Aku Memilih Berpisah

Aku Memilih Berpisah
Episode 21


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan pada Rianti! Tega sekali kau menganiayanya?!" Tangan pak Arman terangkat keatas hampir saja pak Arman menampar Andika kalau saja tidak dicegah istrinya.Pak Arman menunduk untuk memeriksa keadaan Rianti.


Wajah Rianti lebam,sudut bibirnya pecah,kaki dan tangannya banyak luka bekas dicambuk.Kemungkinan juga seluruh badannya ada luka cambukan.


"Pa,kita harus membawa Rianti kerumah sakit!" Bu Ratih panik setelah memeriksa luka Rianti.Andre menangis memeluk tubuh mamanya.


Pak Arman memandang tajam pada Andika"Papa saja tidak pernah membentak mama kamu apalagi sampai memukulnya.Papa sangat menghargai dan menghormati mama.Kenapa kamu bisa sampai kejam begini pada istri kamu.Lihat saja,papa sendiri yang akan melaporkan kamu ke polisi!"


Pak Arman mengangkat tubuh Rianti diikuti bu Ratih dan Andre dari belakang.Saat akan melewati ruang tamu ada kedua orang tua Siska yang habis istirahat dikamar atas.


"Ada apa ini,ngapain kalian di rumah menantu saya?" Tanya pak Emir.


"Ini rumah anak saya" Jawab pak Arman.


"Oh jadi kalian besan yang ga punya sopan, santun itu? Anaknya menikahi anak saya tapi tak datang melamar dan tidak datang pada pernikahan mereka.Jangan kalian pikir karna kalian orang kaya bisa menginjak injak kami orang miskin."


Pak Arman hendak menjawab tapi dilarang istrinya."Ayo pak,ga usah diladeni.Rianti harus segera kita bawa kerumah sakit."


Andika mengintip dari jendela ketika pak Arman,bu Ratih dan Andre membawa Rianti kerumah sakit.


Andika mengusap kasar wajahnya dan mendudukkan tubuhnya di sofa.


"Ya Tuhan,apa yang telah aku lakukan.Rianti bisa jadi tambah benci pada saya."


Beberapa jam kemudian Rianti telah berada diruang rawat.Dokter menyarankan agar Rianti menginap selama satu hari demi memastikan tidak ada luka serius pada tubuhnya.Terutama bagian kepala yang terbentur dinding.


Bu Ratih tidak dapat lama lama menemani Rianti dirumah sakit karna dia harus pulang bersama Andre,karna besok Andre harus sekolah.Begitu juga dengan pak Arman,dia harus pergi karna banyak harus dia kerjakan.


Bu Ratih menyuruh art untuk menemani Rianti sementara.Hari hampir larut malam Rianti tidak bisa tidur,seluruh tubuhnya terasa sakit.Hingga akhirnya dia tertidur menjelang pagi dan bangun hari sudah siang.


Alangkah kagetnya Rianti saat membuka mata ada sahabatnya Sania dan bosnya pak Mahendra.


Rianti menutup seluruh tubuhnya sampai kepala.Dia merasa malu dilihat oleh sahabat dan atasannya dalam keadaan babak belur.


"Hai Rianti,teman datang kamu malah sembunyi gitu" Sania menarik selimut yang dipakai Rianti.


"Kamu ga usah malu,kami sudah tau apa yang terjadi.Kami datang kesini untuk memberi dukungan" Kata Mahendra.


"Maaf pak,tadi saya lupa izin tidak masuk kerja.Tapi dari mana bapak tau kalau saya ada disini?" Tanya Rianti sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya.

__ADS_1


"Sania yang telepon mertua kamu.Saya sempat panik kamu tidak datang kekantor dan saya hubungi hp kamu tidak aktif.Terus saya tolong cari tahu pada Sania bagaimana keadaan kamu."


"Iya Ri,aku telepon tante Ratih dan tante Ratih menceritakan kejadian yang menimpa kamu.Aku sudah muak banget lihat si Andika itu,manusia tapi berhati binatang.Aku yakin setelah ini pengadilan agama akan mengabulkan permohonan cerai kamu tanpa pertimbangan apapun.Saran aku nih ya lebih baik kamu pindah dari rumah mertua kamu Ri,biar ga ketemu Andika lagi" Sania ngegas.


"Semoga San,aku sudah tidak kuat dengan keadaan ini.Papa mertuaku juga akan melaporkan mas Andika kepolisi."


Hati Mahendra terasa sakit melihat lebam di wajah Rianti dan sudut bibirnya yang masih merah karna luka.Belum lagi di bagian tangan Rianti terlihat ada garis garis merah bekas cambukan.Ingin rasanya meraih Rianti dalam pelukannya,memberinya perlindungan dan kenyamanan.Tapi apalah daya.


"Eh btw,kamu belum makan kan Ri.Aku mau cari makan siang dulu di kantin rumah sakit.Aku tadi belum sempat makan siang, buru buru pengen jenguk kamu" Sania bangkit dari duduknya.


"Aku makan ini aja San,makanan rumah sakit,mubazir kalau ga dimakan" Rianti menunjuk kearah nakas yang ada disampingnya.


"Yaudah,lo mau gua beliin ga Hen?" Sania melihat kearah Mahendra.


"Nggak San,gua belum lapar." Sebenarnya Mahendra juga belum makan siang.Mendadak nafsu makannya hilang melihat keadaan Rianti.


Sania pergi membeli makanan ke kantin tinggallah Rianti dan Mahendra berdua.Mahendra memandang wajah Rianti yang menunduk.Walau lebam Rianti tetap cantik.


"Ri,aku turut prihatin.Ini yang kedua kali suami kamu melakukan kdrt,saya heran dengan laki laki yang melakukan kekerasan terhadap isterinya.Apa yang ada di otak mereka" Mahendra membuka pembicaraan.


"Apa ini terasa sakit?" Mahendra tidak tahan untuk tidak menyentuh dan memegang tangan Rianti.Jika di izinkan dia ingin menyembuhkan luka di badan dan hati Rianti.


Rahang Mahendra langsung mengencang mendengarkan apa yang dikatakan Rianti.Bisa bisanya seorang lelaki yang berstatus suami Rianti tersebut melakukan hal sekejam itu padanya.Membuat jiwa laki lakinya bergelora.Dia seperti ingin menantang suami Rianti untuk berkelahi.Jika pria itu kalah,dia akan memintanya untuk melepaskan Rianti.Mahendra tidak menjamin bisa menahan emosinya jika Andika terus menyakiti Rianti.Menurutnya ini sangat tragis.Tak terasa matanya memanas hendak menangis,tapi dia berusaha menahannya dengan menarik nafas dalam dan panjang.


Mahendra belum melepaskan tangannya yang menyentuh tangan Rianti ketika datang dua orang tamu yang membikin panas hati Rianti.Iya...Andika dan Siska datang menjenguk.


"Ehem-ehem" Andika pura pura mendehem melihat Mahendra menyentuh tangan Rianti.Cepat cepat Mahendra menjauhkan tangannya.Andika begitu marah tertahan melihat kehadiran Mahendra.Kedua tangannya mengepal dengan kencang.


Rianti tidak habis pikir,Andika berani datang setelah apa yang dilakukannya.Parahnya lagi dia membawa Siska yang menggandeng lengan Andika seakan tak mau lepas.Bukankah ini sangat keterlaluan.


Andika mendekat pada sisi ranjang.Mahendra beranjak dari kursi yang dia duduki dan berdiri agak jauh dari mereka.


"Sayang bagaimana khabar mu? Mas minta maaf ya" Andika hendak menyentuh wajah Rianti seketika wanita itu menepisnya dengan kasar.


"Jangan sentuh saya!" Rianti kelihatan begitu marah dengan sikap Andika yang tidak merasa bersalah sedikitpun.


"Hei kenapa marah begitu? Mas kan sudah minta maaf."


Rianti mendongakkan kepalanya menatap Andika penuh kebencian.

__ADS_1


"Bisa bisanya kamu bertanya kenapa aku marah?!" Apa kamu tidak sadar dengan kesalahanmu mas?!"


"Aku datang kesini bermaksud baik Rianti.Ingin minta maaf dan melihat keadaanmu.Dan Siska ikut menjenguk karna dia juga perhatian sama kamu.Kamu lihat betapa baiknya Siska.Harusnya kamu bisa menerimanya sebagai madu mu."


Rianti mengepalkan jarinya mendengar penjelasan Andika.Hati Andika memang tak memiliki mata hingga dia tidak bisa melihat luka hati istrinya.


Rianti mengalihkan tatapannya pada Siska yang dari tadi tidak lepas memeluk lengan Andika,membuat hatinya kesal.


"Hei kamu wanita bucin! Saya kasih tau ya sama kamu.Laki laki biasanya sekali selingkuh dia akan terus selingkuh.Memangnya kamu tidak takut mas Andika suatu saat akan selingkuh dari kamu.Dan memukul kamu seperti apa yang dia lakukan sama saya?!'


"Stop Rianti! Kamu bicara apa sih?!" Andika kembali emosi dan mengangkatnya hendak menampar Rianti.


Mahendra melihat itu langsung mendekat dan mendorong tubuh Andika sampai pintu luar.Andika hendak memukul Mahendra tapi keburu datang seorang dokter yang menangani Rianti.


"Maaf bapak bapak ada apa ini ribut ribut di kamar pasien?" Tanya dokter itu.


"Maaf sebelumnya dokter.Saya adalah suami wanita yang dirawat didalam.Tapi laki laki yang bukan siapa siapanya ini melarang saya untuk menemani istri saya" Andika menunjuk Mahendra dan melakukan pembelaan diri.


"Loh kenapa bisa begitu?' Dokter itu menatap Mahendra.


"Saya teman dan atasan wanita itu dokter.Saya mau tanya pada dokter,bukankah seorang pasien itu membutuhkan ketenangan?"


"Iya benar."


"Laki laki ini yang mengaku sebagai suami wanita itu datang menjenguk dengan membawa istri barunya.Bagaimana wanita itu mau tenang,yang ada justru emosi.Makanya saya mengusir dia pergi" Kata Mahendra sembari menunjuk Siska yang sembunyi di belakang Andika.


"Mau istri baru atau istri lama itu bukan urusan saya.Yang jadi urusan saya adalah bagaimana supaya pasien saya cepat sembuh dan tenang.Jadi kalau mau ribut jangan disini" Dokter itu menatap Andika sebagai isyarat.


Merasa perkataan dokter itu ditujukan padanya,Andika menarik tangan Siska meninggalkan rumah sakit.


"Siska,kamu kembali kekantor sendiri ya,mas ga bisa antar.Ada yang mau mas urus" Kata Andika pas di parkiran.


"Urusan apa mas? Bukan urusan menyangkut mba Rianti kan?"


"Bawel banget sih,ini bukan urusan kamu.Sudah sana cari taksi atau mobil online!"


Siska menurut saja,takut Andika marah apalagi sampai memukulnya.


Andika menunggu Mahendra keluar dari rumah sakit dan akan membuat perhitungan dengannya.

__ADS_1


__ADS_2