagi mba Jessika," sapa Rima ramah.
"Rima? Ada apa ?" tanya Jessika sedikit kaget karena tak biasanya sekretaris pribadi Niko itu datang ke apartemen, bahkan mungkin ini untuk pertama kalinya Jessika menerima kedatangan Rima.
"Maaf, saya di suruh bos untuk mengambil beberapa baju dan beberapa berkas penting di ruang kerjanya." ucap Rima menyembunyikan rasa kagetnya karena ternyata bosnya itu tinggal satu atap dengan wanita lain yang notabene dia ketahui bukan istrinya.
"Baju? Dikumen?" beo Jessika merasa ada yang tidak beres dengan semua ini, mengapa harus Rima yang datang dan mengambil baju dan dokumen milik Niko, bukankah kalau dia sangat sibuk bisa menyuruhnya untuk mengantarkan semua kebutuhannya ke kantor?
Rima mengangguk.
"Tapi dimana Ni- pak Niko sekarang? Atau biar aku saja yang mengantarkannya ke kantor," sambung Jessika, dia harus bertemu Niko fan mempertanyakan tentang semua ini, tentang mengapa dirinya tidak pulang, tidak bisa di hubungi, dan tiba-tiba sekarang mengutus Rima untuk mengambil baju dan dokumennya.
__ADS_1
"Emh, tapi bos tidak di kantor sekarang," jawab Rima ragu-ragu, sungguh dia tak ingin salah bicara, apalagi ini menyangkut bos galaknya.
"Tidak di kantor? Lantas dimana dia?" wajah Jessika berubah, dia tak dapat lagi menyembunyikan rasa penasaran dan kesalnya.
"Di--di--"
"Dimana cepat katakan!" ventak Jessika merasa tidak sabaran karena Rima seolah menutup-nutupi sesuatu.
"Di rumahnya," jawab Rima.
"Di rumahnya yang dulu?" tanya Jessika, maksudnya rumah Niko yang dulu di tempati bersama Rossa.
"I-iya, pak Niko meminta baju-bajunya di antarkan ke rumahnya, karena beliau akan tinggal lagi di rumah itu bersama bu Rossa," jawab Rima dengan suara yang bergetar karena ketakutan, sungguh dia takut salah bicara dan salah-salah dia bisa kehilangan pekerjaannya.
Seperti ada ledakan besar yang terjadi di dada dan kepala Jessika secara bersamaan, bagaimana bisa Niko tiba-tiba memutuskan untuk tinggal kembali bersama Rossa tanpa ada sepatah kata pun yang dia bicarakan padanya, dia anggap apa dirinya, seenaknya di tinggal begitu saja tanpa kata.
"Aku yang akan mengantarkan barang-barang yang dia perlukan," ucap Jessika dengan lugas.
"Tapi mba, nanti bos marah sama saya, dan saya bisa kehilangan pekerjaan saya, tolonglah mba, jangan mempersulit pekerjaan saya," pinta Rima mengiba.
"Kita pergi ke rumah itu bersama!" putus Jessika tak ingin lagi di bantah atau ada penawaran lain dari Rima.
__ADS_1
Meski takut, sekretaris pribadi Niko itu akhirnya setuju juga, setelah menunggu Jessika berganti pakaian, mereka pergi bersama ke rumah Niko dan Rossa, tak ada sepatah kata pun keluar dari bibir Jessika dan Rima, mereka hanya terdiam di sepanjang perjalan, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Niko muncul dari balik pintu saat Rima mengetuk pintu rumah bergaya modern itu, Jessika yang sejak tadi menunggu di mobil, akhirnya keluar juga saat melihat sisok kekasih yang di cemaskannya semalaman itu.
"Mas!" panggil Jessika.
Niko menoleh sekilas, sepertinya dia sudah tau kalau Jessika akan datang ke rumah itu untuk menemui dirinya.
"Kenapa tak mengangkat panggilan telpon ku, aku menunggu mu semalaman!" menyingkirkan rasa malu Jessika mengeluarkan unek-uneknya di hadapan Rima, yang mungkin saja akan menganggap dirinya wanita murahan karena mengejar pria beristri.
Niko memberi kode pada Rima untuk meninggalkan dirinya dan Jessika berdua di teras rumah itu, Rima mengangguk patuh, meski dalam hatinya terasa bagai naik roller coaster karena takut di pecat oleh bos galaknya itu.
Niko tak ingin Rima mendengar percakapannya dengan Jessika, yang mungkin saja itu akan membuat Jessika malu.
"Aku sibuk menemani Rossa, dia baru pulang dari rumah sakit." jawab Niko terkesan dingin dan datar.
Ini bukan Niko yang biasanya, Niko yang selalu hangat dengan pandangan yang penuh cinta, kali ini bahkan Niko seperti tak sudi menatap wajah Jessika, dia terus saja melempar pandangannya ke sembarang arah.
"Setidaknya kabari aku, agar aku tak perlu menunggu mu semalaman suntuk, bahkan sampai pagi ini aku belum memejamkan mata karena sangat khawatir dengan mu." suara Jessika terdengar agak bergetar, hidungnya sudah terasa perih karena menagan tangis, Niko berubah.
"Kau tak perlu lagi menunggu ku, karena aku akan tinggal di sini mulai sekarang dan seterusnya," jawab Niko dengan entengnya.
__ADS_1
Sontak saja airmata Jessika yang sejak tadi di tahannya mengucur deras dengan sendirinya, bagaimana bisa dirinya di buang begitu saja oleh pria yang tadinya hanya di jadikannya alat untuk balas dendamnya itu, Akh,,, ini sangat menyakitkan, ataukah ini karma yang datang terlalu dini padanya?