
Ibu Siska merangkak mendekati putrinya yang tergeletak dilantai."Siska,Siska bangun!" Ibu Siska menggerak-gerakan tubuh Siska.
Wajahnya memucat dan tubuhnya bergetar mendapati Siska tidak bergerak sama sekali.
"Pak! Siska pak! Siska berdarah!" Ibu Siska berteriak panik saat melihat darah mengalir dari paha Siska.
Pak Emir berusaha bangkit sambil menahan rasa sakit di bokongnya."Bagaimana ini ibu" Pak Emir kelihatan panik dan ketakutan.
"Pak,tolong telepon mobil ambulan,kita harus membawa Siska kerumah sakit" Tangis ibu Siska pecah sembari memeluk tubuh putrinya.
Dengan sigap pak Emir menghubungi kontak mobil ambulan yang ada di kontak ponselnya.Tidak lama kemudian mobil ambulan datang dan membawa Siska ke rumah sakit.
"Bagaimana ini pak,Siska keguguran,dan ada pendarahan diotaknya.Siska harus segera dioperasi.Darimana kita mendapatkan uang puluhan juta untuk biayanya?" Ibu Siska berjalan mondar mandir di ruang tunggu ruang operasi.
"Ibu bisa diam nggak sih!" Bentak pak Emir.
"Bagaimana ibu bisa diam pak,anak kita tak berdaya di dalam sana,tapi bapak hanya diam saja,tanpa berbuat apa-apa.Bapak coba cari pinjaman sama tetangga atau teman dekat bapak!" Ibu Siska memandang kesal pada suaminya.
"Mana mungkin ada yang mau meminjamkan uang puluhan juta pada kita,apalagi tanpa jaminan."
"Ini semua salah bapak,ibu---"
"Bapak akan menemui Andika,ibu tunggu sini jaga Siska" Pak Emir bergegas keluar dari ruang tunggu.
Pak Emir menemui Andika di rumah kedua orang tuanya.
"Saya mau ketemu Andika" Ternyata yang membukakan pintu asisten rumah tangga bu Halimah.
"Bapak Andika tidak ada dirumah pak."
"Kalau bapak ibunya ada?"
"Mereka semua sedang dirumah sakit,bapak Andika nya sedang dirawat dirumah sakit" Pak Emir mendengus kesal,dan meminta alamat rumah sakit tempat Andika dirawat.
Pak Emir sampai di rumah sakit tempat Andika dirawat.Pak Arman yang menerima kehadiran bapaknya Siska,sementara bu Halimah sedang ada didalam menemani Andika.
"Siska istrinya Andika sedang dirawat dirumah sakit,dia mengalami keguguran dan ada pendarahan diotaknya.Kami tidak punya uang sama sekali untuk membayar semua biaya untuk operasi,perawatan dan rumah sakit" Pak Emir to the point,tanpa basa basi.
"Anda lihat sendirikan,didalam anak kami Andika juga sedang dirawat?" Pak Arman menunjuk kearah kamar rawat Andika.
__ADS_1
"Iya,tapi Siska itu istrinya Andika.Dan Andika lah yang harus bertanggung jawab atas hidup istrinya,termasuk membayar semua biaya perawatannya di rumah sakit."
"Baik,saya akan tanggung semua biaya perawatan dan rumah sakit anak anda" Pak Arman tak mau berdebat,tapi kalau dipikir-pikir memang tanggung jawab Andika.Berhubung Andika sedang sakit tidak ada salahnya dia yang mengambil tanggung jawab itu.Biar bagaimana pun,suka tidak suka Siska memang menantunya.
"Besok saya akan datang kerumah sakit sekalian menjenguk istri Andika" Sambung pak Arman.
Pak Emir terdiam sebentar,"Tapi bagaimana dengan biaya hidup kami sehari-hari.Siska tidak bisa kerja selama dirumah sakit dan setelah sembuh belum tentu bisa langsung kerja" Ucap pak Emir dengan tidak tau malu.
Pak Arman lebih mendekat pada pak Emir," Anda masih sehat kan? Kaki dan tangan anda juga sehatkan? Gunakan kaki dan tangan anda untuk mencari biaya hidup anda sehari-hari!"
"Tapi siapa yang mau menerima orang tua seperti saya?"
"Itu urusan anda,maaf saya permisi dulu" Pak Arman meninggalkan pak Emir keruang perawatan Andika menemani istrinya.
***
"Ah akhirnya...our time...!" Mahendra memeluk dan mengangkat tubuh Rianti kemudian memutarnya.Setelah sampai di Bali,Rianti dan Mahendra sibuk bermain dan mengurus Andre dan sikembar.Mahendra merasa senang akhirnya punya waktu untuk berduaan dengan Rianti.
"Hendra...turunin...nanti jatuh!" Rianti memekik terkejut dengan tindakan tiba-tiba Mahendra.
Mahendra menurunkan tubuh Rianti dan menatapnya di bawah terangnya sinar rembulan.
"Kamu ngapain sih ngajak ke pantai malam-malam.Kita harus istirahat,besok kan acara pertunangan kita" Rianti tidak memperdulikan pujian Mahendra.
"Di pantai nggak ada cerita malam.Mau malam atau siang,pantai tetap ramai.Lagian acaranya sore,jadi besok kita masih punya banyak waktu untuk istirahat."
"Kamu harus menemani saya sampai pagi" Mahendra masih menatap Rianti dengan lekat.
"Kamu ngapain sih dari tadi menatap aku terus" Rianti merasa malu dan grogi ditatap seintens itu oleh Mahendra.
"Pengen nyium" Goda Mahendra sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Idih malu tau,banyak orang" Rianti mulai menikmati suasana pantai dengan memainkan pasir pantai dengan kakinya.
"Kita cari tempat sepi yuk" Mahendra menarik tangan Rianti.
"Hendra,ayo kita lomba lari!" Rianti berbalik menarik tangan Mahendra berlawanan arah.
"Kenapa harus lomba lari?" Kini Mahendra mengikuti gerakan Rianti.
__ADS_1
"Karna aku sedang ingin makan es krim.Yang kalah harus beliin es krim" Rianti mulai berlari.
"Yang kalah harus cium yang menang?" Mahendra menaik turunkan kedua alisnya.
"Nggak,tetap es krim!" Rianti semakin kencang berlari.
"Ok!" Mahendra tersenyum licik dan mulai berlari menyusul Rianti.
Mahendra berhasil melewati Rianti,dengan sengaja menjatuhkan dirinya diatas pasir tepat didepan Rianti.Jadilah tubuh Rianti jatuh tepat diatas badan Mahendra.
Mahendra tersenyum simpul melihat wajah Rianti merona merah.
"Kak Hendra,kak Rianti,kalian sedang apa?!" Suara Elara mengejutkan Mahendra dan Rianti.
Dengan cepat Rianti turun dari bandan Mahendra.Dan pura-pura membersihkan bajunya yang terkena pasir.
"Sedang pacaran! Lo ngapain sih El kesini,ganggu orang aja?!" Mahendra menatap kesal pada adiknya.
"Gua juga sedang pacaran" Elara nyengir Sembari menunjuk suaminya yang berdiri tidak jauh dari dia.
"Cari tempat lain dong" Mahendra melempar potongan kayu kecil kearah Elara.Elara berhasil menghindar dan berlari menghampiri suaminya sambil tertawa meledek kakaknya.
"Dasar resek" Omel Mahendra,Rianti tertawa ngikik sambil menutup mulutnya.
***
Sore harinya semua keluarga telah berkumpul di depan resort tempat mereka menginap yang berada pinggir pantai.Pesta pertunangan Rianti dan Mahendra di buat dengan konsep out door.
Rianti tampak cantik mengenakan gaun panjang berwarna merah burgundy dengan spaghetti strap yang begitu indah.Disebelahnya berdiri Mahendra dengan stelan jas berwarna hitam.
Hampir semua tamu undangan telah hadir,pesta pertunangan pun dimulai.Dengan bangga Mahendra memperkenalkan Rianti sebagai tunangannya.Semua bertepuk tangan ketika Mahendra dan Rianti saling memasangkan cincin pertunangan.
Dilanjut dengan sesi foto-foto dan menikmati jamuan makanan.Rianti dan Mahendra tampak bahagia,senyum selalu terukir diwajah mereka.
Menjelang malam,ditengah-tengah kebahagiaan mereka.Pengasuh Andre menghampiri Rianti dengan wajah panik dan ketakutan.
"Bu Rianti...Andre...hilang bu"Ucapnya dengan suara gemetar dan terbata-bata.
Seketika senyum yang dari tadi menghias wajah Rianti lenyap seketika.
__ADS_1