
Andika memutuskan untuk pergi ke dokter guna memeriksa kondisi tubuhnya.Mimisan yang dialaminya semakin sering hingga membuat dirinya kuatir.Tubuhnya akhir-akhir ini mudah lelah.
Andika berjalan keluar dari kamarnya,saat melewati ruang tamu,Andika melihat Siska dan ibunya sedang berdebat.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Andika berhenti dan menatap Siska dan ibunya tiba-tiba terdiam.
Siska terlihat menahan tangan ibunya yang sepertinya hendak menyampaikan sesuatu pada Andika.
Karna merasa tidak di jawab Andika melanjutkan langkahnya keluar rumah.
"Nak Andika,Siska hamil!" Teriak ibunya Siska.
Andika menghentikan langkahnya dan terdiam ditempatnya.Kemudian memutar badannya menghadap Siska dan ibunya.
"Siska hamil?!" Apa urusannya dengan saya?!" Tanya Andika ketus.
"Apa urusannya? Dia istri kamu nak Andika" Ibunya Siska merasa jengkel dengan reaksi Andika.
"Iya Siska memang istri saya,tapi apa benar anak yang dikandungnya anak saya? Bisa jadikan anak dari laki-laki yang dulu pernah mengantarnya?" Andika tidak kalah jengkel.
"Ini anakmu mas,aku tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain selain dengan mas Andika.Laki-laki yang dulu pernah mengantar aku,dia hanya menolong mengantarkan pulang.Kami bahkan tidak saling mengenal" Siska akhirnya bicara karna tersinggung dengan ucapan Andika.
"Lalu kamu pikir saya percaya,jangan naif kamu" Ejek Andika Sinis.
"Sekarang usia kandungan saya hampir memasuki tiga bulan mas,dan pria yang mengantar saya waktu itu baru beberapa hari yang lalu.Jadi sudah pasti ini anak kamu mas" Mata Siska mulai berkaca kaca.
"Bisa saja kamu berhubungan dengan banyak pria di belakang ku"Andika terus memojokkan Siska.
"Baik,kalau mas Andika tidak mau mengakui anak ini tidak apa-apa,aku bisa merawatnya sendiri.Suatu saat kau akan menyesal mas, saat mengetahui kalau ini adalah anak kandungmu!' Ancam Siska penuh emosi dan suara bergetar.
__ADS_1
"Tak akan,aku tidak akan pernah menyesal" Balas Andika.
Ibunya Siska hendak melakukan pembelaan tapi di cegah oleh Siska."Sudahlah bu,Siska bilang juga apa,percuma bicara sama mas Andika."
Tiba tiba Andika batuk,Andika menahan mulutnya dengan tangannya.Dia begitu terkejut dan syok melihat ada darah ditangannya.
"Mas Andika kenapa mas?" Siska dan ibunya sama-sama panik.
"Jangan sentuh saya!" Andika menatap tajam pada Siska saat akan menolongnya.
"Mas,kamu berdarah,aku hanya berniat membantu" Siska kelihatan begitu kuatir.
"Tidak perlu,saya bisa sendiri.Ingat! Jangan pernah tidur dikamar saya lagi!" Andika berjalan menuju wastafel untuk membersihkan darahnya.Setelah bersih dia melanjutkan niatnya untuk memeriksakan diri ke dokter.
"Siska,anak yang kamu kandung itu benar anak Andika?" Ibunya Siska mulai meragukan anaknya.
"Ya Tuhan...ibu juga berpikiran sama dengan mas Andika.Siska bukan wanita seperti itu bu" Siska merasa tersinggung dengan perkataan ibunya.
"Siska kan nggak tau kalau Siska sedang hamil bu,kalau Siska tau,Siska nggak akan minum."
"Bagaimana nasib anak yang kamu kandung kalau Andika sampai menceraikan kamu Siska?"
"Siska nggak perduli bu,biarkan saja.Siska sudah cepek menghadapi mas Andika.
***
"Bagaimana keadaan saya dokter?" Tanya Andika setelah melakukan serangkaian test.
"Saya tidak akan menutup nutupi keadaan pak Andika karna ini keadaannya sudah urgent" Dokter yang memeriksa Andika menarik nafas panjang sebelum memberi tahu penyakit yang dialami pasiennya.
__ADS_1
"Pak Andika mengalami penyakit Hepatosirosis stadium akhir" Andika terkejut mendengar diagnosis sang dokter.
"Hepatosirosis?" Andika terdiam,wajahnya memucat.
"Anda juga mengalami Melena,itu terlihat dari mimisan yang sering pak Andika alami akhir-akhir ini.Darah itu akibat ada perdarahan yang terjadi disaluran pernafasan bagian atas pak Andika" Sambung pak dokter.
"Apakah sudah separah itu dokter dan apa yang harus saya lakukan?" Tanya Andika dengan suara terdengar bergetar.
"Mengapa pak Andika baru memeriksakan diri sekarang?" Pak dokter belik bertanya.
"Saya kira mimisan dan sakit perut yang sering saya alami hal biasa,saya pikir akan sembuh dengan sendirinya."
"Karna sudah stadium akhir,pak Andika harus melakukan pencangkokan liver sesegera mungkin.Diperkirakan anda hanya akan bisa bertahan hidup enam bulan lagi."
Perkataan dokter membuat Andika agak lama,merasa syok dan tidak percaya atas penyakit yang dideritanya.
"Baik pak Andika,anda harus menghubungi dan berunding dengan keluarga atau orang terdekat anda.Jangan sampai terlambat" Suara dokter menyadarkan Andika dari diamnya.
Andika bejalan keluar dari rumah sakit dengan langkah gontai.Pandangannya serasa jauh dan kosong.Dia memutuskan untuk pulang kerumah kedua orang tuanya.
Sesampainya di rumah Andika langsung memeluk bu Halimah dan menumpahkan tangis yang dari tadi dia tahan.
"Dika,kenapa kamu sampai tidak tahu kalau kamu sedang sakit?' Bu Halimah menangis dan memeluk tubuh Andika setelah Andika menceritakan penyakit yang dialaminya.
"Andika juga tidak mengira,Andika bisa mengalami sakit separah ini.Ma tolong Andika ma.. Andika akan meninggal ma...Andika nggak mau meninggal ma...Andika masih mau hidup"Andika menumpahkan kesedihan hatinya di pelukan mamanya.
"Andika,kamu nggak akan meninggal sayang.Kamu akan sehat kembali dan hidup lebih lama" Bu Halimah menciumi wajah Andika.
"Allah mengasih cobaan seperti penyakit yang kamu alami,ada tujuannya.Agar kamu tobat dari semua dosa-dosa yang kamu lakukan.Terutama terhadap Rianti sewaktu dia menjadi istri kamu.Agar kamu lebih dekat pada sang pencipta" Pak Arman turut memeluk Andika,dadanya terasa sesak mengetahui putra satu-satunya bisa mendapatkan penyakit yang serius.
__ADS_1
"Pa,kita harus mencari orang yang mau mendonorkan livernya untuk Andika.Kalau sampai kita tidak mendapatkan donor liver yang cocok secepatnya,mama bersedia memberikan liver mama untuk Andika" Bu Halimah memandang suaminya penuh pengharapan dengan air mata masih bercucuran.
"Iya sayang,mama tenang saja,kita akan menemukan pendonor itu secepatnya.Papa akan minta bantuan teman-teman papa dan seluruh rumah sakit di Jakarta" Pak Arman bergerak cepat menelepon semua teman-teman dan kerabat yang bisa membantu.