Aku Memilih Berpisah

Aku Memilih Berpisah
Episode 48


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul satu malam ketika Rianti terbangun dikarenakan ada suara ribut-ribut didepan rumahnya.


"Rianti...aku tak bisa hidup tanpamu...Rianti sayangku,mengapa kau tega menyakitiku...Rianti keluarlah,aku merindukanmu...!"


Rianti merasa familiar dengan suara yang berteriak-teriak memanggil namanya.Dengan cepat dia keluar dari kamar dan mengintip keluar lewat gorden jendela.


Rianti terkejut melihat Mahendra sedang berdiri dan berpegangan pada tiang teras.Berdirinya agak sempoyongan dan terus berteriak memanggil Rianti.


"Ya Tuhan,apa yang dilakukan Mahendra malam-malam begini?" Rianti menutup kembali gorden yang di singkap sedikit.


"Sepertinya dia sedang mabuk...bagaimana ini...dia terus berteriak,nanti tetangga bisa terganggu dan marah...maafkan aku Mahendra" Rianti mondar-mandir diruang tamu,bingung apa yang harus dia lakukan.Kalau keluar menemui Mahendra tidak mungkin,yang ada akan menambah masalah karna Mahendra sedang dalam keadaan mabuk.


Mau menghubungi keluarganya tidak mungkin,takutnya nanti keluarganya berpikiran buruk tentang dia.Rianti teringat dengan Ardi dan menghubunginya.


Untungnya Ardi sedang online,dengan cepat dia mengangkat telepon dari Rianti.


"Iya bu Rianti ada apa?" Suara Ardi terdengar kuatir sebab Rianti meneleponnya tengah malam.


"Pak Ardi tolong datang kedepan rumah saya,ada pak Mahendra...!" Suara Rianti terdengar panik.


"Mengapa pak Mahendra ada didepan rumah bu Rianti?"


"Sepertinya pak Mahendra sedang mabuk,jadi pak Ardi tolong cepat kesini!"


"Baik bu,saya segera meluncur!" Ardi langsung mematikan sambungan ponselnya kemudian mengambil jaket dan kunci mobilnya.


"Ya ampun Hendra,segitu frustasinya lo diputusin Rianti" Gumam Ardi sambil berjalan ke parkiran.


Sampai didepan rumah Rianti,Ardi terkejut melihat kelakuan Mahendra.Seumur hidup selama bersahabat dengan Mahendra,Ardi tau Mahendra tidak pernah mau menyentuh apalagi meminum minuman keras.


Dengan cepat Ardi turun dari mobil dan berlari menghampiri Mahendra.


"Hendra,apa yang kamu lakukan disini,ayo kita pulang" Ardi berusaha menarik dan memapah tubuh Mahendra.Tapi Mahendra terus berpegangan pada tiang teras dan berteriak mengulang kata yang sama.


"Ayo Hendra,kamu bikin malu saja,berteriak teriak di depan rumah orang!" Ardi terus menarik Mahendra tapi Mahendra semakin mengencangkan pegangannya.


Merasa kewalahan,Ardi memutuskan untuk menghubungi Elara adik Mahendra.Ardi merasa mulai kesal dan frustasi sebab Elara tidak juga mengangkat teleponnya.Sekitar sepuluh menit barulah diangkat Elara.


"Elara ini gua Ardi,lo cepetan kesini,ke rumah Rianti,Mahendra mabuk!" Ardi langsung to the point.


"Kenapa kak Hendra bisa mabuk?" Tanya Elara sambil mengucek kucek matanya yang belum melek seutuhnya.


"Lo datang aja kesini,lo lihat sendiri.Nanti gua kirim alamatnya."


Elara berlari menuju kamar kedua orang tuanya dan mengetuk pintu dengan keras.


"Ibu...ayah...cepat buka pintunya!" Elara terus mengetuk pintu dan berteriak.


Pak Heriawan dan bu Widya sangat terkejut,dengan cepat mereka turun dari tempat tidur dan membuka pintu.


"Ada apa Elara?" Tanya mereka bersamaan dengan wajah penuh kecemasan.


"Ayah,ibu...kata kak Ardi,kak Hendra sedang mabuk di depan rumah kak Rianti.Ayo kita jemput kak Hendra" Elara berlari kecil menuju keluar.

__ADS_1


"Sayang pakai jaket dulu" Bu Widya memanggil suaminya yang berjalan mengikuti Elara.


"Kamu tolong bawakan,ayah keluarkan mobil dulu dari parkiran" Sahut pak Heriawan.


Mendengar suara begitu ramai,nenek jadi ikut terbangun.Dan keluar dari kamar untuk melihat ada apa gerangan.


"Widya ada apa,mau kemana kalian tengah malam begini?"


"Hendra bu,sedang bikin masalah didepan rumah orang" Bu Widya berhenti.


"Bikin masalah? Apa maksudmu Widya?" Tanya nenek penuh kebingungan,setahunya Mahendra manusia yang paling baik dimuka bumi.


"Ibu ikut aja biar tau ada apa sebenarnya,mas Heri sedang mengeluarkan mobil."


"Yasudah ibu ganti baju dulu."


"Ditunggu di mobil ya bu."


"Widya coba jelaskan apa maksudmu tadi mengatakan Mahendra bikin masalah?" Tanya nenek begitu ada didalam mobil.


"Kata kak Ardi, kak Mahendra mabuk didepan rumah Rianti" Elara yang menjawab.


"Ya Tuhan,Kenapa Hendra sampai mau menyentuh minuman keras, apalagi sampai mabuk.Apa Hendra punya masalah dengan Rianti?" Nenek begitu mengkuatirkan Mahendra.


Begitu sampai didepan rumah Rianti,mereka terkejut melihat Mahendra berteriak memanggil manggil nama Rianti.


"Rianti...mengapa kau tega memutuskan ku...mengapa kau tega menyakitiku...aku tak sanggup hidup tanpa dirimu Rianti...keluarlah!"


Ardi dan pak Heriawan memapah Mahendra masuk kedalam mobil.Dan didalam mobil Mahendra masih saja ngelantur mengulangi kata yang sama.


Rianti yang dari tadi mengintip dari balik gorden jendela merasa lega,Mahendra telah di bawa pulang oleh keluarganya.Dia tidak menyangka Mahendra sampai sehancur itu setelah dia memutuskannya.


"Mengapa kak Rianti memutuskan kak Mahendra,apa diantara mereka sedang ada masalah" Elara merasa kasihan melihat kakaknya.


"Bingung sama Mahendra,apa sih istimewanya si Rianti itu.Dia memang cantik,tapi masih banyak wanita cantik di luaran sana yang masih perawan.Ah sudah sudahlah pusing saya dibuatnya" Kata bu Widya.


"Sudahlah Widya,jangan bikin suasana tambah kacau,Nanti kita tanya saat Mahendra sudah sadar" Timpal nenek.


***


Mahendra terbangun dari tidurnya sekitar jam sepuluh pagi,setelah mabuk.Dengan terburu buru dia mandi untuk berangkat kekantor walau kepalanya agak sedikit pusing.


"Hendra,sarapan dulu baru berangkat kekantor" Kata bu Widya saat Mahendra telah rapih.


"Hendra sarapan dikantor saja bu,Hendra sudah terlambat,mengapa tidak ada yang membangunkan Hendra tadi pagi?"


"Kamu kelihatan tidur sangat nyenyak,jadi ibu tidak membagunkan.Ibu pikir kamu mungkin sangat capek" Bu Widya merasa bersyukur Mahendra tidak ingat kejadian semalam.


"Hendra berangkat dulu ya" Mahendra


mencium pipi bu Widya.


"Iya sayang hati-hati,nanti siang ibu akan kekantor untuk mengantarkan makan siang."

__ADS_1


Dikantor Mahendra mencari surat kontrak kerja sama dengan suatu perusahaan.Tapi dia tidak menemukannya.


"Ardi,dimana kontrak kerja dengan perusahaan PT.Mulia Sejahtera?"


"Oh ada pada bu Rianti pak,mungkin di simpan di laci mejanya" Ardi berjalan menuju meja Rianti.Ternyata laci mejanya dikunci.


"Lacinya dikunci pak,sebentar saya tanyakan bu Rianti" Ardi segera menghubungi ponsel Rianti.


Mahendra kembali ke ruangannya untuk menunggu.


"Pak Mahendra,bu Rianti akan mengantarkan kuncinya kesini."


"Baik pak Ardi,terimakasih" Mahendra terdiam memikirkan bagaimana cara menghadapi Rianti nanti.


Sekitar setengah jam kemudian Rianti datang,dan Ardi mengantarkan Rianti menemui Mahendra.


"Pak Mahendra maaf,kunci laci terbawa di tas saya...ini saya datang untuk mengembalikannya" Rianti berjalan mendekat dan meletakkannya diatas meja kerja Mahendra.


Mahendra menatap wajah cantik Rianti dengan sendu,wajah yang selalu dirindukannya.Wajah yang telah memporak porandakan hatinya.


Melihat Mahendra hanya diam menatapnya,Rianti beranjak meninggalkan ruangan Mahendra.


"Tunggu!" Mahendra menghentikan langkah Rianti.


Mahendra berdiri didepan Rianti yang tertunduk.


"Rianti mengaku lah bahwa kamu sebenarnya menyukai saya,dan saya tau itu."


"Pak Mahendra,saya datang kesini hanya mau mengantarkan kunci,tidak ada urusan lain,apalagi urusan pribadi dan sekarang saya harus pulang" Rianti mengangkat wajahnya menatap Mahendra.


"Kalau memang kamu tidak menyukai saya,tidak mungkin kamu mau mengantarkan kunci ini secara langsung.Kamu menyukai saya,makanya kamu datang kesini karna kamu merindukan saya,iya kan?"


"Jangan ngaco kamu,permisi saya mau lewat" Rianti mendorong tubuh Mahendra.Dengan cepat Mahendra mencekal lengan Rianti.


"Rianti,menikahlah dengan saya,saya akan bikin hidup kamu bahagia" Mahendra menatap Rianti dengan tatapan mengiba.Hati Rianti begitu bahagia mendengarkan perkataan Mahendra tapi dia harus terlihat tidak bahagia.


Rianti melepaskan tangan Mahendra dari lengannya dan berlari keluar.Mahendra menatap tubuh Rianti sampai menghilang,matanya memerah menahan airmata yang memaksa untuk keluar.


Sampai di lobi Rianti ber pas pasan dengan bu Widya yang akan mengantarkan makan siang untuk Mahendra.Rianti tiba-tiba merasa takut,ingin memutar arah tapi bu Widya terlanjur melihatnya.


"Plak!"


Begitu dekat bu Widya langsung menampar pipi Rianti dengan keras.


"Dasar wanita murahan! Mengapa kamu masih menemui anak saya ha!" Bu Widya menatap Rianti dengan mata melotot.


"Saya hanya..." Rianti memegang pipinya yang terasa perih dan panas.


"Hanya mau menggoda anak saya! Dasar tidak punya hati nurani,saya sudah suruh kamu untuk menjauhi Mahendra tapi kamu dengan sengaja datang menemui dia.Apa maksud kamu,kamu mau menantang saya!"


Rianti merasa malu karna ada beberapa petugas kebersihan melihat mereka,dengan cepat Rianti berlari keluar.


" Huh dasar janda gatel,muak sekali saya melihat wajahnya.Kalau sedang tidak dikantor akan saya cakar-cakar wajahnya" Gumam bu Widya penuh kebencian.

__ADS_1


__ADS_2