
Pagi harinya Rianti menghubungi Mahendra untuk memberitahukan bahwa dia belum bisa masuk kerja.
"Selamat pagi pak Mahendra" Sapa Rianti begitu sambungannya diangkat.
"Selamat pagi juga bu Rianti" Yang menjawab Ardi asisten Mahendra.
"Maaf pak Ardi,kenapa bapak yang menjawabnya,pak Mahendra kemana?"
"Oh begini bu Rianti,kemarin siang sehabis pulang menjenguk ibu kerumah sakit,pak Mahendra mengalami kecelakaan.Sekarang pak Mahendra di rawat dirumah sakit yang sama dengan ibu dirawat" Terang Ardi.
"Innalillahi...saya turut prihatin ya pak...bagaimana keadaannya sekarang?"
"Ada tulang kering kakinya yang retak dan luka di bagian kepalanya."
"Ya Allah! Apa boleh di jenguk pak?"
"Tentu boleh bu,apalagi di jenguk oleh wanita yang disukainya,pak Mahendra pasti cepat sembuh." Ardi kelepasan ngomong.
"Kalau boleh tau siapa wanita yang disukai pak Mahendra pak?"
"Oh itu,maksud saya wanita yang dekat dengan pak Hendra terutama keluarganya."
"Oh"
"Bu Rianti kalau mau menjenguk pak Mahendra silahkan bu."
"Baik pak,mungkin nanti sore saya datang."
***
"Ah ternyata papa masih sayang sama anaknya,buktinya papa mencabut laporannya.Aku sebaiknya datang dan berterimakasih pada papa" Andika merapihkan meja kerjanya siap siap berkunjung kerumah orang tuanya.
"Semoga bisa ketemu Rianti disana" Andika bersiul siul bahagia memasuki mobilnya.
Sampai dirumah papanya,Rianti telah siap siap untuk pergi.
"Assalamualaikum" Andika masuk dan menyalim pada bu Ratih dan pak Arman.
"Pa,terimakasih ya sudah mencabut laporannya.Andika kira papa sudah tidak sayang lagi pada anaknya sendiri" Kata Andika mendudukkan tubuhnya disamping bu Ratih.
"Jangan berterimakasih pada papa.Berterima kasihlah pada Rianti.Dia yang menyuruh papa mencabutnya."
Andika merasa surprise dan menatap Rianti dengan senyuman.Dia tau Rianti pasti akan memaafkan semua segala kesalahannya.Didalam hati Rianti yang paling dalam masih ada cinta untuknya.
Dengan pedenya Andika mendekat pada Rianti dan memegang tangannya.Tapi dengan cepat ditepis oleh Rianti.
Andik kaget, tapi hatinya berkata Rianti mungkin malu dipegang didepan kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Rianti terimakasih ya sayang...kamu sudah menyuruh papa mencabut laporannya.Aku tau kamu masih perduli sama mas."
Rianti memandang malas pada Andika"Kamu jangan gr dulu mas. Aku melakukannya demi Andre,aku tak mau Andre mempunyai seorang ayah narapidana."
Rianti berdiri" Ma,pa...Rianti izin dulu ya mau menjenguk pak Mahendra dirumah sakit."
Andika kaget,hampir saja dia lupa pernah membuat Mahendra kecelakaan.
"Pak Mahendra kecelakaan? Bagaimana keadaannya?" Tanya Andika.
"Iya mas,ada yang retak tulang kakinya dan luka di bagian kepala" Jawab Rianti kemudian menyalim kedua mertuanya dan memakai masker agar tidak kelihatan merah merah bekas lebam di wajahnya.
"Mas antar ya? Andika berdiri mengambil kunci mobil dikantong celananya.
"Nggak usah mas,aku sudah memesan ojek online.Itu sudah menunggu di depan" Rianti dengan cepat berjalan keluar rumah.
Andika ikut keluar memandang Rianti menaiki ojek online sampai tidak kelihatan.
"Semoga saja keadaan pak Mahendra parah.Paling tidak kedua kakinya patah atau wajahnya cacat.Dengan begitu kan ketampanannya berkurang.Jadi dia tidak punya keberanian untuk mendekat Rianti" Bathin Andika.
Sesampainya dirumah sakit,Mahendra sangat senang atas kehadiran Rianti.Tiba tiba moodnya bagus.
"Pak Mahendra,saya turut prihatin atas musibah yang menimpa bapak" Rianti menyalami Mahendra.
"Terimakasih sudah menjenguk saya" Mahendra menggenggam erat tangan Rianti,,rasanya tidak ingin dia lepas tangan itu.Dia ingin Rianti menemainya.
Tiba tiba Mahendra tersadar dan melepaskan tangan Rianti Dengan kikuk.
"Kata pak Ardi tulang kaki bapak ada yang retak? Rianti duduk di kursi disamping tempat tidur.
"Iya,mungkin dua hari lagi akan dikakukan operasi."
"Semoga operasinya lancar ya pak.Luka di kepala bapak bagaimana?" Rianti menyentuh perban yang melilit kepala Mahendra.
Mahendra menarik nafas panjang dan lama menghirup aroma handbody yang keluar dari tangan Rianti.Ingin rasanya dia meraih tangan itu dan mencium sepuasnya.
"Pak,bapak kenapa? Apa ada yang sakit,biar saya panggilkan dokter."
Mahendra mengerjap kerjabkan matanya demi menghilangkan rasa kagetnya." Ah tidak,saya hanya merasa lapar" tanpa disengaja matanya tertuju pada buah yang dibawa Rianti.
"Bapak mau makan buah?"
Mahendra hanya mengangguk.
Rianti mengupaskan buah jeruk yang dia bawa."Bapak bisa makan sendiri buahnya?" Rianti menyodorkan buah yang sudah dia kupas kehadapan Mahendra.
"Sebenarnya...kedua tangan saya agak agak keseleo karna kecelakaan itu.Jadi tidak boleh banyak bergerak dulu."
__ADS_1
"Ya sudah,saya suapi ya pak? Maaf kalau kurang sopan."Rianti menyandarkan potongan buah itu kemulut Mahendra.
"Eh nggak usah Rianti,biar nanti perawat saja yang melakukannya" Mahendra pura pura menolak.
Karna Mahendra menggerakkan kepalanya untuk menghindari biar tidak disuapi Rianti.Buah jeruk itu terjatuh,yang ada jari jari Rianti menyentuh bibir Mahendra.
Mereka berdua sama sama terdiam dan saling tatap.Mahendra meresapi perasaannya,ada gelenyar aneh yang dia rasakan saat jari mungil dan lembut Rianti menempel di bibirnya. Tak perlu waktu lama Rianti tersadar dan menarik tangannya.Keadaan ini sangat tidak disukainya,terlebih dia masih berstatus istri orang,tak pantas rasanya.Beda dengan Mahendra,dia sangat menyukainya.
"Oiya Ri,bagaimana perkembangan gugat cerai kamu di pengadilan?" Mahendra berusaha mensterilkan kecanggungan mereka,terlebih melihat Rianti menunduk diam.
"Lusa akan ada mediasi pak" Rianti merasa lega situasi kembali normal.
"Maaf ya pak,saya tidak bisa lama lama disini.Saya harus pulang sekarang,semoga bapak cepat sembuh dan puluh kembali" Rianti berdiri.
"Baik Rianti,terima kasih sudah berkunjung.Semoga proses mediasinya berjalan sesuai keinginan kamu.Maaf saya tidak bisa mengantar."
"Iya pak terima kasih.Bagaimana pak Mahendra mau mengantar saya dengan keadaan begitu" Mereka berdua tertawa dengan jawaban Rianti.
Setelah Rianti pulang,Mahendra sibuk menormalkan detak jantungnya dan menenangkan getar hatinya yang penuh cinta untuk Rianti.
"Ah Rianti...kenapa hanya dirimu yang mampu membuat hati ini bergetar.Begitu indah cinta yang kurasakan untukmu Rianti...cintaku...sayangku" Mahendra halu.
***
Rianti hadir pada proses mediasi di temani Sania dan kuasa hukumnya.
Andika hanya ditemani kuasa hukumnya karna sang mama dan papa tidak mau menemaninya.
Dalam sidang pertama proses mediasi gagal,Rianti bersikukuh untuk berpisah.Sebaliknya Andika ngotot tidak mau berpisah dengan alasan masih mencintai Rianti.Andika tidak bisa berbuat apa apa karna Rianti punya banyak bukti mengenai kdrt yang dilakukannya.
"Saya yakin,hakim akan mengabulkan permohonan gugat cerai bu Rianti.Karna ibu memiliki bukti yang kuat" Kata kuasa hukum yang ditunjuk Mahendra untuk mendampingi Rianti.
Rianti,Sania dan pengacara Rianti keluar ruang sidang dengan tersenyum.Beda dengan Andika yang tampak muram.Semakin hari semakin berat rasanya untuk melepas Rianti.
Andika memandang tubuh Rianti dari belakang dan tiba tiba dia berlari dan berdiri tepat didepan Rianti kemudian berlutut memohon pada Rianti agar tidak bercerai.
"Rianti,ku mohon batalkan gugatan cerai mu.Aku masih sangat mencintaimu.Tak sanggup rasanya hidup tanpa dirimu.Apapun akan mas lakukan agar kita tidak bercerai.Atau bila perlu aku akan menceraikan Siska sekarang juga" Andika meraih tangan Rianti dan mengecupnya dengan lembut.
Rianti merasa risih dengan kelakuan Andika kemudian menarik tangannya" Sudah terlambat mas."
Rianti berjalan dengan cepat meninggalkan tempat persidangan.
Sania juga kesal melihat tingkah Andika yang menurutnya kampungan dan tak tau diri.
"Rasain lo! Belagu sih!" Cibir Sania setengah berlari menyusul Rianti.
Tinggallah Andika termangu di tengah kerumunan orang yang memandangnya penuh tanya.
__ADS_1