
"Aku nggak mau pulang" Mahendra masih terus memeluk tubuh Rianti.
"Hendra,ini sudah lebih dari sepuluh menit" Rianti berusaha melepaskan pelukan Mahendra.
"Sayang,biarkan dulu seperti ini,aku nggak mau berpisah" Mahendra memejamkan matanya meresapi kebahagiaan yang dia rasakan.
"Hendra,kenapa kamu jadi kekanakan begini.Besok masih ada waktu,kita akan bertemu dikantor."
"Aku nggak sabar menunggu besok."
"Sayang...Elara dan nenek menunggu mu dirumah...Andre juga menunggu mamanya dirumah" Rianti mengusap lengan Mahendra berusaha meluluhkan hatinya.
"Kamu memanggil aku sayang...? Coba ulangi sekali lagi" Mahendra memutar tubuhnya menghadap Rianti.
"Iya sayang"
"Ah aku jadi semakin nggak mau pulang."
"Apa,nggak mau pulang ya...?" Rianti memandang dengan tajam dan mencubit perut Mahendra.
"Ah iya maaf Rianti,ayo pulang...kamu galak juga ya...sepertinya masa depanku akan suram karna mempunyai calon istri galak sepertimu" Mahendra tertawa senang berhasil menggoda Rianti.
Mereka berdua berjalan menuju ke mobil,didalam mobil Mahendra masih terus saja menggoda Rianti.
"Hendra,tolong nyalakan lampu,aku kesulitan memasang seatbeltnya!"
"Oiya lampunya agak macet nih,susah dinyalakan" Mahendra pura pura kesusahan menyalakan lampu yang ada didalam mobil.
"Sini biar aku bantu pasangkan" Mahendra mencondongkan tubuhnya kearah Rianti dan meraih seatbelt.
"Kamu mau apa?" Tanya Rianti curiga karna wajah Mahendra terlalu dekat dengan wajahnya.
"Hanya mau membantu memasangkan seatbelt kamu,mengapa wajahmu tegang begitu" Mahendra selesai memasangkan seat belt untuk Rianti dan...
"Cup"
Sebuah kecupan sukses mendarat di pipi Rianti.Tubuh Rianti tiba tiba membeku,wajahnya merah padam.Kebahagiaan membuncah di dalam hatinya walau ada sedikit perasaan kesal.
Rianti melirik Mahendra yang tersenyum senang.Tiba tiba Rianti mencubit manja lengan Mahendra.
"Kamu curang,kamu selalu godain aku" Kini Rianti bukan hanya mencubit tapi juga menggelitik Mahendra sampai tertawa kegelian.
"Iya maaf sayang...itu sebagai ganti yang tadi...masa aku nggak bawa hasil pulang kencan" Kata Mahendra sambil berusaha menahan tangan Rianti yang terus mencubit dan menggelitiknya.
Mahendra mengantar Rianti agak jauh dari rumah kontrakannya sesuai keinginan Rianti.
"Ah kenapa jalan ini pendek sekali ya,jadi cepat sampai,padahal aku masih ingin bersamamu" Mahendra menahan tangan Rianti saat akan turun dari mobil.
__ADS_1
"Hendra...lepaskan,aku mau turun,nggak enak nanti ada yang lihat."
"Iya iya...hati hati turunnya.Selamat istirahat,tidur yang nyenyak,mimpi yang indah.Jangat di bayang bayangkan saat aku mencium mu tadi."
Rianti memutar mata malas,nggak menyangka Mahendra bisa jadi cerewet begitu.
***
Setelah mengantar Rianti pulang,Mahendra kembali rumah dengan wajah secerah bulan purnama.Sampai dirumah disambut nenek dan Elara penuh antusias.
Mahendra duduk diantara nenek dan Elara.Nenek memeluk dan menghujani ciuman di wajah Mahendra.
"Kak Hendra kata ibu,kak Rianti teman kakak waktu SMA sekarang janda dan kakak menjalin hubungan dengannya,benar kak?" Elara yang dari tadi memang penasaran langsung bertanya pada Mahendra.
Mahendra memandang pada bu Widya,kemudian menarik nafas dan mengangguk.
"Nenek senang mendengarnya dan nenek dukung kamu.Walaupun Rianti seorang janda.Karna di dunia ini tak satupun wanita mau jadi janda,yang penting dia tidak sedang terikat pernikahan" Nenek memandang Mahendra dengan mata berbinar binar.
"Aku juga dukung kamu kak,semangat ya" Elara tidak kalah senang dari nenek.
"Nenek sangat ingin melihat kamu menikah dan punya anak sebelum nenek meninggal.Jadi kalau bisa kamu cepat cepat lamar Rianti dan segera menikah" Mahendra terharu dengan perkataan neneknya.
"Widya,jangan halangi kebahagiaan Hendra,biarkan dia menikah dengan wanita pilihannya" Nenek memandang pada bu Widya.
Bu Widya melengos kesal karna jauh jauh datang dari Belanda,berharap ibu mertuanya dan Elara mendukungnya untuk menentang hubungan putranya dan Rianti.
"Besok bawa Rianti kerumah,nenek mau ketemu!"
"Siap nek!"
"Ah tiba tiba ibu merasa nggak enak badan,ibu mau kekamar dulu" Bu Widya berjalan menuju kamarnya dengan perasaan kesal.
***
"Hendra,aku rasa ibu kamu tidak suka dengan kehadiran ku" Rianti menghentikan langkahnya saat telah sampai di teras rumah Mahendra.
"Ada aku,kamu jangan kuatir.Lagi pula ada nenek dan Elara yang mendukung kita,bahkan ayah juga setuju."
"Tapi aku tetap takut" Rianti memegang lengan Mahendra.
"Rianti...kamu tenang saja,selama ada nenek,semua pasti lancar.Tidak ada yang berani membantah perkataan nenek.Aura nenek itu bagaikan seorang ibu suri" Mahendra menarik pelan tangan Rianti untuk masuk kedalam rumah.
Semua penghuni rumah menyambut hangat kedatangan Rianti dan Mahendra,terutama nenek dan Elara.Tidak dengan bu Widya,dia sengaja mengurung diri dikamar karna tau Rianti akan datang.
"Kak Rianti duduk sini kak,sudah lama sekali kita tidak bertemu" Elara membawa Rianti duduk disebelahnya.
Rianti merasa lega disambut hangat,tapi dia tidak menemukan bu Widya ada perasaan kuatir menyergapnya.
__ADS_1
"Kak Rianti tetap cantik seperti dulu,nggak berubah,aku jadi iri deh" Elara menatap kagum Rianti.
"Kamu juga terap cantik El,bahkan tambah cantik" Pujian Rianti membuat Elara tambah menyukai Rianti sebagai calon iparnya.
"Oiya nek,tante Widya mana? Rianti ada bawa kue kesukaan tante" Rianti mengalihkan perhatian pada nenek yang mengobrol dengan Mahendra.
"Elara,cepat panggil ibu kamu dikamar,bilang Rianti mau ketemu!"
Elara berjalan menuju kamar ibunya dan mengetuk pintu dengan pelan.
"Bu...Elara boleh masuk ya?"
"Iya"
"Bu,ada kak Rianti tuh datang,masa ibu di dalam kamar saja.Dia ingin ketemu."
"Ibu nggak sudi ketemu dengannya,lebih baik ibu ketemu setan!" Sahut bu Widya judes.
"Bu,apa ibu begini karna status kak Rianti?" Elara duduk di sisi tempat tidur dekat bu Widya rebahan.
"Itu kamu tau!"
"Bu,ibu nggak boleh begini,kasihan kak Hendra.Bukannya ibu mendesak kak Hendra untuk segera menikah."
"Iya,tapi ibu nggak mau kalau nikahnya sama janda.Ibu nggak rela,ibu malu...pokoknya sampai mati pun ibu tidak akan setuju."
"Yasudah bu,jangan marah-marah,nggak baik untuk kesehatan ibu.Kalau gitu Elara keluar dulu" Elara menarik nafas panjang dan berjalan menuju ruang tamu.
"Kak Rianti,maaf ya...ibu sedang tidak enak badan,mungkin lain kali bisa ketemu" Elara kembali duduk di samping Rianti.
"El,kamu ajak sana Rianti ke ruang perpustakaan,dia sangat suka membaca" Mahendra berusaha agar Rianti merasa nyaman.
"Iya kak" Elara dan Rianti menuju ruang perpustakaan sementara Mahendra menuju kamar ibunya.
Mahendra mengetuk pintu dan masuk karna pintu tidak di kunci.Melihat Mahendra masuk bu Widya pura pura tidur.
"Bu...Hendra tau ibu belum tidur" Mahendra duduk di samping bu Widya dan mencium pipinya.
"Bu,Hendra mohon...restui hubungan Hendra dengan Rianti."
Bu Widya membalikkan badannya menghadap Mahendra.
"Sampai mati pun ibu tidak akan memberi restu,masih banyak anak gadis di luaran sana ,tapi kamu memilih dia!"
"Bu,Hendra cintanya pada Rianti" Mahendra tetap melembutkan suaranya agar ibunya luluh.
"Dasar anak bodoh,idiot...pergi kamu dari kamar ibu...ibu nggak mau lihat kamu!" Bukannya luluh bu Widya justru jadi histeris.
__ADS_1
Tiba tiba nenek datang karna bu Widya tidak kunjung keluar dari kamar.