Aku Memang Pelakor

Aku Memang Pelakor
Mengarang Bebas


__ADS_3

Kini konsentrasi Niko tak lagi tertuju pada film yang di tontonnya, namun pada pikiran-pikiran buruk takut kalau-kalau Rossa nekat menghampiri mereka dan membuat kekacauan di sana.


Nama baik dirinya dan juga nama baik Jessika akan di pertaruhkan jika sampai itu terjadi, maka bagaimana pun dia harus menyembunyikan Jessika dari Rossa, dan dari semua orang yang berpotensi akan membuat nama baik dirinya dan juga Jessika hancur.


Selesai nonton, Niko dan Jessika berpisah. Mereka tak pulang bersama demi menghindari ke kepoan Rossa yang mungkin saja akan mencari tau tentang dirinya yang tadi bergelayut manja pada suaminya.


Belum saatnya bagi Jessika menunjukkan diri secara terang-terangan pada Rossa, masih ada beberapa tahapan yang harus dia lewati, Jessika merasa kalau Niko masih belum bisa sepenuhnya dia kendalikan maka percuma jika dia show off secara terang-terangan mengenai kedekatannya dengan Niko.


'Tunggulah sebentar lagi Rossa, kau akan merasakan apa yang kakak ku rasakan!' Ucap Jessika dalam hatinya.


Niko sampai di rumah terlebih dahulu di bandingkan dengan Rossa yang sepertinya entah pergi kemana dulu bersama pria selingkuhannya itu.


"Hai sayang kau baru pulang, bagaimana jalan-jalan mu dengan ibu mu?" Tanya Niko saat Rossa baru saja masuk ke kamar dan dirinya sudah bersiap akan tidur.


Niko memang tetap mempertahankan sikap berpura-pura nya seolah dia tak tau apapun tentang kelakuan Rossa bersama Ibnu.


"Nik, apa tadi kamu nonton film?" Tanya Rossa hati-hati, dia tak ingin salah bicara dan ucapannya malah akan berbalik merugikan dirinya sendiri.


"Hemh,,, iya, kok bisa tau?" Jawab Niko dengan gaya sok santainya.

__ADS_1


"Ah itu-- tadi temenku ada yang liat kamu di sana, sama siapa kamu?" Rossa melanjutkan pertanyaannya, tadinya dia berpikir kalau suaminya itu akan mengelak kalau dia baru saja menonton film, namun di luar dugaannya dia ternyata malah meng iya kan apa yang di tanyakan olehnya, bukankah itu berarti suaminya tak berusaha berbohong, padahal dia bisa saja mengelak.


"Aku sendiri, rapat di kantor tadi selesai cepat, jadi daripada gabut di rumah nungguin kamu pulang, mending aku nonton dulu kan, sekalian tadi ada yang perlu aku beli di mall, sebenarnya aku pengen ngajakin kamu nonton film itu, tapi kamunya gak bisa, kan?" Dusta Niko dengan lancarnya.


Rossa seperti kehilangan kata-kata untuk melanjutkan pertanyaan yang tadi sudah di rancang di sepanjang perjalanan pulangnya tadi.


Rasanya tak mungkin jika dirinya terus mendesak kalau suaminya itu tadi bersama seorang wanita, hanya saja bila dirinya begitu keukeuh memaksakan argumennya, dia takut kalau nanti Niko akan merasa curiga jika dirinya seakan tau dan ada di sana juga, tentu saja itu lebih berbahaya karena dirinya pergi bersama kekasihnya.


"Yakin? Kata teman ku kamu bermesraan dengan seorang wanita di dalam teater," kejar Rossa yang merasa tak puas dengan jawaban yang di berikan suaminya, karena jelas-jelas dirinya melihat dengan mata kepala sendiri kalau ada seorang eanita di samping suaminya yang menggelendot mesra di bahu kekar suaminya itu.


"Hahaha,,,, teman mu itu sungguh memiliki penglihatan yang tajam, seperti mata elang, siapa sih teman mu yang melihat ku itu? Aku yakin kalau teman mu hanya melihat ku dari belakang atau bahkan dari kejauhan saja, karena kalau dekat pemandangannya akan lain cerita." Seloroh Niko malah terbahak.


"Tentu saja, karena sepanjang pemutaran film ada seorang wanita yang tertidur dan kepalanya bersandar di bahu ku, sepertinya wanita itu kekelahan dan sebelum Film usai wanita itu terbangun, lalu dia sangat malu sampai memutuskan untuk keluar dari dalam teater dan tak kembali lagi," kata Niko menceritakan kejadian karangannya sendiri, sekilas nenggambarkan tentang dirinya yang terpaksa tak mengantarkan Jessika pulang, hanya karena tak ingin ketahuan oleh istrinya yang juga berada di sana.


Sebenarnya Rossa tak ingin percaya dengan apa yang di katakan Niko tentang kejadian tadi yang di lihatnya, untuk cerita keseluruhan memang agak sinkron dengan apa yang di lihatnya, namun secara perdebatan hati, feeling dirinya sebagai seorang istri sepertinya nenolak cerita yang di paparkan Niko padanya barusan.


Tidak ada pilihan lain bagi Rossa selain mempercayai cerita Niko untuk sementara, meski hatinya menolak dengan keras, hati kecil nyaa berkata kalau ada yang di tutup-tutupi oleh Niko meski dirinya tak tau apakah itu.


Rossa akan mencari bukti, apalagi jika sampai suaminya terbukti berselingkuh, akan sangata menguntungkan baginya karena dia akan menggugat cerai dan meminta harta gono gini yang sangat besar pada Niko karena posisi dirinya bisa di bingkai dalam posisi sebagai istri tersakiti dan terdzolimi.

__ADS_1


"Ooh begitu, aku pikir juga tak mungkin jika kamu membawa wanita lain, apalagi sampai di bawa ke tempat umum seperti itu, bukankah itu sama saja dengan kamu bunuh diri, kan?" Ujar Rossa.


"Kau pintar sekali, mana mungkin aku membawa selingkuhan ku ke tempat unum seperti itu, hanya orang bodoh saja yang membawa selingkuhan ke sana, harusnya kalau memang berselingkuh tuh, di bawa ke rumah makan pinggiran kota, atau di apartemen yang juga berada di pinggiran kota juga, itu akan lebih aman," oceh Niko yang secara tidak langsung berniat menyindir Rossa dengan halus.


Deg!


Jantung Rossa terada berhenti berdetak saat Niko mengatakan hal itu.


'Apa Niko sedang menyindir ku? Akh, tapi tak mungkin, kalau memang dia tau tentang itu semua dia pasti tak akan setenang ini sekarang, sudah pasti aku akan di tendang dari rumah ini, mungkin hanya kebetulan saja dan sepertinya aku hanya terlalu baper,' cicit Rossa dalam hatinya.


"Kenapa?" Tanya Niko saat melihat istrinya seperti salah tingkah saat mendengarkan ocehannya tentang rumah makan dan apartemen yang terletak di pinggiran kota itu.


"Ah, tidak. Aku jadi kepikiran takut kamu melakukan hal di ceritakan oleh mu itu," elak Rossa mengeles seraya mendudukan dirinya di tepi ranjang sebelah Niko yang sedang setengah berbaring di sana dan menyandarkan kepalanya di bahu Niko.


"Di bahu mana wanita tadi bersandar dan ketiduran?" Rossa mengalihkan pembicaraannya.


"Di sini, tepat seperti tempat mu sekarang ini bersandar," jawab Niko sambil mengelus kepala istrinya.


"Oh, membayangkannya saja aku merasa sangat cemburu, bagaimana bisa ada perempuan asing yang berani-beraninya bersandar di bahu suami ku ini," cicit Rossa seraya menciumi leher sabg suami, menggoda pria itu agar terbuay dengan pesonanya.

__ADS_1


Jujur saja, sebenarnya Niko itu selalu memuaskannya, tak ada satu pun alasan untuknya berpaling pada pria lain hanya saja saat bertemu kembali dengan Ibnu yang merupakan cinta pertama nya itu, semua tentang Niko menjadi berkurang 50 persen karena Ibnu telah memiliki seluruh hati nya semenjak dahulu.


__ADS_2