
"Widya,apa susahnya kamu terima Rianti,dia itu cantik,pintar,baik dan Mahendra mencintainya" Nenek berdiri dihadapan Widya.
"Mau cantik,pintar,baik,tetap aja dia seorang janda" Sahut Widya dengan wajah sinis.
"Kamu jangan merendahkan orang seperti itu!"
"Siapa yang merendahkan,kenyataanya memang seperti itu."
"Saya memutuskan menerima Rianti sebagai calon istri Mahendra,terserah kamu setuju atau tidak."
"Bu,maaf untuk kali ini Widya tidak menurut ucapan ibu.Mau ibu pukul Widya atau ibu matikan sekalipun Widya tetap menentang hubungan mereka.Ini menyangkut masa depan putra saya bu.Tolong ibu pikirkan perasaan saya" Mata Widya mulai berkaca kaca.
Melihat perdebatan nenek dan ibunya,Mahendra segera membawa neneknya keluar dari kamar.
"Nek,biarkan ibu istirahat dulu,biar ibu lebih tenang."
Pak Heriawan dari tadi yang hanya melihat dan mendengarkan menghampiri istrinya.
"Sayang...aku mengerti perasaan mu.Kita yang besarkan dan rawat Mahendra dari lahir hingga dewasa sekarang.Dia tumbuh menjadi anak cerdas dan sehat.Hendra juga tumbuh menjadi anak membanggakan dan penurut.Selama hidupnya dia tidak pernah membantah pada kita.Jadi,biarkan sekali ini saja dia menentukan pilihannya.Kita cukup hanya mendoakan dan memberi dukungan" Pak Heriawan memeluk pundak istrinya yang mulai terisak.
Bu Widya memandang suaminya" Kamu harus menjadi saya dulu baru tau dan paham apa yang saya rasakan" Tangis bu Widya akhirnya pecah.
"Tolong cegah Hendra sayang...jangan sampai dia menikah dengan Rianti!" Teriak bu Widya di sela tangisnya.
"Iya-iya...besok kita bicarakan lagi,sudah malam,lebih baik kita istirahat" Pak Heriawan berusaha meredam amarah istrinya dengan pelukan.
Malam telah beranjak,tapi bu Widya tidak bisa tidur walau matanya terpejam,pikirannya dipenuhi bagaimana menjauhkan putranya dengan Rianti.Bu Widya melirik suaminya yang telah tertidur dengan nyenyak.
Bu Widya teringat pada Ardi,dan meminta nomor ponsel Rianti padanya.
***
__ADS_1
"Nak Andika,apa ibu bisa bicara sebentar?" Ibunya Siska ternyata dari tadi duduk di ruang tamu menunggu kepulangan Andika dari kantor
"Mau bicara apa bu...penting nggak,soalnya Andika langsung mau pergi lagi" Andika menghentikan langkahnya saat hendak masuk ke kamar.
"Bagi ibu ini penting" Wajah ibunya Siska terlihat serius.
"Baiklah bu" Andika duduk di sofa di sebrang ibu mertuanya.
Ibunya Siska menarik nafas panjang" Begini nak Andika...selama ibu tinggal disini bersama kalian...sering sekali secara diam diam ibu melihat nak Andika memarahi dan main tangan pada Siska" Mata ibunya Siska tampak mulai berembun.
Andika terhenyak dari tempatnya,tidak menyangka ibu mertuanya itu berani protes.
"Seandainya Siska berbuat salah,alangkah baiknya nak Andika menasehatinya secara baik-baik.Sebagai seorang ibu...ibu tidak rela anak perempuan ibu disakiti apalagi oleh suaminya sendiri.Hati ibu terasa sakit dan hancur melihatnya" Kini tangis ibunya Siska benar benar pecah,dengan cepat dia pergi meninggalkan Andika.
Andika hanya bisa terdiam tanpa membantah ataupun menyela.
Andika memutuskan untuk pergi bertemu dengan wanita yang disewanya untuk mengawasi Rianti dan Mahendra disebuah kafe.
"Bagaimana,apa yang kau dapat selama beberapa hari ini?"
"Sepertinya mereka telah serius menjalin hubungan,karna Mahendra itu sudah membawa mantan istri pak Andika kerumahnya" Anita tersenyum manis,sesekali menggigit dan membasahi bibirnya untuk menggoda Andika.
Mata Andika menatap bibir Anita kemudian turun ke bawah.Dengan susah payah Andika menelan salivanya,terlihat dari lehernya yang bergerak naik turun.
"Eh iya...kalau bisa secepatnya kau pisahkan mereka,terserah bagaimana caranya" Andika salah tingkah karna Anita memergokinya.
Saat akan pergi meninggalkan kafe,Andika merasa ada yang mengalir dari lubang hidungnya.Dengan cepat dia mengambil tissue dan menyekanya.Andika terkejut melihat ada darah di tissue.
Melihat hal itu, Anita juga terkejut" Pak Andika mimisan?"
"Nggak apa apa,saya pamit dulu" Andika bergegas berjalan menuju toilet sambil menutupi hidungnya.
__ADS_1
Didalam toilet Andika membasuh hidungnya,tapi darah masih terus keluar.Ada perasaan cemas dalam dirinya tapi dia berusaha mengelaknya.
"Ah ini pasti hanya panas dalam,nanti juga hilang dengan sendirinya" Andika keluar dari toilet sambil terus menahan darah yang keluar dari hidungnya pakai tissue.
***
"Mari kita bertemu saat jam makan siang,saya perlu bicara" Bu Widya mengirim pesan pada Rianti.
Saat jam makan siang,Rianti langsung menuju tempat yang disebutkan bu Widya lewat pesan.
Rianti sampai ditempat dan menemukan Bu Widya telah ada di tempat.Bu Widya tampil sangat elegan dan glamour dengan menggunakan pakaian,sepatu dan tas bermerek terkenal.Ditambah perhiasan emas yang berukuran besar menghiasi tubuhnya.
"Maaf tante Widya,apa tante sudah lama menunggu saya?" Rianti merasa tidak enak karna Bu Widya yang telah sampai lebih dulu.
"Kamu nggak usah basa basi,muak saya dengar suara kamu" Bu Widya mendekat pada Rianti dan memperhatikan penampilan Rianti dari kepala hingga kaki.
"Dari penampilan saja,kamu tidak pantas berdampingan dengan anak saya.Pasti pakaian dan barang yang kamu pakai semua harganya murahan" Ucap bu Widya dengan sinis.
"Saya mau kamu jauhi anak saya!" Bu Widya memandang tajam pada Rianti.
"Asal kamu tau,kehadiran kamu membuat saya dan Mahendra sering berdebat dan bertengkar.Itu yang kamu mau ha!"
Rianti hanya bisa menunduk,tubuhnya mulai keringat dingin.
"Kenapa kamu diam saja,senang kamu telah merusak hubungan antara ibu dan anak!"
"Maaf tante,saya nggak bermaksud begitu" Rianti mengangkat kepalanya,matanya mulai berkaca kaca.
"Ah saya begitu benci lihat wajah kamu,rasanya saya ingin mencekik lehermu.Lebih baik kamu tundukkan lagi aja kepalamu itu!"
Rianti kembali menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Buat surat pengunduran diri kamu secepat mungkin,saya tidak mau lagi melihat wajah kamu di kantor Mahendra!" Bu Widya berjalan hendak meninggalkan Rianti tapi kemudian berhenti lagi.
"Ingat! Jangan sampai Mahendra tau hal ini!" Bu Widya setengah berlari meninggalkan Rianti sampai suara sepatunya kedengaran.